Rie

Rie
Di Lantai khusus para dokter.



Pintu Lift terdengar berbunyi kencang. Tanda pintu itu terbuka lebar. Walau tidak membuat pendengaran menjadi terganggu, tapi tetap saja menjadi perhatian orang yang ada di lantai paling atas hospital tempat rie bekerja.


Rie melangkahkan kaki nya untuk keluar dari lift khusus para dokter yang juga bekerja seperti dirinya di hospital tersebut. Beberapa orang yang ada di lantai atas itu sekilas menatap rie. Seperti heran. Karena tidak biasanya ada tenaga kesehatan yang bukan seorang dokter bisa sampai di lantai atas ini.


Seorang pria berambut blonde dan memakai kemeja putih seperti dokter berjalan melangkah menghampiri rie. Sengaja memberhentikan langkah rie yang melangkah perlahan. Seketika rie pun menghentikan langkahnya. Berdiri tepat di depan pria berambut blonde itu.


"Nona, ada yang bisa saya bantu? Kenapa nona bisa sampai di lantai paling atas di hospital ini? Dan seragam yang nona pakai menandakan bahwa nona juga bekerja di hospital ini. Bukankah nona seorang bidan?" Tanya pria berambut blonde itu.


"Oh, maaf. Benar, saya juga bekerja sebagai seorang bidan di hospital ini. Dokter?" Tanya rie.


Pria berambut blonde itu tersenyum kepada rie. "Iya. Benar. Saya seorang dokter spesialis jantung. dokter moza." Pria berambut blonde itu memperkenalkan dirinya kepada rie. Sambil memberikan telapak tangan kanannya untuk menjabat telapak tangan rie. Tapi ketika rie ingin menjabat telapak tangan kanan dokter moza sang pria berambut blonde tersebut, terdengar suara teriakan dokter zoey dari depan pintu ruang pribadinya.


" Rie! Kau sangat terlambat" Teriak dokter zoey kencang. Kemudian, dokter zoey melangkahkan kakinya cepat ke arah dokter moza dan rie berada. Sekitar sepuluh langkah dari depan ruang pribadi khusus milik dokter zoey.


Dokter zoey menghentikan langkahnya tepat di hadapan rie dan dokter moza. Lalu dokter zoey menarik tangan rie pelan. Menyembunyikan rie di belakang tubuhnya. Berhadapan sejajar dengan dokter moza. Menatap dokter moza dengan tatapan tajam.


Dokter moza melihat ekspresi wajah dokter zoey. Terlihat mimik muka kesal dari dokter zoey terhadap dirinya. Dan dokter moza kemudian tersenyum tipis. Seperti paham isi hati dan kepala seorang dokter zoey yang terkenal dingin.


Dokter moza memasukkan kedua tangannya ke saku celana kain nya. Menunjukkan sikap seriusnya. Lalu tersenyum simpul kepada dokter zoey.


"Kau ini kenapa zoey? Jangan salah menafsirkan yang sedang kau lihat di hadapanmu." Ujar dokter moza pelan kepada dokter zoey. Dokter moza yang juga memakai kaca mata di indera penglihatan nya, mulai melepaskan kaca matanya.


"Aku hanya ingin bertanya kepada nona ini. Ada tujuan apa ke lantai khusus para dokter ini. Mana tahu nanti nona ini bisa aku bantu dan mempermudah maksud tujuannya untuk ke lantai kita ini kan?" Ujarnya sedikit ambigu dan menyindir dokter zoey. Dokter moza terus menatap dokter zoey. Lalu ia tersenyum sinis.


Dokter zoey makin menatap wajah dokter moza dengan tajam. Walau dokter moza tetap menatapnya seperti sedang mengejek dokter zoey. "Lain kali, kau tidak perlu melakukan apa pun moza". Dokter zoey makin mempertegas perkataan nya.


Dokter zoey, menangkap telapak tangan kanan rie. Menggenggamnya erat, lalu menariknya dengan cepat. Menggiring rie menuju ruang pribadinya. Rie membelalakan matanya, terkejut melihat sikap dokter zoey, yang dengan sangat jelas menggenggam dan menarik telapak tangannya.


Dokter zoey dan rie, melangkah menuju ruang pribadi milik dokter zoey. Meninggalkan dokter moza sendiri, tanpa melihat lagi ke arah dokter moza. Memasuki ruang pribadi dokter zoey dan menutup pintu dengan sedikit kencang.


Lagi. Dokter moza tersenyum sinis. Melihatkan ekspresi wajah yang sangat tidak menyenangkan.