Rie

Rie
Melihat Anakku



Sepi. Tampak terlihat di ruang kamar VVIP khusus perawatan untuk dokter bara yang sedang terbaring koma, terasa suasana yang begitu sepi.


Ruang yang luas, dengan korden yang terlihat sangat elegan. Warna emas. Warna yang sangat disukai oleh dokter bara dan dokter zoey.


Dokter bara terlihat masih terbaring di atas tempat tidur. Dilengkapi dengan alat alat medis yang masih menempel pada tubuh dokter bara.


Pintu khusus kamar ruang rawat dokter bara, otomatis terbuka dengan sendirinya. Tampak seorang perawat, tengah mengantar dua orang pria tua yang mulai memasuki ruang rawat dokter bara. Perawat itu hanya mengantar sampai didepan pintu masuk ruang rawat dari dokter bara.


"Cukup. Kau boleh meninggalkan kami." Ucap ayah dokter bara dan dokter zoey.


Perawat yang mengantar dua pria itu mengangguk tanda mengerti perintah dari ayah dokter bara dan dokter zoey. Kemudian pintu kamar ruang rawat VVIP yang ditempati oleh tubuh dokter bara, tertutup otomatis kembali.


Ayah dari dokter bara dan dokter zoey, perlahan berjalan mendekati tempat tidur dimana anaknya sedang terbaring koma. Dan ayah dari rie, mengikuti langkah dari sahabat baiknya untuk ikut melihat dokter bara yang belum sadar dari komanya.


Dua pria tua itu, menghentikan langkahnya tepat disamping tempat tidur bara. Mereka dengan sendu terus menatap ke arah tubuh dokter bara yang sedang terbaring.


Tampak, pelupuk mata mereka terlihat berkaca kaca. Seakan akan, air mata itu tidak dapat terbendung lagi. Serasa ingin pecah membasahi pipi kedua pria tua itu yang sudah mulai keriput.


Ayah dari dokter bara dan dokter zoey, perlahan menarik nafas dalam. Kemudian menghembuskannya perlahan. Sahabatnya, ayah dari rie, langsung melihat ke arah sahabat baiknya, ayah dari dokter bara dan dokter zoey.


"Hey son. Kau sedang apa saat ini. Ayah datang untuk menjenguk kau nak. Jangan tidur terus, Ayah berharap kau cepat sadar. Tidakkah kau rindu pada ayah?" Keluh ayah dari dokter bara dan dokter zoey kepada dokter bara yang seperti tertidur dengan lelap.


Ayah dari rie mengusap ngusapkan tangan kanannya ke punggung sahabatnya. Berharap sahabatnya tidak terlalu larut dalam kesedihannya.


Tidak ada respon dari tubuh dokter bara. Terlihat, ayah dari dokter bara dan dokter zoey yang memiliki kecemasan yang sudah tidak bisa ditahannya lagi.


"Hey sahabat ku. Sudah. Kau jangan terlalu sedih. Aku faham dengan perasaan yang kau rasakan saat ini. Karena aku juga merasakan hal yang sama." Ujar ayah dari rie.


Ayah dari dokter bara dan dokter zoey hanya mengangguk. Tapi tidak sepatah katapun terucap dari lidahnya. Mungkin karena dia merasakan beban dan dada yang terasa sesak karena salah satu dari anaknya yang sedang mengalami koma akibat dari kecelakaan pada beberapa waktu lalu.


"Sudah cukup kita menjenguk bara sahabatku. Kita tidak boleh terlalu lama disini. Tetap kita harus selalu do'akan agar bara cepat sadar dari komanya" Jelas ayah dari rie kepada sahabat kesayangannya.


Ayah dari dokter bara dan dokter zoey menggangguk lagi


Tapi, tatapannya masih melihat ke arah anaknya yang terbaring, dokter bara.


Dua pria tua itu kemudian kembali berjalan ke arah pintu. Untuk keluar dari ruang rawat VVIP dokter bara yang sedang diberikan perawatan khusus.


Ruh dokter bara, telah hadir di bawah kaki tubuhnya. Berdiri


Menatap ke arah ayahnya dengan tatapan yang sangat sedih.


Pintu masuk ruang rawat VVIP dokter bara tertutup otomatis, ketika dua pria tua itu perlahan hilang. Melangkah keluar dari ruang rawat itu.