Rie

Rie
Penjelasan Shane Kepada Leah



Matahari semakin menampakkan dirinya. Sinar yang semakin terik mulai menjalar di seluruh cakrawala. Panas yang terasa dari teriknya sinar matahari bisa seperti membuat kulit terasa terbakar.


Hospital tempat dokter zoey meraup pundi - pundi, kali ini terlihat semakin ramai. Hiruk pikuk dan lalu lalang orang - orang yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan makin kian tertangkap oleh netra seluruh tenaga medis yang bekerja di hospital ini.


Di salah satu lorong hospital. Tepat di depan ruang kamar perawatan khusus untuk shakira, terlihat sosok leah monica ramsley. Ibu dari gadis kecil yang tengah terbaring koma di dalam ruang perawatan khusus untuk shakira.


Saat ini leah bisa merasa agak lega. Karena baru saja tadi dokter memanggilnya dan memberikan sedikit kabar yang membuat hatinya bisa tenang. Ada kebahagian terpancar dari sinar wajahnya. Saat ia mengetahui bahwa puterinya sudah dalam kondisi yang mulai membaik. Keadaan yang selalu tiba - tiba kritis sudah tidak lagi menghampiri anak dari leah. Sang dokter mengatakan akan ada kemungkinan besar untuk shakira bisa cepat siuman dari komanya. Tentu saja membuat leah sang ibu dari shakira sangat bahagia. Harapan leah untuk bisa bercengkrama lagi dengan shakira di hari - hari kedepannya akan segera terlaksana jika puterinya telah sadar. Tidak sabar leah ingin cepat hari dimana shakira bisa membuka kedua kelopak matanya. Kalau ia mampu, ingin rasanya ia mempercepat putaran waktu ke masa depan.


Leah tengah duduk di kursi panjang ruang tunggu. Meninggalkan shakira sebentar. Rasa penat mulai menjalar ditiap sendi - sendi tubuhnya.


Shane dan monita melangkahkan kakinya ke arah koridor. Tidak tertangkap oleh indera penglihatan mereka sosok puteri pertamanya yang biasanya berdiri di depan ruang perawatan cucu mereka.


Shane dan monita berjalan menuju ruang tunggu. Mereka tahu jika puteri mereka tidak ada di koridor itu artinya puteri mereka leah biasanya berada di ruang tunggu.


Mata shane dan monita menemukan sosok puteri pertama mereka. Terlihat leah sedang duduk dan bersandar pada punggung kursi ruang tunggu.


Shane dan monita saling pandang. Seperti memberikan sebuah kode dengan anggukkan untuk mulai mendekati puteri pertama mereka.


"Leah." Panggil shane akhirnya membuka suara.


Mata leah langsung mencari sumber suara yang telah memanggil namanya.


"Daddie? Mama?". Kata leah.


Leah ingin berdiri. Tapi shane memberikan isyarat untuk tetap duduk lewat lambaian tangannya dari jari telunjuknya.


Shane dan monita langsung menjatuhkan bokong mereka ke atas kursi ruang tunggu. Duduk di samping leah. Mengapit tubuh puterinya. Di sebelah kanan dan sebelah kiri tubuh leah.


Shane menghela nafas panjang. Rasa lelah yang kian membuat tubuhnya semakin rapuh tidak bisa ia bendung lagi. Lelah karena menghadapi beberapa persoalan hidup atas ulahnya sendiri. Mengikuti kemauan isterinya hingga berujung seperti ini. Masalah yang masih belum selesai. Masih menggantung di awang - awang. Yang menurut pemikiran shane sangat fatal untuk hidupnya dan keluarganya. Dan masalah ini lah yang hendak ia sampaikan pada puteri pertamanya. Leah monica ramsley. Ingin memberitahukan kepada puterinya.


"Dad, kemana saja? Beberapa hari ini daddie dan mama menghilang dari pandangan leah. Kenapa tidak datang ke sini? Apa daddie sedang ada urusan pekerjaan?". Tanya leah kepada shane.


Shane menatap sendu puterinya. Berat rasanya ia ingin menjelaskan sesuatu yang ia maksud kepada puterinya. Tapi kali ini ia sudah tidak bisa menutupinya lagi. Kali ini ia ingin puteri pertamanya tahu tentang kenyataan yang sebenarnya. Yang shane harapkan leah bisa menerimanya. Menerima kenyataan yang akan di katakan oleh shane.


"Tidak. Daddie tidak ada urusan pekerjaan di Negara ini. Maksud daddie di Kota ini." Ucap shane.


Leah mengerenyitkan keningnya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah monita. Monita terlihat diam, dan menatap datar kepada puterinya.


"Leah, ada yang ingin daddie sampaikan kepadamu. Suatu hal yang sangat penting." Kata shane.


Ada getaran suara seperti ingin menangis dari intonasi suara shane. Sepertinya ia tidak sanggup untuk menjelaskan kepada leah.


Leah menatap ayahnya.


"Apa yang ingin daddie katakan kepadaku?". Tanya leah.


"Tentu saja aku ingat dad. Tapi adikku saat itu sudah meninggal. Mama memberitahuku waktu itu. Padahal aku baru dua kali melihatnya saat itu. Memangnya ada apa daddie mulai mengingatkan aku kepada adikku?". Terang leah mengingat masa lalunya.


Shane menggelengkan kepalanya.


"Leah, daddie harap kau jangan terkejut. Daddie akan mengatakan padamu yang sebenarnya." Ujar shane.


Kembali, shane menghela nafas panjang.


"Sebenarnya adikmu tidak meninggal. Dia masih hidup." Ungkap shane akhirnya.


Leah seketika membeku. Mulutnya terkunci rapat. Tetap saja ia merasa terkejut. Mendengar ungkapan kenyataan yang sebenarnya dari sang ayah tentang adik kandungnya. Adik perempuannya.


Fikiran leah mulai melayang - layang. Seperti ada beban berat yang menimpa kepalanya. Seperti batu besar yang jatuh dari tebing dan menimpa tubuhnya.


Leah secara reflek menatap ibunya tajam. Seperti ada kemarahan yang selama ini ia tahan. Yang ia bendung dan belum muncul ke permukaan. Belum meledak dan pecah berserakan.


"Mama. Kenapa mama mengatakan adikku sudah meninggal? Bisa mama jelaskan padaku?" Tanya leah menyudutkan monita.


Monita tetap tidak bergeming. Ia tidak berusaha menjawab pertanyaan puteri pertamanya. Tidak berusaha untuk meredam amarah puterinya. Dan tidak berusaha untuk menenangkan puterinya, yang sepertinya tidak bisa menerima kenyataan yang ada.


Terlihat di wajah monita, tidak ada gurat penyesalan dan kesalahan yang terlukis dari air mukanya. Monita tetap terlihat biasa saja dan tetap tenang.


Leah menghela nafasnya panjang.


"Dad, kenapa waktu itu tidak menyangkal mama? Kenapa daddie membiarkan mama mengatakan kebohongan padaku? Ada apa sebenarnya?" Leah merongrong shane.


Shane mengusap punggung leah. Maksudnya ingin menenangkan puteri pertamanya terlebih dahulu.


"Daddie yang salah leah. Seharusnya daddie bisa melindungi adikmu." Ungkap shane lagi.


Tampak shane ingin melindungi isterinya. Ia tidak ingin puterinya menyalahkan isterinya. Shane terlihat menutupi kesalahan isterinya. Shane tidak ingin leah menjadi benci kepada isterinya. Ibu kandung leah.


"Aku sangat hafal tabiat mama. Aku hafal dad. Kumohon, daddie jangan menutupi kelakuan mama di hadapanku." Pinta leah.


Monita masih tetap diam. Tidak ada rasa ingin mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Ia hanya menyaksikan percakapan antara suaminya dan puterinya.


"Baiklah nak. Daddie akan mengatakan yang sebenarnya. Monita, maaf kalau aku membuka kejadian yang sebenarnya pada leah. Puteri kita." Ujar shane kemudian.


Monita tersenyum kecut. Lidahnya terasa kelu. Masih terkunci mulutnya untuk mengeluarkan suara.


"Sebenarnya ibumu tidak ingin mengurus adikmu. Karena adikmu memiliki kelainan pada salah satu organ tubuhnya. Sehingga daddie terpaksa meminta pamanmu untuk merawat adikmu. Dan ibumu takut jika publik mengetahuinya." Terang shane.


"Apa?". Leah tersentak.