
Rie kini tengah duduk di sebuah kursi yang ada di dalam kamar yang tengah ia tempati. Kamar yang di berikan oleh dokter zoey untuk rie.
Sambil menatap ke luar. Melalui kaca jendela kamar. Melihat langit yang semakin hitam. Kelam. Yang masih saja diselimuti oleh air mata dari awan hitam. Membasahi cakrawala. Melembabkan tiap ruang yang ada. Hingga terasa menusuk hingga ke sela sela rongga tulang manusia. Terasa sangat dingin dan membuat ngilu.
Rie memakai gaun hitam bermotif bunga bunga kecil. Ditambah lagi sweater hangat yang melekat di tubuhnya. Tidak terlalu membentuk lekuk tubuhnya. Tampak sedikit longgar.
'Langit terlihat begitu sendu. Tidak ada bintang dan bulan menemaninya. Hanya rinai air mata yang mewarnainya. Sama seperti gambaran hatiku saat ini.' Celetuk rie pada dirinya sendiri.
Pintu kamar rie seketika terbuka lebar. Menampakkan sosok dokter zoey yang sangat tampan dan rupawan. Berdiri tegak menatap ke arah rie yang sedang duduk di kursi. Menikmati pemandangan langit malam ini.
Pandangan rie seketika memutar kearah pintu kamarnya yang tengah terbuka. Menangkap sosok dokter zoey yang sedang menatapnya. Saling beradu tatapan antara rie dan dokter zoey.
Dokter zoey kemudian melangkah masuk ke dalam kamar rie. Dengan keadaan pintu yang tetap masih terbuka lebar. Berjalan menuju ke arah rie. Membuat rie sedikit panik dan menjadi kikuk.
Rie secara spontan terlukis eskpresi raut muka yang tegang. Khawatir dan cemas mulai menghiasi hatinya.
Dokter zoey mulai berhenti melangkah. Berdiri di hadapan tubuh rie yang sedang duduk di kursi. Mulai membungkuk kan tubuhnya. Menatap lekat wajah rie. Tersenyum tipis.
"Kau lihat apa di luar?" Tanya dokter zoey kepada rie. Semakin lekat menatap rie. Menggoda rie dengan bahasa tubuhnya. Dengan tatapannya.
"Tidak ada." Jawabnya cepat. Panik masih tergambar di raut wajah milik rie.
Dokter zoey, kembali memberikan senyuman tipis. Makin mendekatkan wajahnya ke wajah rie. Memiringkan kepalanya, hendak mencium bibir tipis milik rie yang terlihat menggoda.
Dengan cepat rie meletakkan jari telunjuk kanannya ke bibir dokter zoey. Tanda penolakan secara langsung oleh dirinya.
Dokter zoey menyingkirkan jari rie. Lalu dengan cepat mengecup bibir milik rie. Mengecupnya dengan lembut.
Rie kembali terkejut. Terdiam. Mengutuk dokter zoey dalam hatinya.
'Dokter zoey, kau sangat tidak sopan' Kutuk rie dalam hati nya. Dengan raut wajah kesal dan ekspresi cemberut.
"Jangan mengataiku di dalam hatimu." Kata dokter zoey kepada rie.
Rie terdiam, terlintas fikiran sesaat di benaknya.
'Bagaimana dokter zoey bisa mengetahui apa yang ada didalam hatiku? Dasar pria aneh' Gumamnya.
"Dokter zoey. Sudah pernah aku katakan kepadamu. Jangan memperlakukan ku dengan tidak sopan. Tiga kali kau telah melakukannya kepada diriku. Ini tidak benar dokter zoey" Protes rie kepada dokter zoey tegas.
Dokter zoey memperbaiki posisi tubuhnya. Dari membungkuk kemudian berdiri tegak. Masih tetap berdiri di hadapan tubuh rie yang masih duduk di atas kursi.
"Kenapa?" Sambut rie spontan.
Dokter zoey tersenyum sinis. Kembali menatap wajah rie.
"Kau milikku." Ujarnya penuh penekanan.
"Tidak. Kau tidak bisa seenaknya saja dokter zoey. Membuat keputusan sepihak sekehendak hatimu." Balas rie makin tegas.
"Oh, begitu menurutmu rupanya. Terlalu pendek kau memiliki nalar" Ejek dokter zoey dengan intonasi seperti mengintimidasi.
Sikap tempramental rie kini mulai terpancing. Terpancing karena kelakuan dokter zoey terhadapnya. Yang menurut rie sangat tidak sopan dan tidak memiliki etika yang normal.
"Apa maksudmu dokter zoey?" Tanya rie serius.
Dokter zoey menghembuskan nafasnya perlahan. Ingin melontarkan banyak kata yang telah penuh sesak di dalam hatinya. Perkataan yang ditujukan hanya untuk rie.
"Aku sudah merasa lapar. Sebaiknya kita makan dahulu. Baru nanti aku akan menjelaskan kepadamu yang memiliki nalar pendek ini." Dokter zoey terkekeh.
"Kau..." Kata rie terputus.
"Tapi, aku ingin nanti kau yang terlebih dahulu menjelaskan, hal yang kau simpan. Alasanmu yang aku ingin tahu. Walau aku sudah tahu kenyataan yang sebenarnya." Tekan dokter zoey lagi sambil menatap rie sinis.
Rie terkejut mendengar perkataan dokter zoey yang meluncur dari lidah dokter zoey. Merasa bingung. Tidak mengerti dengan maksud perkataan dari dokter zoey untuk dirinya.
'Apa ini? Apa dia gila? Apa maksud dari perkataannya kepadaku? Apa seperti ini wataknya' Fikir rie dalam benaknya.
Banyak pertanyaan yang hadir dalam fikiran dan hati rie.
Dokter zoey menyentuh lembut telapak tangan kanan rie dengan telapak kanan tangannya. Mulai menggenggam telapak tangan rie. Menariknya perlahan.
"Ayo ikuti aku. Kita akan makan malam" Ajak dokter zoey lembut kepada rie.
"Iya" Jawab rie.
Mulai terlintas kembali di benak rie, tentang sikap dokter zoey yang berubah ubah. Dari ketus menjadi lembut. Terasa baginya, sangat aneh.
Tapi rie kembali menurut dengan perkataan dokter zoey.
Rie secara natural mulai berdiri. Mengikuti langkah dokter zoey yang sambil menggenggam telapak tangannya. Melangkah berjalan keluar dari kamarnya. Menuju ke arah ruang makan.