Rie

Rie
Tertangkap



Dengan cekatan rie telah selesai mengganti bajunya dengan baju khusus steril dan perlengkapannya. Rie masih berdiri di hadapan wanita cantik itu. kemudian ia mengangguk. Lalu Rie dan perawat cantik yang bernama Mia perlahan mulai berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke ruang rawat khusus untuk dokter bara yang masih koma.


Mereka telah sampai di ujung lorong. Tepat di depan ruang VVIP di sebelah kanan. Rie sejenak menatap ke arah perawat mia.


"Maaf Bu bidan, aku tidak bisa mengikuti kau untuk masuk ke ruang dokter bara yang sedang di rawat sekarang. Kau masuk saja sendirian. Aku akan buka kan pintu ini untuk kau bu bidan." Perawat Mia menjelaskan. Rie mengangguk pelan.


"Tapi, aku hanya ingin menyampaikan pesan. Jangan lama lama kau di dalam. Aku kembali ke ruang perawat di tempat tadi." Pesan perawat mia kepada rie. "Baiklah mia" Jawab rie menyetujui perkataan perawat Mia.


Perawat mia, mengusap kan jempolnya pada layar kecil di sebelah pintu masuk ke ruang dokter bara yang sedang di rawat. Dan pintu ruangan itu pun terbuka otomatis. Rie melangkahkan kaki nya perlahan masuk ke dalam ruang rawat inap itu. Ia berhenti sebentar. Melihat ke arah dokter bara yang sedang terbaring di atas tempat tidur dengan di lengkapi alat alat medis yang menempel di tubuhnya. Serta Oksigen yang sedang bertengger di dekat bagian indera penciuman dokter bara.


Rie terdiam kaku. Terenyuh melihat keadaan dokter bara yang ada di depannya. Rie pun perlahan mulai melangkah maju. Mendekati tubuh dokter bara yang sedang koma. Terbaring lemas di tempat tidur itu. Dan rie berhenti tepat di samping tubuh dokter bara.


Lekat lekat rie terus menatap dokter bara. Hatinya terasa sakit melihatnya. Mata rie mulai berkaca kaca. Seakan bendungan yang ada di pelupuk matanya hendak pecah dan membanjiri pipi mulusnya.


"Kau, kenapa bisa koma? Aku merasa terluka melihat keadaanmu begini. Padahal kau tidak pernah mengenalku, apa lagi dekat denganmu. Tapi aku tau kau. Hanya tau." Perkataan rie meluncur begitu saja dari Lidah lantisnya. Rie menghembuskan nafasnya pelan, yang tertutup oleh masker.


"Kau tahu tidak? Kenapa ruh-mu terus saja muncul di hadapanku. Ada apa denganku? Kita tidak saling kenal apa lagi dekat. Dan artinya aku tidak pernah membuatmu terluka kan?" Ucap rie terus. Rie memiringkan kepalanya.


"Kenapa aku berkata begitu? Astaga. Maaf kan aku." ucap rie lirih.


Rie masih saja terus menatap tubuh dokter bara. Terlihat ada sedikit reaksi yang muncul dari tubuh dokter bara. Jemari dokter bara sedikit bergerak. Sejenak rie tersentak, terkejut melihat dokter bara. Tiba tiba pintu ruangan dokter bara terbuka. Terlihat sosok dokter tampan muncul di belakang rie. Dokter tampan itu masuk melangkah ke ruang dokter bara.


"Apa yang kau lakukan disini bidan rie?" Tanya dokter tampan itu sedikit sinis.


Rie sedikit terkejut mendengarnya. Lalu ia dengan cepat menghadapkan dirinya ke hadapan dokter tampan itu.


"Maaf, anda mengenalku? Padahal aku memakai perlengkapan tertutup seperti ini." Kata rie pada dokter tampan itu.


" Tentu saja bidan rie. Aku ini dokter Zoey. Dan dokter bara adalah pasien khusus yang aku tangani. Jadi seandainya ada apa apa nanti pada dokter bara, maka aku nanti yang akan disalahkan." Jelas dokter Zoey.


"Dok.. dokter Zoey?. Oh maafkan aku dokter. Aku tidak bisa mengenalimu" Pinta rie sedikit terbata. Dokter zoey hanya diam saja.


"Aku hanya ingin menjenguk dokter bara." Rie mencoba menjelaskan maksud kedatangannya.


"Sebaiknya kau ikut aku sekarang ke ruangan ku!" Perintah dokter zoey sedikit tegas.


Dokter zoey melangkah kan kakinya keluar dari pintu ruang rawat dokter bara. Rie membalikan tubuhnya sekejap melihat dokter bara. Kemudian dia dengan cepat mengikuti dokter zoey di depannya. Pintu ruang rawat dokter bara seketika tertutup rapat. Tampak ruh dokter bara muncul di ruangan tubuhnya yang sedang di rawat. Ruh dokter bara, berdiri di dekat tirai jendela kamar VVIP itu. Menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat. Dengan tatapannya yang sendu.