
Alan monte, tengah berdiri di dekat jendela dapur rumahnya. Tepat di samping kaca jendela dapur rumahnya.
Yuki mateo sedang menuang racikan kopi khas dari tangan miliknya. Dengan memakai alat khusus untuk membuat kopi. Kemudian mengangkat dua gelas kecil kopi yang telah dibuatnya. Ia berjalan ke arah alan, lalu memberikan satu cangkir kopi untuk alan.
Alan Langsung mengambil gelas yang berisi kopi dari tangan yuki.
"Terimakasih sahabatku." Ucapnya lembut sambil tersenyum.
Yuki menggangguk mengiyakan ucapan dari alan sahabatnya.
Mereka menyesap sedikit demi sedikit kopi hangat.
"Yuki. Aku sedang terfikir sesuatu." Ucap alan.
Yuki mateo mengernyitkan keningnya.
"Apa yang sedang kau fikirkan alan?" Tanya yuki.
Yuki kembali menyesap kopi buatan tangannya. Merasakan kenikmatan yang tidak bisa di gambarkan menurutnya.
"Tentang anakku rie dan anakmu zoey." Lanjut alan.
"Oh alan. Aku fikir kau sedang memikirkan hal apa." Celetuk terkekeh.
"Menurutmu apa bisa zoey memberitahu rie tentang perihal sebenarnya? Aku sedikit khawatir. Karena aku sangat tahu watak anakku rie." Celoteh alan cemas.
Yuki menghela nafasnya panjang. Kemudian Yuki meletakkan cangkir kopi miliknya ke atas meja. Lalu ia mengusap-usap bahu alan perlahan.
"Sahabatku alan. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Walau zoey memiliki sikap yang dingin pada semua orang, anakku itu sebenarnya sangat baik. Punya jiwa yang hangat dan penyayang. Aku tahu anakku. Dia tidak akan melukai anakmu. Tenang saja." Jelas Yuki panjang lebar.
Yuki menurunkan telapak tangannya yang mengusap-usap bahu milik alan.
Alan memutar kepalanya. Memandang ke arah yuki sahabatnya.
"Kau yakin yuki?" Tanya alan sedikit ragu pada sahabatnya yuki mateo.
Yuki mengganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
"Terimakasih yuki. Kau sudah menenangkanku." Kata alan pada yuki.
Yuki terkekeh mendengar ucapan dari sahabatnya alan.
"Bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah anakku zoey. Aku ingin melihat mereka berdua." Ajak yuki.
Alan mengambil handphone miliknya dari saku celana yang sedang di pakainya. Melihat ke layar handphone android miliknya.
"Mika?" Tanya alan pada dirinya sendiri.
Alan menggeser layar handphone android miliknya. Lalu mengarahkannya ke telinga kanannya.
"Hello selamat pagi." Sapa alan pada mika.
"Hello, selamat pagi paman. Ini mika paman. Maaf mengganggu waktu paman di pagi hari seperti ini." Ucap mika pada alan.
" Oh iya nak mika. Tidak apa-apa nak. Ada apa nak?" Tanya alan kepada mika sahabat anaknya rie.
"Maaf paman. Mika hanya ingin bertanya paman." Jawab mika pada alan.
"Apa yang ingin kau tanyakan pada pamanmu nak mika?" Tanya alan lagi.
"Ini perihal tentang rie paman." Kata mika pada alan.
"Memangnya ada apa dengan putri paman nak?." Alan bertanya lagi kepada mika.
"Bagaimana mika mengatakannya ya paman. Mika harap paman tidak terkejut." Ucap mika lagi.
"Ya nak mika. Katakan saja pada paman." Ujar alan.
"Paman, rie sudah tiga hari ini menghilang dari hospital. Rie juga tidak ada di mess hospital paman. Mika..." Jelas mika terputus.
"Tenang saja mika. Rie tidak apa-apa. Putri paman baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir nak mika. Paman sudah tahu." Potong alan pada penjelasan mika.
"Yang benar paman?." Tanya mika ragu.
"Iya nak. Kau serahkan saja pada paman." Sambung alan.
"Baiklah paman. Mika sudah sedikit tenang sekarang. Kalau begitu mika putuskan panggilan ini paman." Kata mika pada alan.
"Iya nak mika." Jawab alan.
Sambungan telepon antara mika dan alan pun terputus.
"Alan. Kita berangkat sekarang ke rumah zoey anakku?" Tanya yuki.
"Ayo sahabatku." Ajak alan langsung.