Rie

Rie
Kekesalan Nada Kepada Mika



Nada menepuk keningnya dengan telapak tangan kanannya. Memperlihatkan Ekspresi bahasa tubuh karena reaksi dari sahabatnya mika. Nada sedikit bingung dibuatnya. Ia tak percaya, kalau sahabatnya mika ini memiliki sifat yang sangat cuek.


Bagaimana mungkin seorang mika tidak mengenal dokter moza?


Pria yang memiliki rambut berwarna blonde. Dengan perawakan yang sangat tampan. Hidungnya yang mancung. Kulitnya yang putih. Dan tinggi badannya yang sekitar 186 cm.


Dokter moza adalah dokter yang memiliki darah blasteran. Indonesia - Belanda. Darah Asia dan Eropa yang mengalir dalam tubuhnya. Ayahnya yang asli Belanda dan ibu nya seorang pribumi Indonesia.


Dokter moza adalah orang nomor tiga yang terkenal di hospital tempat mika dan nada meraup pundi - pundi rezeki. Tentunya setelah dokter zoey dan dokter bara yang sedang koma saat ini.


Dokter moza juga seorang dokter Spesialis Jantung di urutan pertama di hospital ini.


Banyak para dokter berjenis kelamin wanita dan para perawat wanita yang menjadi tenaga kesehatan di hospital ini jatuh hati pada dokter moza. Termasuk nada. Yang juga jatuh hati pada pesona dokter moza.


Tapi, dokter moza tidak menggubris para wanita yang sangat menyukai dirinya. Para wanita yang jatuh hati pada dirinya. Para wanita yang berharap menjadi pendamping dokter moza.


Sifat dan watak dokter moza yang tidak jauh dengan watak serta sifat yang dimiliki oleh dokter zoey. Kepribadian yang dingin. Tapi, orang - orang di sekeliling mereka tidak mengetahui bahwa sebenarnya, dokter moza dan dokter zoey adalah pria yang hangat dan baik hati.


Dokter moza yang berbeda dengan dokter bara. Dokter moza yang tidak memberikan senyuman kepada publik. Kepada orang - orang yang ada di lingkungannya. Yang ada di sekitarnya.


Mika masih menatap nada dengan intens. Dengan ekspresi penuh tanda tanya. Seperti seorang wanita yang memiliki keterlambatan berfikir. Apa efek dari ia di sengat oleh tawon kemarin? Entahlah.


Yang jelas, mika adalah seorang gadis yang cantik dan imut. Sama dengan rie sahabatnya. Sementara nada memiliki paras yang sangat manis. Sehingga orang - orang yang mengenalnya tidak bosan kala melihat dan menatap wajah nada.


"Kau kenapa nada? Kenapa kau menepuk keningmu?" Tanya mika gusar.


Netra nada semakin tajam saat melihat mika. Ada gumpalan kekesalan di dalam dadanya. Yang berkecamuk di dalam hatinya. Seperti tidak terima dengan ekspresi bahasa tubuh dari sahabatnya mika. Soal dokter Moza tentunya.


"Aku tadi bertanya kepadamu mika. Kau benar tidak mengenal dokter moza?" Tanya nada penasaran.


Mika menggelengkan kepalanya. Tanda ia tidak mengenal dokter moza. Seorang pria berambut blonde yang menolongnya kemarin. Saat ia di sengat oleh tawon.


"Dengarkan aku baik - baik. Pria yang memiliki warna rambut blonde, yang menolong kau kemarin adalah dokter moza. Seorang dokter spesialis Jantung di hospital ini. Di urutan pertama. Dan orang penting nomor tiga di hospital ini setelah dokter zoey dan dokter bara." Jelas nada pada mika.


Nada menghela nafasnya panjang. Gumpalan kekesalan yang membuncah di dalam dadanya kini kian bertambah. Semakin besar. Tapi ia masih dapat menahannya agar tidak pecah keluar dari ucapan yang terlontar dari lidahnya.


"Apa? Hanya itu reaksi yang kau tunjukkan padaku?" Tanya nada kesal.


"Menurutmu reaksiku harus bagaimana? Apa pentingnya bagiku?" Balas mika santai.


Nada meletakkan kedua tangannya di pinggangnya. Menampilkan gaya berkacak pinggang.


"Oh mika. Kau benar - benar membuatku sangat kesal. Kau dengar lagi perkataanku!" Titah nada pada mika.


"Katakan." Jawab mika pendek.


"Dokter moza adalah pria tampan. Sama dengan dokter zoey dan dokter bara. Dan kau tau? seluruh dokter wanita yang masih lajang, pada memperebutkan hati dokter moza. Jatuh hati pada dokter moza. Ingin menjadi pendamping dokter moza. Begitu juga seluruh para perawat yang ada di hospital ini." Ujar nada panjang lebar.


"Termasuk kau?" Mika menembak nada.


Nada mengangguk cepat. Tanda membenarkan tembakan perkataan mika kepada dirinya.


Didepan pintu ruang rawat mika, berdiri seorang pria jangkung. Dengan kulit putih. Hidungnya yang mancung. Bibirnya yang tipis dan sedikit kemerahan. Rambutnya yang berwarna blonde. Bersandar pada dinding dekat pintu ruang rawat mika. Sudah sejak 15 menit lalu. Mendengar seluruh percakapan antara mika dan nada. Dengan tangan yang di lipat di dadanya. Kemudian ia menurunkan kedua tangannya. Memasukan tangannya ke kantong celananya. Berjalan perlahan ke arah mika dan nada.


Sementara mika dan nada tidak menyadari bahwa ada orang lain yang sama di ruang tempat mereka berada.


"Hey para gadis. Kalian membicarakan ku?" Tanyanya pada mika dan nada.


Mika dan nada spontan melihat kearah pria itu. Dengan ekspresi raut wajah terkejut.


"Dan kau gadis tawon. Kau tidak mengenal ku?" Tanyanya sambil menunjukkan senyum sinisnya.


"Dokter Moza?!" Teriak nada terkejut.


Sementara mika, terlihat pucat. Tidak menyangka kehadiran dokter moza. Seseorang yang sedang dibicarakannya bersama nada sahabatnya.