
Rie kembali mengarahkan pandangannya. Menatap suasana di luar rumahnya melalui kaca jendela kamarnya.
Tidak ada sahutan jawaban dari suaminya atas pertanyaan rie barusan. Kapan suaminya sampai ke dalam rumah mereka. Padahal seingat rie tadi mobil suaminya tidak ada terparkir di depan rumah mereka. Bukankah suaminya masih berada di hospital karena jadwal dinasnya yang sangat padat. Sebelum berangkat ke hospital, kemarin suaminya sudah mengatakan padanya.
Lagian rie tadi tidak terlalu melamun saat menatap keadaan lingkungan di depan halaman rumahnya. Dimana rie yang sedang memperhatikan tingkah dua makhluk tak kasat mata yang konyol. Rie masih setengah sadar dengan kenyataan alam sekitarnya. Dan jelas rie tidak melihat mobil suaminya datang memasuki pelataran halaman rumah mereka. Lalu, siapa yang memeluk tubuh rie dari arah belakang saat ini? Wajahnya sangat persis dengan wajah suaminnya.
Angin yang datang dari arah luar kini mulai berhembus dengan sedikit kencang. Terasa dingin dan mulai menusuk hingga ke tiap persendian. Membuat rie sedikit bergidik ngeri. Dimana detak jantung rie berdegup kian kencang. Ritme degupan jantung rie yang mulai tidak teratur. Tidak pada detak jantung normal yang memang seharusnya.
Tangan rie tidak sengaja menyentuh tangan kekar yang sedang melilit di perutnya. Di atas pinggangnya. Terasa sangat berbeda dengan tangan milik suaminya.
Tidak ada kehangatan yang rie rasakan di kulit tangan yang sedang mendekapnya erat. Hanya terasa kulit yang sangat dingin. Seperti beku dan tegang. Tidak terlali dingin seperti bongkahan es memang.
Mata rie dengan cepat melihat ke arah tangan yang memeluknya. Terlihat urat-urat yang tampak menonjol keluar, dengan otot yang kian menegang. Kulit yang bewarna sedikit abu-abu hampir kehitaman. Terlihat tidak ada aliran darah yang mengalir di dalamnya. Hanya tampak pucat yang menghiasi. Belum lagi tiap di jemari yang terlihat besar dengan kuku-kuku yang sangat panjang. Sangat tajam.
Rie secara reflek menghempaskan kaitan tangan yang melingkar di perutnya. Membalikkan tubuhnya menghadap sosok yang tengah memeluk dirinya tadi.
Tampak, sosok makhluk tak kasat mata yang lumayan tinggi. Sedikit lebih tinggi dari tubuh rie. Dengan mata sedikit besar dan tawa sinis menatapnya. Ditambah lagi dengan dua tanduk yang menancap diatas kepalanya. Dan gigi yang sedikit taring. Menatap rie dengan sangat tajam.
Lalu, kemana sosok suaminya yang di lihat rie tadi? Kenapa tiba-tiba berubah menjadi sosok makhluk astral?
"Kau mau minum sayang?". Tawar sosok makhluk tak kasat mata itu kepada rie.
Suara makhluk tak kasat mata itu yang masih menyerupai suara dokter zoey.
Mata rie terbelalak seketika. Membuat ketakutan menghampiri dirinya. Padahal biasanya ia tidak pernah seperti ini.
"Iblis! Aaaaaaaaaaa!!!". Teriak rie kencang.
Dengan spontan rie berlari meninggalkan kamarnya. Berlari dengan sangat kencang keluar dari dalam rumahnya. Tanpa ia perdulikan teriakan dari asisten rumah tangganya yang memanggil diri rie. Yang jelas saja terlihat terkejut, panik dan cemas kala melihat tuannya berhamburan keluar dari dalam rumah.
Kini rie tampak tengah berlari menyusuri jalanan di blok depan rumahnya. Hingga sebuah mobil yang tengah berbelok hampir menabrak tubuh rie. Membuat tubuh rie berhenti seketika. Terdiam terpaku sambil memejam kan matanya.
Seorang yang tengah mengendarai mobil tersebut langsung turun dari dalam mobilnya. Melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri tubuh rie. Lalu memegang kedua lengan rie.
"Sayang kau kenapa?". Tanya dokter zoey.
Ternyata sosok yang mengendarai mobil itu adalah dokter zoey, suami dari rie.
Rie membuka kedua kelopak matanya. Menatap dengan lekat wajah dokter zoey.
"Tidaaaakkkk! Jangan ganggu aku! Pergi kau! Lepaskan aku! Dasar iblis terkutuk!!!". Teriak rie histeris.
Dokter zoey tampak terperanjat melihat tingkah sang istri yang berada di hadapannya kini.
Dokter zoey mengguncang tubuh istrinya sedikit keras. Ingin menyadarkan istrinya.
Terasa gemetar dari tubuh istrinya saat ia memegang kedua lengan istrinya.
"Hey! Sayang! Sadarlah! Ini aku, suamimu! Aku zoey suamimu sayang!". Teriak dokter zoey menyadarkan istrinya.
Rie kembali melihat jelas wajah suaminya. Lalu mengedarkan pandangannya ke mobil milik suaminya. Memastikan kebenaran dengan apa yang di lihatnya. Meyakinkan dirinya kalau seseorang yang ada di hadapannya kini adalah benar-benar sang suami.
Dokter zoey memeluk tubuh rie dengan erat. Menenangkan istrinya. Isak tangis rie terdengar pecah di dalam dekapan sang suami.
"Aku takut..." Kata rie lagi mengadu kepada suaminya.
Dokter zoey mengusap-usap punggung istrinya.
"Hey, tenanglah sayang. Jangan takut. Ada aku sekarang di dekatmu." Ucap dokter zoey dengan volume suara yang terdengar sedikit kecil.
Rie melepaskan pelukkan suaminya. Mendongakkan kepalanya keatas. Menatap wajah suaminya dengan rinci. Ia takut jika kejadian beberapa saat lalu terulang kembali. Masih ingin memastikan kalau sosok pria yang sedang memeluknya adalah benar-benar suaminya.
"Ayo kita pulang ke rumah sayang." Dokter zoey memujuk istrinya.
Rie menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Tanda menolak ajakkan dari suaminya.
"Aku tidak mau pulang. Tidak mau." Tolak rie cepat.
Dokter zoey mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Kemudian mengecup pucuk kepala rie.
Mengusap-usap kepala rie dengan lembut, masih dengan posisi memeluk istrinya.
"Baiklah. Kita tidak pulang ke rumah. Jadi kita mau kemana sayang?". Tanya dokter zoey.
Dokter zoey belum mau menanyakan perihal apa yang telah membuat istrinya sampai bertingkah seperti saat ini. Kelihatan aura frustasi yang terpancar dari raut wajah cantik istrinya. Ia tidak ingin membuat istrinya kembali berteriak seperti tadi. Yang jelas bisa mengganggu psikis istrinya menjadi sedikit abnormal seperti beberapa saat lalu.
"Kemana saja. Asal jangan pulang ke rumah." Jawab rie lantang.
"Baiklah, kita ke hotel saja ya sayang. Apa kau mau?". Tawar dokter zoey kemudian.
Kembali rie menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dengan raut wajah yang tampak sedih.
"Tidak mau." Tolak rie lagi.
Dokter zoey menghela nafasnya panjang.
"Baiklah, kita pulang ke rumah papa saja ya sayang. Kebetulan ayah juga sedang menginap di rumah papa." Dokter zoey kembali memujuk istrinya.
Akhirnya rie mengganggukkan kepalanya. Tanda menyetujui tawaran dari suaminya.
"Sekarang masuk ke dalam mobil dulu ya sayang." Ucap dokter zoey lembut.
"Iya." Jawab rie singkat.
Dokter zoey perlahan menuntun rie ke arah samping mobilnya. Membuka pintu mobil untuk istrinya. Membantu istrinya untuk masuk ke dalam mobilnya. Lalu memasangkan sabuk pengaman ke tubuh istrinya. Kemudian ia menutup rapat pintu mobil. Melangkahkan kakinya dengan cepat untuk masuk ke dalam mobilnya juga. Duduk di bangku khusus untuk pengemudi.
Sesaat ia menatap wajah istrinya. Ada rasa cemas ketika melihat sang istri.
Kemudian, ia menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya menyusuri jalan. Menuju kerumah mertuanya.