
"Hello." Sapa dokter zoey.
"Ya. Ada apa kau menghubungi-ku zoey?." Jawab dokter moza sambil merapikan kemejanya.
Dokter zoey tersenyum sinis. Menarik alisnya sehingga menunjukkan ekspresi yang seram.
"Aku mendapatkan kabar dari asisten-ku. Bahwa kau sedang bersama seorang wanita. Kau apa kan sepupu istri-ku?." Tanya dokter zoey geram.
"Istri?" Tanya dokter moza terkejut.
"Oh, maaf moza. Aku lupa memberitahumu. Aku sudah menikah. Sekitar satu setengah tahun yang lalu. Dan wanita yang sedang kau sekap sekarang adalah sepupu dari istri-ku." Ucap dokter zoey jelas.
"Kau memataiku zoey?. Yang benar saja zoey?" Kata dokter moza.
"Kembalikan sepupu istri-ku. Antar sepupu istri-ku yang bernama mika ke rumahku sekarang!." Titah dokter zoey keras.
Dokter moza mengusap mukanya.
"Zoey, apa yang kau katakan? Kau bercanda kan zoey?." Tanya dokter moza.
"Tidak! Aku serius. Aku tunggu kau sekarang." Jawab dokter zoey.
Sambungan telepon pun diputuskan oleh dokter zoey.
Dokter moza kembali mengusap wajahnya. Tampak gurat kesal terukir di wajahnya. Kemudian ia memasukkan handphone androidnya ke saku celananya.
Dokter moza mengalihkan pandangannya ke arah mika. Menatap mika lekat.
Mika sadar dokter moza tengah melihat dirinya. Kebencian kini sudah bersarang dalam hatinya. Kemarahan yang hampir pecah untuk dokter moza sudah terbentuk. Menggumpal di dalam relung hatinya.
Kembali mika teringat kejadian tadi malam. Kejadian yang tidak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya. Yang akan selalu teringat, menorehkan luka. Terpatri di hatinya.
Seandainya ia bisa memutar waktu ke awal kejadian kemarin, mungkin ia bisa bertindak. Walau nanti akan berakibat fatal jadinya. Tapi, percuma saja. Ia tidak memiliki kekuatan yang cukup kemarin. Dan hari ini, siang ini, ia masih terlihat lemah. Tidak memiliki tenaga. Masih dalam keadaan pemulihan.
Apa lagi, baru saja infus nya di off. Karena hari ini ia sudah di perbolehkan untuk pulang.
"Kau sudah siap nona tawon?." Tanya dokter moza.
Mika menatapnya tajam. Seperti belati yang hendak menikam sosok di hadapannya.
"Hmmm..." Jawab mika datar.
"Aku akan membawa-mu ke rumah-ku. Semua barang - barangmu di mess sudah aku pindahkan ke rumah-ku kemarin. Dan aku letakkan di gudang." Ucap dokter moza.
Mika menggeram kesal. Tangannya mencengkram seprai bed yang sedang di duduki-nya.
"Bisa tidak kau melakukan sesuatu jangan sesuka-mu?!." Sindir mika.
Dokter moza tersenyum.
"Tidak bisa. Karena sejak kemarin kau sudah menjadi milik-ku. Maka, segala sesuatu yang berhubungan dengan-mu otomatis menjadi tanggunganku. Apa-pun itu tentang-mu, aku berhak ikut campur." Kata dokter moza tegas.
"Aku benci seseorang yang tidak pernah lembut kepada wanita. Dan itu kau!." Serang mika.
Wajah mika menekuk. Mengajak dokter moza untuk berduel. Mika memiliki watak yang sedikit keras. Itu tergambar dari sikap dan perilaku-nya.
"Kau semakin menarik." Cetus dokter moza.
Dokter moza menyuruh perawat membawa mika dengan rostul. Perawat itu menganggukkan kepalanya. Tanda mengerti titah dari atasannya.
"Ayo kita pulang sayang." Ucap dokter moza kepada mika.
Mika menghela nafasnya dalam. Kepalanya terasa sedikit pusing kala mendengar ucapan dari dokter moza kepadanya barusan.
Hari ini, mika merasa dunianya seakan hancur. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berharap ada seseorang yang bisa menolongnya. Menyelamatkannya dari pria yang membawanya saat ini.
Tapi itu tidak mungkin terjadi. Siapa yang berani melawan dokter moza? Orang berpengaruh ketiga di hospital ini. Yang ada, ia hanya pasrah saat ini. Dan ingin berteriak seandainya ia bisa.
'Seseorang. Tolong aku!'