
Pintu ruang dokter zoey, terbuka otomatis. Dokter zoey dan rie tidak menyadari, ketika pintu itu terbuka.
Terdengar derap langkah memasuki ruangan dokter bara. Dua orang pria tua, menghentikan langkahnya secara spontan. Menatap ke arah dokter zoey dan rie yang sedang dalam jarak yang sangat dekat.
"Hey, apa yang kalian berdua lakukan?" Tanya pria tua yang memakai topi. Sementara, pria tua yang tidak memakai topi hanya mengeluarkan desah nafasnya. Sambil mengelus dadanya halus.
Rie dan dokter zoey, secara spontan menatap ke arah dua pria tua yang tiba tiba tanpa mereka sadari, sudah ada satu ruang dengan mereka berdua. Menatap dengan tatapan sedikit marah, dan terkejut. Rie mendorong tubuh dokter zoey. Memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari dokter zoey. Kemudian kembali memutar tubuhnya, menghadap kedua pria tua itu.
"Kalian berdua. Tidak bisa menjawab pertanyaanku?" Tanya pria tua yang memakai topi itu lagi.
"Ayah, maaf aku..." Penjelasan dokter zoey terputus.
"Bisakah kita duduk dahulu?" Tanya pria tua yang tidak memakai topi.
Dokter zoey dengan cepat mengangguk. Dua pria tua itu, merebahkan bokongnya ke sofa yang ada di ruang itu. Sementara rie dan dokter zoey, masih setia berdiri di posisi awal seperti saat kedua pria tua itu masuk.
Rie dengan cepat, melangkahkan kakinya menuju kearah pria tua yang tidak memakai topi.
"Pa. Maaf. Kenapa papa bisa ada di sini?" Tanya rie.
Pria tua yang tidak memakai topi, tersenyum getir. Menatap ke arah rie.
"Duduk lah nak. Duduk di samping papa." Pinta pria tua yang tidak memakai topi.
Rie berjalan perlahan, mendekati pria tua yang tidak memakai topi. Kemudian rie mendudukkan tubuhnya tepat disamping pria tua yang tidak memakai topi, yang ternyata adalah ayah rie sendiri.
Rie kemudian menyelipkan tangannya, ke tangan ayahnya.
"Kau ini. Dasar anak nakal. Hmm..." Ujar ayah rie.
Dokter zoey, dengan cepat mematuhi perintah ayahnya. Duduk di sofa depan ayahnya.
"Ayah ingin bertanya. Langsung saja pada intinya zoey" Kata ayah dokter zoey.
Dokter zoey diam. menatap ke arah ayahnya. kemudian melihat ke arah ayah rie dan rie.
"Maaf ayah. maksud ayah?" Tanya dokter zoey.
"Apa yang kau lakukan dengan rie tadi?" Tanya ayah dokter zoey.
Dokter zoey, tetap tidak menjawab. Hanya diam.
Rie, sedikit terkejut ketika ayah dokter zoey menyebut namanya. Sampai berputar putar pertanyaan dalam benaknya. Mengapa ayah dokter zoey bisa tau namanya. Apakah ayah dokter zoey mengenalnya?. Tapi rie tidak mengeluarkan sepatah katapun. Takut, jika nanti dianggap tidak sopan oleh dua orang tua yang ada di hadapannya.
"Baiklah. Tidak perlu kau jawab zoey." Jelas ayah dokter zoey.
"Zoey, apa rie sudah tau? Apa kau sudah mengatakan pada rie?" Tanya ayah dokter zoey.
"Belum ayah." Jawab dokter zoey singkat.
Rie mengkerut kan dahinya. Tanpa ia sadari. Ekspresi bingung yang di tunjukkan lewat mimik muka dari rie.
Kembali, di benak rie. Menari nari banyak pertanyaan. Yang sebenarnya ingin rie lontarkan. Kepada dokter zoey dan ayah dari dokter zoey. Tapi mulut rie tetap terkunci. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut rie. Hanya tatapan penuh tanya yang ia layangkan kepada dokter zoey.
Dokter zoey dan ayah dari dokter zoey, secara bersamaan menatap ke arah rie.