Rie

Rie
Kejujuran Leah Monica Ramsley



Dokter moza membawa leah ke salah satu tenant di sebuah food court yang masih terletak di dalam hospital tempat ia bekerja.


Salah satu fasilitas yang disuguhkan untuk mempermudah orang-orang yang mendapatkan pelayanan kesehatan di hospital ini, agar keluarga mereka tidak perlu kerepotan mondar-mandir keluar masuk hospital guna memenuhi kebutuhan yang di perlukan untuk keluarga mereka yang sedang dirawat di dalam hospital.


Tidak hanya food court saja yang disuguhkan, Terdapat juga satu lantai yang khusus sebagai pusat perbelanjaan. Dilengkapi juga dengan sebuah market dan beberapa toko perlengkapan pakaian yang bonafit. Seperti beberapa boutique.


Dokter moza menarik sebuah kursi. Mempersilahkan leah untuk duduk. Lalu ia pun duduk tepat di hadapan leah.


"Kau mau minum apa monica?". Dokter moza menawarkan kepada leah.


Leah menggelengkan kepalanya. Terlihat wajahnya yang kuyu dari raut wajahnya. Tidak ada semangat yang mengalir di dalam diri leah. Namun keadaan diri leah sedikit lebih baik dari pada beberapa waktu sebelumnya. Saat shakira puteri kesayangannya masih terbujur dalam tidur panjangnya. Kini leah merasa sedikit lebih lega, karena sang puteri semata wayangnya telah siuman dari komanya. Hanya tinggal menunggu shakira menjadi lebih stabil. Baru akan di pindahkan ke ruang perawatan VVIP. Seperti titah dari dokter moza kepada rekan kerjanya tadi. Leah berharap shakira cepat kembali pulih. Agar bisa kembali ceria. Kembali riang dan mengisi hari-hari leah yang terasa sepi.


"Aku akan memesankan minuman kesukaanmu. Apa kau ingin makan?". Tawar dokter moza lagi.


"Tidak. Aku tidak nafsu makan." Jawabnya lemah.


Dokter moza memanggil seorang waitress. Lalu ia memesan segelas cappucino hangat dan segelas es Bandung kesukaan leah. Tidak berselang lama, pesanan dokter moza sudah di sajikan di hadapan mereka.


"Monica, minumlah. Sebaiknya tenangkan dirimu dahulu." Ucap dokter moza.


Lamunan leah seketika buyar saat mendengar suara dokter moza.


Leah menarik segelas es Bandung miliknya. Kemudian kedua bibirnya menyentuh sebuah sedotan. Lalu ia menyedot sedikit demi sedikit es Bandung kesukaannya.


Leah menarik nafasnya dalam-dalam. Secara perlahan ia kembali menghembuskan oksigen yang telah dihirupnya beberapa saat lalu.


"Apa kau sudah merasa sedikit lebih baik?". Tanya dokter moza.


Leah mengganggukkan kepalanya pelan.


"Ya." Jawab leah singkat.


Sebenarnya leah sudah mengenal dokter moza sangat lama. Jauh sebelum ia mengenal kekasihnya, dokter bara. Bahkan hubungan mereka bukan hanya sekedar saling kenal. Namun lebih dekat dari kata sebuah pertemanan. Bukan juga dekat sebagai seorang saudara. Tapi lebih seperti hubungan persahabatan yang kental. Makanya dokter moza memanggil nama leah bukan dari nama depannya. Justru nama tengah leah, yaitu monica. Hanya dokter moza satu-satunya orang yang memanggil leah dengan sebutan monica.


Namun sayangnya, dokter moza tidak menganggap hubungan mereka seperti hubungan persahabatan. Melainkan lebih dari itu. Ia telah jatuh hati pada leah. Berharap leah bisa menerima cintanya. Dan mau menerimanya sebagai tambatan hati untuk leah.


Padahal leah tahu kalau dokter moza menyukai dirinya. Mencintai dirinya. Namun pesona dokter bara kala itu lebih membuatnya menjadi tidak berdaya. Apalagi dokter bara menyambut gayung cintanya. Maka ia dan dokter bara bersatu dalam ikatan sebuah cinta. Hingga hubungan percintaan mereka berbuah manis. Menghasilkan seorang buah hati yang cantik nan jelita. Yang masih belum di ketahui oleh kekasihnya sampai detik ini.


Sejak ia menjalin hubungan percintaan dengan dokter bara, hal itu menjadi tamparan yang sangat keras bagi dokter moza. Sehingga ia memilih mundur. Mengalah demi hubungan persahabatannya dengan dokter bara agar tetap menjadi baik-baik saja.


Makanya sejak saat itu hubungan dokter moza dan dokter bara mulai terlihat renggang. Sampai dokter moza meninggalkan hospital milik keluarga dokter bara di New York. Ia lebih memilih mengikuti kembaran dari dokter bara. Dokter zoey, yang juga merupakan sahabat terbaiknya. Bukan ia tidak mampu membangun usahanya sendiri. Sebenarnya ia memiliki warisan perusahaan dari sang ayah. Namun ia masih belum mau untuk ikut terjun mengelola perusahaan tersebut dan ia masih membiarkan sang ayah yang memimpin perusahaan miliknya. Seharusnya ayahnya sudah pensiun dalam karirnya. Tapi kelakuan keras kepala anak tunggalnya membuat ia tidak bisa meninggalkan perusahaannya yang sudah ia wariskan kepada anak tunggalnya yaitu Dokter moza.


Hospital tempat dokter moza dan dokter zoey bekerja sekarang, dirintis sendiri oleh sang pemilik sampai berkembang pesat seperti saat ini. Yah, hospital ini milik dokter zoey. Ia membangun hospital ini dengan usahanya sendiri. Tanpa ada campur tangan dari ayahnya. Namun sampai detik ini dokter zoey juga belum mengungkapkan kepada istrinya jika hospital ini adalah miliknya.


Sejak kepergian dokter moza dari New York, ia sudah tidak tahu lagi kabar tentang wanita yang dicintainya. Hingga wanita itu dinyatakan memiliki seorang anak pun ia tidak mengetahuinya.


"Dimana suamimu? Kenapa kau sendirian menjaga puterimu monica?". Tanya dokter moza.


Akhirnya dokter moza berani membuka suaranya. Awalnya ia ragu untuk menanyakan hal itu kepada leah. Takut leah akan marah kepada dirinya. Apalagi ini hari pertama mereka bertemu sejak sebelas tahun silam mereka berpisah sebagai dua orang yang bersahabat.


Leah memalingkan wajahnya. Ia merasa enggan untuk menatap mantan sahabatnya ini. Rasanya tidak mampu ia untuk menjelaskan hal sebenarnya yang telah menimpa kehidupannya dimasa lalu. Hingga masih membawa kehampaan hidupnya sampai detik ini.


"Aku belum menikah moza." Jawab leah jujur.


Spontan dokter moza mengerenyitkan keningnya. Seperti di sambar petir, tubuhnya menegang ketika mendengar kenyataan hidup seorang leah. Wanita yang pernah dicintainya dimasa lalu dan kini tanpa ia duga telah menjadi kakak iparnya. Semuanya terlihat seperti sebuah kebetulan.


"Lalu gadis itu anakmu? bagaimana bisa?". Tanya dokter moza bingung.


Seingat dokter moza, seorang leah adalah wanita baik-baik. Wanita dari kalangan keluarga papan atas. Yang punya nama baik dan terkenal di jagad raya. Seorang public figure yang jadi panutan bagi para penggemarnya. Juga keluarganya yang berkecimpung di dunia entertainment.


"Aku melakukan kesalahan fatal hingga puteriku hadir di dunia. Tapi aku tidak menyesalinya moza. Dia lah semangat hidupku. Pelipur laraku." Terang leah dengan suara yang tidak terlalu terdengar keras.


Dokter moza menghela nafasnya.


"Wajah puterimu sangat tidak asing bagiku. Sepertinya ia sangat mirip..." Ucapan dokter moza terputus.


"Kau benar moza. Shakira adalah buah cintaku dengan sahabatmu bara. Tapi sahabatmu tidak tahu kalau kami sudah memiliki seorang anak. Bara tidak pernah tahu kalau aku sedang mengandung anaknya saat itu." Ungkap leah.


Dokter moza mengusap wajahnya kasar. Jiwanya seperti tenggelam dalan lautan lepas. Terlihat kebimbangan yang mengikat jiwanya. Ada rasa kecewa dan kemarahan yang besar di dalam hatinya. Kala mendengar kenyataan yang sebenarnya tentang kehidupan wanita yang pernah mengisi ruang hatinya.