
"Aku akan mulai bercerita kepada zoey." Ucap alan.
"Hey, disini juga ada aku dan rie. Memangnya kau tidak menganggap kami berdua ada? Ish ..." Celetuk yuki kesal.
"Oh, baiklah." Jawab alan singkat.
"Memangnya kau mau bercerita tentang apa alan?." Tanya yuki pada alan.
"Ini tentang Mika." Jawab alan lagi singkat.
Yuki tertawa geli. Sambil memegang perutnya yang sedikit buncit. Menandakan kalau ia adalah pria tua yang sukses. Itu menurut yuki pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau tertawa yuki?" Tanya alan sambil mengernyitkan keningnya.
Yuki menghentikan tawanya. Menatap ke arah alan.
"Aku pikir tentang apa? Kalau tentang mika aku sudah tahu." Kata yuki percaya diri.
Alan menggelengkan kepalanya.
"Makanya aku katakan. Aku akan bercerita ke zoey. Kau dan rie kan sudah tahu. Jadi cukup ikut mendengar saja." Rutuk alan.
"Lanjutkan." Ucap yuki.
Kembali alan, rie dan dokter zoey menatap ke arah yuki dengan tajam.
"Apa lagi? Ish aku selalu salah ya? Baiklah aku akan diam saja." Kata alan ketus.
Alan memperbaiki posisi duduknya. Kemudian ia menatap ke arah zoey.
"Mika adalah anak dari Adikku. Dulu ketika ia kecil, adikku dan istrinya pindah ke Newyork. Mika memiliki seorang kakak. Tapi, istri dari adikku yang merupakan ibu kandung mika, entah mengapa seperti pilih kasih antara anaknya. Mika menangis terus kala itu. Jadi, adikku memberikan mika kepada-ku dan istri-ku. Untuk mengasuh mika. Tapi kenyataan ini mika tidak mengetahuinya. Karena adikku berpesan, agar memberitahu kepada mika kalau mereka sudah tiada." Cerita alan panjang.
"Mika si perawat itu papa? Sahabatnya rie?." Tanya dokter zoey.
Alan mengangguk tanda membenarkan ucapan alan.
"Jadi ternyata mika sepupu kandung istriku?." Tanya dokter zoey.
"Apa papa mau aku bantu mencari mika?." Tawar dokter zoey.
"Benarkah kau mau membantu papa? Apa tidak merepotkanmu nak?." Tanya alan ragu.
Dokter zoey tersenyum tipis. Kemudian ia menopang dagunya dengan telapak tangannya. Dimana siku dari tangannya sedang menekan pinggir sofa milik dokter zoey.
"Papa tidak sama sekali merepotkanku. Mika adalah keponakkan kandung papa dan sepupu kandung dari rie istriku. Tentu saja otomatis mika menjadi saudari-ku pa." Kata dokter zoey kepada alan.
"Terimakasih anakku. Tidak salah papa dan ayahmu sudah menjodohkanmu dengan rie dari rie masih kecil. Bahkan sebelum kalian lahir. Kami sudah memiliki rencana itu." Ceplos alan sambil tertawa kecil.
"Papa. Kenapa tidak menceritakan pada-ku?." Tanya rie protes.
"Kau ini." Rutuk alan kepada rie anaknya.
"Ku rasa kau tidak boleh menyalahkan papa. Aku yang meminta kepada ayah untuk menjadikanmu istri-ku sewaktu pertama kita bertemu dulu. Waktu usia-mu masih 7 apa 8 tahun. Dan waktu itu aku baru menginjak usia 18 tahun." Cerita dokter zoey.
Rie menjatuhkan pandangannya kepada dokter zoey, suaminya. Mata rie terbelalak. Sedikit terkejut mendengar ucapan dari mulut suami-nya.
"Pantas saja sejak kau menganggu-ku dulu, setelah hari itu selalu saja ada beberapa orang yang memakai jas hitam ada di dekat-ku. Hingga aku dewasa. Dan bekerja di hospital. Mereka selalu saja memantau-ku." Kata rie.
"Itu pegawai ayah. Memang aku yang memerintahkan mereka melakukan itu. Agar tidak ada yang mengganggu sesuatu yang sudah menjadi milikku. Aku kan harus menjaganya." Ujar dokter zoey bangga. Dengan gaya bicara yang terlihat sedikit angkuh.
Rie menekukkan raut wajahnya. Tanda ia menunjukkan kekesalannya pada suami-nya.
"Bisa kah kalian berdua berhenti berdebat?." Ucap yuki.
"Sudahlah rie. Kau ini anak nakal!. Hormati zoey. Dia suami-mu." Kata alan.
Dokter zoey tersenyum lebar. Ia merasa bahagia. Merasa senang karena sang papa lebih mendukung diri-nya.
"Aku ingin menelepon seseorang dahulu." Pamit zoey.
Ia berdiri dari duduknya. Kemudian berjalan menuju pintu keluar. Berdiri di atas teras rumahnya. Sambil memegang handphone android miliknya. Menekan tombol dial. Menelepon seseorang yang di tuju nya. Dan telepon pun tersambung.
"Hello." Kata alan pada seseorang.