
Mika mematikan handphonenya. Meletakkan benda pipih itu di samping bantal kepalanya.
Tampak ekspresi raut wajah cemas bercampur bingung terlukis di wajah imutnya.
Nada memotong buah apel fuji kesukaan mika.
"Buka mulutmu mika." Titah nada kepada mika.
Mika menurut kepada nada. Nada menyuapkan potongan apel fuji ke mulut mungil milik mika.
"Bagaimana kata paman? Maksudku ayah rie." Tanya nada kepada mika.
"Hmmm... Paman tidak bilang apa-apa. Tapi, paman mengatakan padaku agar tenang. Paman tahu tentang rie. Paman yang akan mengurusnya." Ujar mika sambil mengunyah.
Nada menyuapkan lagi potongan buah apel fuji ke dalam mulut mika.
"Huft... Semoga sahabat kita rie baik-baik saja. Aku masih tidak tenang sampai aku bisa melihat sendiri keadaan rie." Harap nada dengan muka cemberut.
"Aku juga berharap hal yang sama dengan yang kau katakan padaku barusan nada." Balas mika.
Nada meletakkan buah apel fuji ke atas piring. Meletakkan piring yang berisi potongan apel fuji ke atas meja. Lalu mengambil air minum dengan sedotan. Menyerahkan kepada mika.
"Ini mika. Kau harus minum dulu. Aku takut nanti kau dehidrasi karena kekurangan cairan. Apa lagi untuk otakmu mika." Nada terkekeh geli.
Mika mengambil air minum yang diberikan oleh nada untuknya. Mulai menyedot air yang diberikan mika sedikit demi sedikit. Kemudian menyerahkan kembali kepada nada.
Nada meletakkan air minum itu ke atas meja.
"Kau ini nada. Selalu saja menggodaku." Keluh mika sedikit kesal.
Nada tertawa mendengar jawaban yang keluar dari mulut mika kepada dirinya.
"Hey. Jangan terlalu kau ambil hati. Kau tahu kan mika, kalau aku hanya bercanda." Ucap nada sambil tertawa geli.
"Aku ini sedang sakit nada. Kau ini." Protes mika lagi.
Mika menghentikan tawanya. Memperbaiki posisi tubuhnya yang sedang duduk di sebuah kursi yang berada tepat di sebelah tempat tidur yang mika tempati.
"Baiklah mika ku. Kau jangan marah padaku sahabatku." Ujar nada menyentil mika.
Mika menatap nada dengan wajah yang cemberut. Memajukan bibirnya persis seperti mulut bebek.
"Nada!" Teriak mika protes.
"Baiklah sahabatku. Maafkan aku." Pinta nada lagi kepada mika.
"Hmmm..." Jawab mika ketus.
Nada mulai berdiri. Berjalan melangkah menuju jendela di kamar rawat VIP dimana mika sedang dirawat.
Nada menatap ke arah luar hospital. Tampak pemandangan indah dimana kota mereka tinggal.
Nada menikmati pemandangan indah yang sedang dilihatnya.
Hiruk pikuk yang ada di kota itu, tergambar jelas di kedua retina mata milik nada.
"Mika. Ada yang ingin aku tanyakan." Nada mulai membuka suara. Sambil terus menikmati pemandangan indah kota itu dari balik jendela ruang rawat VIP yang sedang di tempati oleh mika sahabatnya.
Nada mengarahkan pandangannya kepada mika.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku nada?" Tanya mika lirih.
Nada melipat kedua tangannya ke arah dada.
"Soal dokter Moza dan kau tentunya mika ku." Nada menekan intonasi kalimatnya kepada mika.
Nada mulai menatap ke arah mika secara tajam.
Mika terdiam. Ia mulai mengolah maksud perkataan dari nada untuknya.
"Dokter Moza?" Tanya mika.
Nada kemudian tersenyum.
"Hey. Seorang pria yang memiliki rambut berwarna blonde tadi. Yang menolongmu, menggendongmu dan menjagamu kemarin." Nada menjelaskan.
"Pria itu? Astaga. Pria berambut blonde itu seorang dokter?" Tanya mika.
Nada menepuk keningnya.
"Sungguh kau tidak mengenalnya mika?" Tanya nada tajam.