Rie

Rie
Saat Sarapan Bersama Sang Suami



Pagi ini terlihat begitu cerah. Seperti hati dokter zoey yang juga terlihat cerah. Layaknya sang mentari yang menyinari bumi, agar makhluk - makhluk di atas bumi ini merasakan cinta sang mentari. Seperti itu juga dokter zoey. Ia ingin memberikan sinar cintanya kepada rie. Agar rie selalu merasa nyaman dan aman di sisinya. Walau pun tidak kelihatan gelagat balasan rasa cinta dari rie untuk dokter zoey. Padahal rasa itu baru tumbuh di hati rie, dan sedang bersemi. Tapi ia masih enggan untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada suaminya. Mungkin karena perihal yang kemarin di lihatnya. Saat suaminya bersama wanita lain. Membuat rie merasakan kepedihan yang membalut hatinya.


Di ruang makan, tepat nya di meja makan, rie dan dokter zoey sedang menikmati sarapan paginya. Tanpa alan, ayah rie. Karena alan ada kepentingan mendadak yang harus ia tangani. Alan pergi bersama shane dan mika.


Rie menggigit roti tawar yang telah ia oles dengan selai kacang. Tapi matanya melirik ke arah suaminya.


Dokter zoey menyadari tatapan dari istrinya. Hingga ia tersenyum simpul.


"Kenapa melihatku sayang?. Kau mulai terpesona padaku ya?." Tanya dokter zoey mengganggu istrinya.


Rie seketika terbatuk.


"Minum sayang." Tawar dokter zoey sambil menyodorkan gelas berisi susu milik rie.


Rie dengan segera meminum susu yang diberikan oleh suaminya.


Kemudian ia meletakkan gelas susunya ke atas meja.


"Ada yang ingin aku tanyakan dokter zoey." Kata rie kaku.


Rie meletakkan sisa rotinya ke atas piring. Seperti selera makannya menghilang karena beban pikiran yang sedang ia tahan. Pertanyaan - pertanyaan yang mengganggu di otaknya.


"Jangan terlalu formal padaku sayang. Aku bukan atasanmu. Aku suami-mu." Tegur dokter zoey.


Rie sedikit kikuk. Ia merasa bingung dengan situasi yang di hadapinya saat ini. Dengan suaminya sendiri.


"Itu. Eee... Baiklah. Suami-ku." Ucap rie.


Terdengar geli rasanya bagi rie. Mengucapkan kalimat seperti itu. Panggilan 'suami-ku'. Rasanya ia ingin berlari ke kamar dan mengunci pintu. Agar suaminya tidak mengetahui rasa malu yang ia rasakan saat ini. Sampai membuat jantung rie berdegup semakin kencang. Apakah ini yang di katakan cinta?


Dokter zoey tersenyum mendengar kalimat yang rie lontarkan kepadanya. Panggilan 'suami-ku' untuknya. Hanya itu saja bisa membuat hatinya menjadi hangat.


"Nah, seperti itu lebih bagus sayang. Biasakan dengan panggilan mesra ya. Kalau bisa kau juga memanggilku 'sayang'." Dokter zoey menggoda istrinya.


Seketika pipi rie terlihat merah merona. Rasa malu yang ia rasakan tadi mulai muncul kembali. Sampai ia lupa hendak berbicara apa kepada suaminya. Hingga sapaan dari dokter zoey sang suami membuyarkan lamunannya.


"Kau ingin mengatakan apa sayang? Katakanlah." Ucap dokter zoey.


Dokter zoey menyeruput kopi hangat dihadapannya. Secangkir kopi yang ditambahkan sedikit gula dan creamer.


"Itu soal dirimu suamiku." Kata rie singkat.


Dokter zoey menatap rie dengan serius.


"Diriku? Memangnya ada apa dengan diriku?." Tanya dokter zoey ingin tahu.


"Kau tahu kan kalau aku memiliki kelebihan spesial? Indera ke - enamku. Eh... Maksudku kalau aku adalah seorang indigo sejak aku lahir." Jelas rie.


"Iya aku tahu. Aku tahu bahkan sejak sebelum menikahimu. Sejak kau masih kecil aku sudah tahu kalau kau seorang indigo sayang. Waktu itu aku masih remaja." Jawab dokter zoey.


"Apa? Bagaimana kau tahu?." Tanya rie terkejut.


Dokter zoey terkekeh geli mendengar ucapan dari istrinya.


Rie menekukkan wajahnya. Tanda ia kesal dengan perbuatan ayah mertua serta papanya. Kenapa membuka rahasia dirinya? Bukankah kala itu ia pernah mengatakan pada ayahnya agar tidak menceritakan tentang kelebihannya kepada orang lain. Walau kini pada akhirnya orang lain itu telah menjadi pendamping hidupnya. Menjadi suaminya.


'Ish, sungguh menyebalkan.' Gumam rie pelan.


"Kau kenapa sayang? Wajahmu seperti itu." Kata dokter zoey sambil terkekeh geli.


Dokter zoey kembali menyeruput kopi hangatnya.


"Lanjutkan sayang." Titah dokter zoey kepada istrinya.


"Kau percaya tidak, kalau seorang indigo tidak hanya bisa melihat makhluk - makhluk astral. Tapi juga bisa melepaskan ruh nya dan berkeliaran. Maksudku seperti meraga sukma." Kata rie.


"Hmm, aku tidak tahu kalau soal itu. Aku belum pernah menemukan orang yang seperti itu. Tapi aku pernah mendengarnya. Memangnya kenapa sayang?." Tanya dokter zoey.


"Itu yang terjadi padaku. Aku bisa meraga sukma." Jawab rie.


Dokter zoey spontan menunjukkan ekspresi kagum kepada istrinya rie.


"Wow. Itu hebat sekali sayang." Ucapnya takjub.


"Bukan itu maksudku. Sebenarnya beberapa hari lalu aku telah meraga sukma sebanyak dua kali tanpa aku sadari. Dan aku tidak bisa mengendalikan itu. Itu terjadi padaku ketika aku dalam kondisi kejiwaan yang sedang tidak stabil. Seperti emosionalku. Dan ketika aku sedang tidur aku meraga sukma dengan sendirinya." Cerita rie.


Dokter zoey mengangguk - anggukkan kepalanya.


"Lalu?." Tanya dokter zoey lagi.


"Lalu aku bisa melihat tubuhku sendiri yang sedang tertidur. Aku kira itu sebuah mimpi. Ternyata kenyataan. Dan entah mengapa aku tiba - tiba bisa berada di hospital tempat kau bekerja." Lanjut rie lagi.


"Kau terlalu jauh perginya sayang." Kata dokter zoey.


"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Kata rie tegas.


"Katakan sayang." Jawab dokter zoey.


"Ketika di hospital aku masuk ke ruang Ok. Dan disana aku melihatmu telah selesai melakukan tindakkan operasi pada pasienmu. Lalu kau melepas handskunmu. Dan seorang wanita mengelap keningmu dengan tangannya. Bukankah dia bukan seorang perawat?." Tanya rie.


Dokter zoey terdiam. Fikirannya kembali ke masa dimana ia sedang diberikan teguran oleh dokter moza. Ya, tentang hal ini. Yang bisa membuat istrinya salah paham jika melihat kejadian ini.


"Satu lagi. Ketika aku meraga sukma yang kedua secara tidak sengaja, aku kembali berada di hospital. Padahal aku tidak ada niat untuk kembali ke tempatmu bekerja. Tapi tiba - tiba saja aku sudah berada di hospital itu lagi. Dan berada di ruangan kantormu. Aku melihat wanita itu lagi. Tapi kali ini wanita itu sedang menyentuh kulitmu, menggenggam tanganmu dan menatap dirimu hangat. Itu yang aku tangkap. Bisa kau jelaskan kepadaku suami-ku?" Rong - rong rie kemudian.


Gotchaaaa....


Akhirnya dokter zoey tiba - tiba terdiam kaku. Tubuhnya tiba - tiba membeku. Baru saja ia mengingat apa yang di katakan dokter moza kepadanya kemarin.


'Bagaimana jika istrimu yang melihat? Bukankah akan menjadi masalah besar nantinya?'


Kalimat itu kembali terngiang ditelinganya. Tapi apa yang di perkirakan oleh dokter moza malah jadi kenyataan pada akhirnya. Hingga membuat dokter zoey terdiam.


"Suamiku, apa kau mendengarku?."