
Ruh rie menatap ruh dokter bara dengan tatapan nanar. Bingung. Ya tentu saja ruh rie menjadi bingung. Ia tidak mengerti apa maksud dari kalimat yang di katakan ruh dokter bara kepada dirinya. Berjodoh? Yang benar saja?
Bukan hanya kali ini saja ruh dokter bara bersikap aneh kepada ruh rie. Ketika pertemuan ruh mereka pun beberapa waktu lalu, ruh dokter bara juga mengatakan hal yang sama. 'Kalau kau mau aku akan menjadikan mu istriku'. Terngiang jelas kalimat itu di dalam pendengaran ruh rie. Awalnya ruh rie tidak memperdulikan perkataan ruh dokter bara. Tapi kali ini, setelah ruh dokter bara kembali bersikap aneh jadi membuat otak rie berfikir.
Ruh rie menatap datar ruh dokter bara.
"Kak bara. Aku ini sudah menjadi istri dari kak zoey. Otomatis aku adalah adik iparmu kak. Sejak aku kecil kakak selalu saja menggangguku. Bisakah hilangkan lelucon kakak itu? Sungguh ini tidak lucu." Protes ruh rie.
"Kau menikah dengan zoey?." Tanya ruh dokter bara pura - pura.
"Ish... Bisakah hilangkan lelucon kakak lagi? Selalu saja membuatku kesal sejak dari aku kecil." Gerutu ruh rie.
Ruh dokter bara tersenyum simpul. Matanya semakin lekat menatap wajah ruh rie.
"Hey adik kecil. Ternyata kau sudah mengingatku. Kakak fikir setelah lama kakak tidak muncul di hadapanmu, kau melupakanku." Ujar ruh dokter bara.
"Aku tidak terlalu bisa mengingat masa kecilku kakak. Memory ku tidak setajam itu. Ish...". Decak ruh rie.
Masih terlihat kedekatan ruh rie dengan ruh dokter bara dari cara ia berkomunikasi dengan kembaran dari suaminya itu.
"Tapi, aku minta...". Ruh rie tidak melanjutkan kalimatnya.
Ruh dokter bara mengerenyitkan keningnya.
"Minta apa?". Tanya ruh dokter bara penasaran.
Ruh rie tersenyum tipis.
"Aku minta maaf karena lupa dengan kakak". Lanjut rie menyelesaikan kalimatnya.
Ruh dokter bara mengeluarkan kedua telapak tangannya yang ia selipkan di kantong celana yang ia pakai. Kemudian ia menjentik kening ruh rie dengan jarinya.
"Awww...". Ruh rie meringis.
Ruh rie mengusap keningnya perlahan.
"Jangan berlebihan riecha. Kau ini masih dalam 'mode ruh'. Bukan tubuhmu. Ruh tidak bisa merasakan seperti tubuh manusia. Kau ini." Celetuk ruh dokter bara.
Ruh rie terkekeh geli.
"Aku tidak tahu kakak. Sudah lama aku tidak seperti ini." Ucap ruh rie seketika.
"Maksudmu?". Tanya ruh dokter bara dengan ekspresi raut wajah serius.
Tiba - tiba ruh rie tersadar. Barusan ia tidak dengan sengaja bicara terus terang. Ia merasa kelepasan. Fikiran ruh rie kembali memaksa otaknya. Kalimat apa yang harus ia lontarkan untuk menjelaskannya kepada sosok ruh dokter bara di hadapannya kini? Apakah ia berkata terus terang saja jika dirinya sebenarnya adalah salah satu manusia yang memiliki kelebihan spesial? Anak indigo yang memiliki paket komplit. Apakah nanti ruh dokter bara akan percaya dengan perkataannya nanti?
"Hey riecha! Katakan apa maksudmu?." Ruh dokter bara memaksa.
Ruh rie menyeringai.
"Baiklah kakak. Aku akan jelaskan. Tapi bisakah kita tidak di dalam hospital ini? Mataku merasa kurang nyaman melihat orang - orang di sini berlalu lalang." Ucap ruh rie.
"Hmmm." Jawab ruh dokter bara singkat.
Dalam beberapa detik, ruh rie dan ruh dokter bara sudah berada di halaman hospital. Berdiri tepat di bawah pohon nan rindang.
Ruh rie memutar tubuhnya. Menatap lingkungan sekeliling tempat ia dan ruh dokter bara yang sedang berpijak. Lalu pandangannya jatuh kepada ruh dokter bara.
"Kakak. Ini sama saja masih di lingkungan hospital. Ish..." Ucap ruh rie kesal.
Ruh dokter bara terkekeh geli. Kemudian ia diam. Lalu melipat kedua tangannya di dada.
"Hey, kita tidak bisa pergi terlalu jauh dari raga kita riecha. Jika kau melakukan itu akan sangat berbahaya untuk dirimu. Kau bisa saja tiba - tiba mati. Dan juga, kakak tidak bisa mengatur kemana kita akan berpijak. Bukan urusan kita riecha." Ujar ruh dokter bara.
Sebenarnya ruh rie tidak mengetahui hal itu. Dia tidak pernah berfikir sampai sejauh itu. Pantas saja ketika ia meraga sukma kembali ke masa kecilnya, saat ia pulang kemasa depan, tubuhnya terasa sangat remuk. Tidak seperti biasanya.
"Apa itu benar?". Tanya rie penasaran.
Dari mana sosok ruh dokter bara tahu tentang ini? Ruh rie merasa, bukankah hanya dirinya yang memiliki kelebihan spesial? Hanya dia yang bisa meraga sukma. Yang jadi pertanyaan di dalam otaknya, apakah dokter bara juga memiliki kelebihan spesial seperti dirinya? Kalau memang dokter bara memilikinya, kenapa waktu dulu tidak menceritakan kepada dirinya? Bukankah hubungan ia dan dokter bara dari sejak ia kecil sangat dekat?. Lebih dekat dari pada hubungannya dengan suaminya. Kembaran dari dokter bara.
"Itu menurutku. Kau kan tahu kalau kakak memiliki otak lebih cerdas dari pada kembaranku. IQ milikku lebih di tingkat dewa." Ucap ruh dokter bara sombong.
Ruh rie menekukkan wajahnya.
"Ish kakak! Kau tetap saja sama seperti dahulu. Tidak pernah berubah." Kata ruh rie protes.
"Aku?. Memangnya aku kenapa?". Tanya ruh dokter bara polos.
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan kakak. Pasti tidak akan pernah selesai." Ucap ruh rie.
Ruh dokter bara tersenyum tipis.
"Akhirnya kau mengakui IQ-ku adik kecil." Celetuk ruh dokter bara sedikit angkuh.
"Ish..." Decak rie kesal.
Ruh dokter bara terkekeh geli. Karena melihat ekspresi ruh rie yang seperti ini. Ekspresi yang sama sejak rie saat masih kecil. Ekspresi yang di rindukan oleh ruh dokter bara.
Ruh dokter bara menatap ruh rie dengan tatapan hangat. Seperti ada rasa cinta dan sayang dari dirinya untuk rie, yang sudah lama ia pendam. Apakah rasa sayang antara lawan jenis? Atau perasaan sayang kepada seorang adik bagi ruh dokter bara?
"Kakak, tadi sudah aku katakan kalau akan menjelaskan sesuatu ke kakak. Tapi berjanjilah kakak jangan terkejut dengan penjelasanku ya?". Kata ruh rie lagi.
"Hmmm. Katakan." Titah ruh dokter bara.
"Kakak sebenarnya aku sedang di rawat di hospital ini. Tubuhku sedang berada di ruang perawatan." Ruh rie membuka cerita.
"Apa kau koma? Sama sepertiku?". Tanya ruh dokter bara menyela.
Ruh dokter bara tiba - tiba terperanjat.
"Bukan seperti itu kakak. Tenanglah kak. Dengarkan aku." Ucap rie.
Ruh dokter bara menganggukkan kepalanya.
"Lanjutkan." Titiahnya lagi.
"Ish kakak!." Protes ruh rie.
Kembali ruh rie menekukkan wajahnya.
"Ayo cepat riecha." Paksa ruh dokter bara.
Ruh rie menghela nafas panjang.
"Kakak, sebenar aku tidak koma. Aku hanya di rawat saja karena kondisiku terlalu lelah. Tiga hari yang lalu aku pingsan dan kepalaku terbentur ke lantai. Lalu kembaran kakak langsung melarikan aku ke hospital ini. Tapi tadi aku sempat siuman. Kembaran kakak mengatakan itu kepadaku. Tentang bagaimana aku bisa di rawat di hospital ini." Cerita ruh rie.
"Lalu?". Tanya ruh dokter bara.
"Seperti yang kakak lihat sekarang. Kenapa ruh ku ada disini. Sebenarnya aku adalah anak indigo kakak. Salah satu manusia yang diberikan kelebihan special. Aku memiliki indera ke-enam. Dan aku bisa meraga sukma." Ungkap ruh rie.
Ruh dokter bara melepaskan lipatan kedua tangannya di dada. Spontan matanya terbelalak melihat ruh rie.
"Hah???!!!" Teriaknya bingung.