Rie

Rie
Pria Berambut Blonde Dan Mika



Mika, berdiri didepan hospital tempat ia bekerja. Tapi ia baru saja keluar dari hospital itu. Karena shift mika telah berakhir untuk hari ini.


Kebetulan mika memiliki double shift. Terpancar rasa lelah dalam dirinya. Untuk hari esok dan lusa, mika memiliki hari libur yang panjang.


Tampak, tangan kanan mika sedang menggenggam benda pipih berwarna merah. Sebuah handphone android miliknya. Mika memang sangat menyukai warna yang bersinar. Yang cerah. Terang benderang.


Mika sedang mengusap-usap layar handphone android miliknya. Tatapan matanya terus fokus melihat ke layar handphone miliknya.


Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi rie. Mengirim pesan kepada rie beratus kata-kata. Tapi tidak ada respon dari sahabatnya rie.


Mika terlihat mulai cemas. Mengangkat salah satu tangannya ke-atas. Mengusap-usap dahinya yang putih mulus. Lalu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Sampai ia tidak menyadari, bahwa ia kini sedang berdiri tegak di halaman depan hospital tempat ia bekerja.


Ia terlihat sangat fokus dan serius. Banyak pertanyaan yang muncul di dalam benak mika. Rasa ingin tahu tentang keadaan rie dari dalam dirinya. Rasa ke-khawatiran yang sedang membumbung tinggi di dalam hatinya. Hingga menimbulkan asumsi negatif tentang sahabatnya rie.


'Apa yang terjadi padamu rie?.' Gumam mika dalam benaknya.


Asumsi-asumsi negatif dalam benak rie, kian bermekaran seperti bunga mawar yang sedang merekah di salah satu sudut halaman hospital. Dekat dengan mika yang sedang berdiri dengan tegak.


Opini-opini pun mulai mengikuti dan mengalir di dalam fikirannya yang kini sudah tidak terlihat rapi dan bening. Terlukis dari raut wajahnya.


Sementara, dari dalam hospital tempat mika bekerja, tampak seorang pria berambut blonde. Baru saja turun dari lantai atas. Lantai khusus para dokter yang menjadi pegawai tenaga kesehatan di hospital tempat mika bekerja.


Pria berambut blonde, yang juga seorang dokter spesialis jantung berjalan melangkah menuju dinding kaca depan hospital. Tersita oleh pemandangan salah satu perawat yang sedang berdiri di halaman depan hospital tempat ia bekerja juga.


Saat ia keluar dari lift khusus untuk para dokter yang menempati lantai paling atas, ketika pintu lift itu terbuka, pria berambut blonde menangkap secara tidak sengaja. Sosok seorang wanita yang tengah berdiri tegap di halaman depan hospital. Yang tak jauh jaraknya dari pintu utama hospital.


Maka dari itu, tanpa ia sadari, kakinya melangkah dengan cepat ke arah dinding kaca hospital bagian depan. Berhenti dan berdiri di depan dinding kaca hospital. Dekat dengan pintu utama.


Menatap lekat ke arah mika. Merasa curiga dengan mika. Mika terlihat dengan jelas kini di dalam retina milik pria berambut blonde itu.


Pria berambut blonde yang juga berprofesi sebagai seorang dokter spesialis jantung, tersenyum sinis ke arah mika. Sambil tidak ada henti dari dirinya untuk berpaling melihat ke arah mika.


Mika, semakin serius dan fokus dengan fikirannya. Sambil terus berusaha menghubungi ke handphone android milik rie. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Rie tetap tidak menggubris telepon dari mika.


Mika mengerutkan keningnya. Kemudian menghembuskan nafasnya perlahan. Menggambarkan rasa kesal dari dalam dirinya, hatinya.


Sampai ia tidak menyadari, ada seekor tawon sedang mengitari dirinya. Menuju ke arah kaki mika.


Memang saat ini, mika tidak sedang mengenakan sepatu pansusnya. Sepatu khusus untuk seluruh perawat dan bidan yang bertugas menjadi tenaga medis di hospital ini. Dikarenakan mika merasa pegal dan lelah di bagian kakinya.


Mika hanya memakai kaus kaki tebal berwarna Dongker. Dan sandal jepit.


'Kau ini kemana rie? Membuat kepalaku menjadi berat saja' gerutu mika.


Seekor tawon yang berwarna hitam dan memiliki bagian warna merah di bokong milik tawon itu, dengan cepat terbang menuju ke kaki mika. Kearah bawah mata kaki milik mika, dan dengan spontan menusuk kulit dan daging kaki milik mika. Tepat dibawah mata kaki kanan yang di lapisi oleh kaus kaki dengan bahan sedikit lebih tebal berwarna dongker milik mika.


Mika yang sedang serius secara spontan terkejut dan berteriak kencang. Merasakan rasa panas, ngilu dan denyut yang terasa di kulit dan daging kaki kanan miliknya, akibat sengatan dari tawon itu. Tawon yang memiliki tubuh sebesar dua ruas kelingking milik mika. Kemudian dengan cepat menjalar kebagian atas kakinya. Hingga sampai terasa sakit yang dirasakan mika dari bagian tempat gigitan tawon itu hingga ke atas mata kakinya.


Mika berteriak kencang terus menerus. Hingga membuat pria berambut blonde yang sedang melihat mika dari dinding kaca depan hospital, berlari dengan cepat ke arah mika berada. Menghampiri mika dengan segera. Dengan tatapan serius dan cemas.'