
Sebuah bangunan megah, yang terlihat seperti gedung pencakar langit terlihat berdiri kokoh di salah satu kota ternama di Negara Indonesia. Hospital tempat rie dan mika dahulu bernaung.
Yah, meski hospital ini adalah kepemilikan suami dari rie sang dokter zoey, namun sampai detik ini rie sendiri belum mengetahui kalau hospital ini milik suami tercintanya. Dan belum menyadari akan hal itu. Karena wataknta yang tidak pernah perduli akan apa pun. Bukan maksudnya rie tidak 'care' terhadap lingkungan sekitarnya.
Kala itu saat dia masih berkecimpung di hospital mulik suaminya, dimana di dalam fikiran rie hanya kerja, kerja, kerja dan kerja. Serta mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Hanya itu yang selalu bertahta di dalam kerajaan benaknya.
Sebenarnya rie salah dengan sikapnya selama ini. Seharusnya rie tidak boleh membiarkan wataknya yang tidak perduli kepada lingkungan sekitarnya terus meraja lela menguasai dirinya. Karena rie adalah salah satu tenaga medis. Tenaga medis yang pada dasarnya adalah makhluk sosial yang paling tinggi rasa sosialnya terhadap sesamanya. Seharusnya rie bisa memilah dan memilih mana yang harus di lebih di perhatikan, di utamakan dan mana yang harus di hindari tentunya.
Di dalam ruang awal hospital, tampak sosok dokter moza tengah menggendong tubuh sang istri. Meletakkan tubuh istrinya di atas brankar. Lalu dengan sigap beberapa perawat dengan cepat melarikan tubuh istri dari dokter moza ke ruang IGD.
Dokter moza memijit pelipisnya. Kemudian ia segera menghampiri dimana istrinya kini tengah berada. Tatapannya terlihat tajam menatap para perawat yang sedang menangani sang istri.
"Hey kalian! Aku tidak menyuruh kalian membawa pasien ini ke ruang ini. Aku mau membawanya ke ruang perawatan VVIP!." Suara dokter moza terdengar sedikit berteriak. Membuat para perawat yang sedang menangani istrinya terlihat dengan ekspresi wajah pias.
Sontak, seseorang muncul di belakang dokter moza. Menepuk pundak dokter moza.
"Ternyata ketika istrimu pingsan kau terlihat bodoh moza. Tidak menunjukkan kalau kau adalah dokter yang hebat. Singkirkan kepanikkanmu itu." Sapa dokter zoey yang menepuk pundak dokter moza.
Rie berjalan mendekati mereka. Berdiri di hadapan dokter moza.
"Adik ipar. Walau kau salah satu dokter terhebat di hospital ini, tetap saja kau harus mengikuti aturan. Walau mika adalah istrimu, ikuti saja 'Rules' yang sudah di tentukan oleh hospital ini. Kau ini berlebihan sekali. Ck... ck... ck..." Ujar rie sedikit sarkas.
Yuki menghelas nafasnya panjang. Menatap kepada tiga orang yang ada di hadapannya kini.
"Anak-anak. Bisakah kalian diam?. Lihat. dr.Oxy sudah datang. Menyingkirlah kalian. dokter oxy akan menangani mika." Tegur yuki kepada dokter moza, dokter zoey dan rie.
Sementara alan hanya diam saja. Tidak mengeluarkan reaksi apa pun. Hanya melihat komunikasi antara empat orang yang ada di dekatnya.
Dokter oxy berjalan menuju ke arah mika yang sedang terbaring dan masih tidak sadarkan diri.
"Permisi Tuan-tuan dan nona." Ucap dokter oxy datar.
Mata dokter zoey menatap dokter oxy dengan sedikit tajam. Baru kali ini dia melihat dokter oxy. Sebelumnya ia tidak pernah terlalu memperhatikan para stafnya yang bekerja di hospital miliknya. Ternyata ada dokter lain selain dirinya yang memiliki sikap dingin kepada orang lain.
Yuki memberikan kode kepada dokter zoey. Agar tidak membuat ulah. Dimana biasanya jika dokter zoey tidak menyukai seorang stafnya, maka tanpa segan ia akan memecat orang itu. Tidak perduli bagaimana perasaan orang itu kepadanya. Apakah marah atau akan sangat membenci dirinya.
Dokter oxy dengan telaten menangani mika. Sampai prosedur yang telah dilakukannya selesai.
Selang beberapa waktu, mika tersadar dari keadaannya. Samar-samar ia melihat suasana putih di sekelilingnya. Dan bau khas hospital yang terasa menyengat di indera penciumannya.
Kini pandangannya mulai kian jelas. Tampak di kedua netranya kehadiran keluarganya di dekat dirinya. Yang seharusnya tidak boleh terlalu banyak yang masuk ke ruang ini.
Dokter oxy tersenyum menatap mika.
Pandangan mika memang terlihat jelas saat ini. Namun perasaannya mengatakan dunia tengah berputar kencang. Seperti ia tengah berada di dalam komidi putar yang sedang berputar sangat kencang. Sehingga ia merasakan mual dan ingin muntah.
"Dokter oxy?." Tanya mika lembut.
Dokter moza terlihat menggeretakkan giginya. Terlihat hatinya sedikit panas saat melihat sang istri sedang berbincang dengan dokter oxy.
Dokter zoey tersenyum sinis melihat tontonan gratis yang di suguhkan di kedua pelupuk matanya. Seperti melihat film layar lebar di bioskop. Tanpa membeli tiket. Dan baginya sedikit menggelikan melihat sikap dokter moza yang tertangkap oleh pandangannya.
Dokter oxy mengganggukkan kepalanya.
"Apa yang kau rasakan sekarang mika?." Tanya dokter oxy kepada mika.
"Aku merasa dunia sedang berputar hebat. Membuatku mual dan serasa ingin muntah. Apa lagi melihat manusia itu." Ucap mika sambil menunjuk pada sosok suaminya.
Semua mata secara spontan menatap kepada sosok dokter moza. Membuat dokter moza terpaku dan menjadi kikuk. Ekspresi wajahnya yang terlihat bingung nampak jelas tertangkap oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Benar-benar membuatku semakin mual. Bisakah dokter singkirkan manusia itu dari hadapanku?." Pinta mika sedikit manja kepada dokter oxy.
Dokter zoey tertawa jelas kala melihat adegan yang absurd menurutnya. Apalagi reaksi dari sahabatnya yang begitu terlihat lucu di matanya.
"Zoey, diamlah! Jangan kekanak-kanakkan." Tegur yuki mengingatkan puteranya. Sehingga membuat dokter zoey terdiam seketika.
"Tuan, bisakah kau keluar dari ruangan ini? Pasienku tidak ingin melihatmu. Aku khawatir nanti psikis pasienku akan menjadi 'drop' jika kau berada disini." Kalimat yang meluncur dengan indah keluar dari mulut manis dokter oxy.
Dokter moza terlihat berang. Secara reflek tubuhnya maju hendak menggapai dokter oxy. Namun dokter zoey dengan cepat menahannya.
"Moza hentikan! Tenanglah!." Kata dokter zoey kencang.
Dokter moza mengatur nafasnya yang terdengar sedikit menderu.
"Hey dokter gila. Aku ini suaminya. Kau tidak berhak mengatakan kalimat itu kepadaku. Kau tidak punya hak. Apa kau mau merebut istriku dariku?! Aku tidak akan segan mengikatmu di pohon Tauge!." Teriak dokter moza tanpa ampun.
Sekeliling orang-orang di ruangan itu menatap pada dokter moza dan dokter oxy. Melihat kejadian aneh di mata mereka.
Dokter oxy mengerenyitkan dahinya. Menatap sinis kepada dokter moza.
"Hey, tuan suami pasienku yang terhormat. Aku tidak tertarik kepada istrimu. Apa kau sudah gila? Kau sangka aku seorang yang lesbian ya? Aku ini sudah memiliki suami dan anak. Huft." Keluar kalimat sakti dari mulut dokter oxy yang memecahkan suasana di ruang itu.
Dokter moza terdiam seketika kala mendengar suara lantang yang keluar dari mulut dokter oxy.