Rie

Rie
Kepulangan Suami Milik Rie



Langit tampak semakin gelap. Pertanda malam telah hadir untuk menemani sang cakrawala. Sementara Jadwal shift sang pagi dan sore hari telah usai hadir di permukaan bumi.


Kini langit enggan memakai topinya yang bernama sang rembulan. Hanya ingin terlihat manis di mata orang-orang yang hidup di atas bumi ini. Makanya ia memasang bintang-bintang sebagai jepit rambut bagi sang langit di malam ini. Serta sedikit di hiasi dengan polesan blush on berwarna putih kelam yaitu sang awan yang biasa juga selalu hadir di galaksi bima sakti ini.


Lagi, rie terbangun dari tidur lelapnya. Sudah sejak siang ia tertidur. Sampai ia tidak sadarkan diri tertidur lama hingga malam telah menjelma.


Rie mengerjap-kerjapkan kedua matanya. Membuka perlahan kedua kelopak matanya. Hingga pertama yang tertangkap oleh kedua netranya adalah langit-langit plafon berwarna putih bersih di dalam kamar utama miliknya dan sang suami.


Tidak ada sosok sang suami di sampingnya kala matanya telah terbuka untuk menghadapi dunia nyata saat ini. Sepertinya sang suami masih belum pulang dari hospital tempat ia pernah bekerja di sana. Mungkin terlalu banyak pasien yang ditangani oleh suaminya. Sehingga sampai selarut ini pun sang suami belum berada di sisinya.


Rie memiringkan tubuhnya ke arah kanan. Menatap pintu masuk kamarnya dengan tatapan kosong.


Terlintas kejadian tadi siang saat ia sedang meraga sukma kembali.


Kala ia secara tidak sengaja bertemu dengan sosok ruh dokter bara. Kembaran suaminya. Dimana banyaknya pertanyaan di dalam benaknya yang sudah tuntas terbahas dengan sosok sang ipar yang masih dalam bentuk ruh.


Cerita sebenarnya tentang kejadian nahas yang dialami oleh dokter bara. Yang telah merenggut kesadaran dokter bara di dunia nyata. Hingga menjadikan dokter bara mengalami koma yang panjang.


Yang membuat rie tidak menyangka adalah karena dirinya lah sosok kembaran suaminya mengalami kecelakaan.


Padahal sosok dokter bara kala itu tidak mengetahui kalau saat pernikahan dirinya, ketika sang suami mengikrarkan janji suci dengan menjabat tangan sang ayah, rie tidak berada di sana.


Ayahnya memutuskan keputusan sepihak untuk masa depan rie. Dalam segala hal. Termasuk pernikahannya. Tanpa bertanya kepada rie. Tanpa bertanya apakah rie setuju atau tidak. Rie tidak pernah punya suara di dalam kehidupannya.


Rie memang tipikal anak yang penurut dan baik. Ia tidak pernah menolak atau membantah setiap titah dan kehendak sang ayah. Ia selalu menuruti apa pun keputusan ayahnya dalam segala hal. Karena bagi rie, apa pun yang di putuskan ayahnya adalah yang terbaik untuk dirinya. Ia tidak mau menjadi anak yang di cap durhaka kepada orang tua nya. Dan juga, rie ingin sang ayah selalu bahagia. Makanya ia selalu menuruti apa pun yang ayahnya mau.


Perut rie mulai terasa keroncongan. Memang sejak siang ia belum sempat mengisi lambungnya dengan makanan. Karena ia terlalu lelah hingga tertidur pulas sampai awal malam menjelang.


Rie mulai membangkitkan tubuhnya dari atas peraduan. Kedua kakinya mulai menyentuh lantai kamarnya. Samar-samar matanya mulai menangkap pemandangan sedikit aneh. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Untuk pertama kalinya.


Dimana di dalam tiap petak lantai keramik kamarnya terlihat dua buah hewan yang melekat. Yang bergerak-gerak. Tapi tidak dapat disentuh. Hanya bisa dilihat dengan indera penglihatannya. Hewan laut yang bernama cumi-cumi besar yang memiliki tentakel berwarna merah. Juga seekor ikan hias yang memiliki kulit berwarna hitam dengan sedikit lapisan kuning. Membuat rie seketika tertegun. Namun untuk hal-hal yang aneh seperti saat ini, rie terlihat sudah mulai biasa menghadapinya.


Rie mulai tidak memperdulikan kelakuan mahkluk astral dalam bentuk hewan di pandangan matanya saat ini.


Ia tetap mendaratkan kedua kakinya di atas lantai keramik kamarnya. Berdiri tegak dengan cepat. Kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya.


Kini rie sudah berada di ruang dapur. Membuka kulkas untuk mengecek bahan makanan yang akan ia racik menjadi makanan.


"Nyonya. Sebaiknya jangan membuat letih tubuh nyonya. Makan malam sudah saya siapkan di atas meja. Apa nyonya tidak menyukainya?". Tanya asisten rumah tangganya.


Rie memutar tubuhnya menghadap ke asisten rumah tangganya. Ia tersenyum simpul.


"Aku belum mengeceknya. Sebenarnya aku ingin memasak. Tapi jika kau sudah menyiapkannya, baiklah. Aku akan menyantapnya. Masakkanmu selalu enak. Terimakasih ya." Ujar rie kepada asisten rumah tangganya.


Rie tidak jadi untuk memasak. Niat hati ingin menciptakan hidangan yang diinginkannya menjadi pudar. Takut nanti asisten rumah tangganya menjadi kecil hati. Merasa tidak dihargai oleh atasannya dengan suguhan masakannya. Mungkin lain waktu rie bisa ikut menyentuh dapur miliknya bersama asisten rumah tangganya nanti. Bisa memasak bersama.


"Hey sayang. Aku sudah pulang." Ucap dokter zoey sambil melambaikan tangan kanannya.


Bergegas dokter zoey membuka sepatu kerjanya. Menukarnya dengan sandal khusus untuk di dalam rumah.


Dengan cepat ia berjalan menuju wastafel di dapur rumahnya. Yang sebelumnya ia meletakkan tasnya di atas meja ruang tamu.


Dokter zoey mencuci kedua tangannya dengan cekatan. Kemudian mengeringkannya dengan hand dryer yang menempel di dinding dekat wastafel.


Tatapan rie tidak putus melihat gerak-gerik tubuh suaminya. Mengikuti setiap langkah suaminya dengan tatapan dari kedua indera penglihatannya.


Tanpa ia sadari suaminya kini sudah berada di hadapannya.


Dokter zoey menjentikkan jemarinya di kening sang istri. Sehingga membuat fikirannya menjadi buyar.


"Hey, apa yang kau lamunkan sayang? Apa kau terpesona melihat suamimu ini?". Tanya dokter zoey sedikit genit sembarj tersenyum.


Rie terlihat cemberut mendengar ucapan dari suaminya.


"Ish. Jangan berlebihan." Sanggah rie sedikit ketus.


Dokter zoey terkekeh geli. Tiba-tiba ia ingin memeluk tubuh istrinya. Sehingga secara reflek rie mendorong tubuh suaminya dengan pelan.


"Kenapa sayang? Apa aku tidak boleh memeluk istriku sendiri hah?". Tanya dokter zoey.


"Bukan begitu suamiku. Kau baru saja pulang dari hospital. Dan kau belum membersihkan dirimu." Jelas rie.


Dokter zoey memegang pipi istrinya dengan kedua belah tangannya.


"Sayang, sebelum pulang kesini suamimu ini sudah mandi terlebih dahulu di hospital. Ruang kantor pribadiku kan seperti sebuah apartement mini. Apa kau tidak memperhatikan saat itu hah?" Ucap dokter zoey sambil mencubit hidung istrinya.


"Tapi kau tidak melakukan hal aneh-aneh kan sayang?". Tanya rie memastikan.


"Tentu saja tidak. Jangan berfikiran negatif sayang. Suamimu ini adalah pria yang sangat setia." Terang dokter zoey.


"Jangan berlebihan... Hiiish." Kata rie sedikit kesal.


"Aku sudah sangat lapar sayang. Bisakah kita makan sekarang?" Pinta dokter zoey.


"Hmmm. Sekalian kita berbincang yah. Ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu." Ucap rie sembari mengambilkan piring makanan untuk suaminya.


"Apa yang ingin kau tanyakan sayang?". Tanya dokter zoey lembut.