
Leah menatap ibunya tajam. Seperti rasa amarahnya yang membara kian berkobar. Sudah lama ia banyak menyimpan luka di hatinya. Luka yang disebabkan dari buah perbuatan ibunya. Dimana monita selalu menjadi orang yang diktator di dalam urusan rumah tangganya, termasuk kepada leah puterinya. Sikap otoriternya yang selalu mendominasi dalam segala hal. Termasuk untuk kehidupan leah, semuanya diatur oleh monita.
Monita yang memiliki watak yang keras, tidak bisa di bantah dan selalu tidak menerima penolakkan dari orang - orang yang memiliki urusan dengannya. Watak dan sifatnya itu secara langsung di wariskan kepada puteri keduanya, mika. Adik kandung dari leah. Sementara leah mewarisi watak dan sifat dari ayahnya, shane. Ayahnya yang memiliki watak yang bisa di bilang hampir sempurna. Kesabaran, kelembutan dan segala yang terbaik melekat di dalam dirinya.
Kini leah sudah tidak bisa berdiam diri lagi. Segala beban yang ia tahan dalam dirinya kini mulai makin mendesak hatinya untuk bertindak. Ia ingin memperbaiki segalanya. Meluruskan kesalahan yang di buat oleh ibunya. Selama ini dia sengaja diam, karena ia tidak mau dicap menjadi anak yang durhaka. Yang selalu membantah dan membakang kepada kedua orang tuanya. Tidak! Ayahnya tidak pernah mengajarkan leah untuk memiliki sikap kurang ajar seperti itu. Shane selalu mendidik leah dengan sangat baik. Menjadikan leah anak yang sopan, elegan, cerdas dan memiliki etika yang tinggi.
Tapi kali ini semua itu sepertinya akan hancur. Karena leah sudah tidak tahan lagi dengan sikap otoriter dari sang ibu. Ini sudah tidak benar. Tidak ada sama sekali ibu memiliki perubahan untuk sikap dan kelakuannya. Apa karena kariernya? Apa karena takut paparazi mengabadikan kelakuan ibu dengan kamera mereka? Apa ibu takut paparazi mempublish kepada dunia tentang kejelekan ibu sehingga ia akan di cap sebagai figur aktris yang bobrok? Lalu karirnya menjadi hancur. Apa begitu?
Sesak ini sampai membuat hatinya seperti menjadi remuk. Tidak bisa, leah sudah tidak sanggup untuk menahannya lagi.
"Mama. Kenapa mama bisa menjadi sangat tega seperti ini?". Ucap leah tajam.
Monita masih diam. Sama sekali ia tidak menggubris pertanyaan dari puterinya.
Tidak ada tindakkan dari shane atas ucapan yang keluar dari mulut puteri pertamanya untuk istrinya. Ia hanya melihat interaksi dari leah kepada monita, istrinya.
"Bisakah mama bersikap normal? Layaknya seorang ibu kepada anak kandungnya." Ucap leah lagi.
Kedua kantung mata leah mulai terlihat membesar. Bola matanya terlihat terendam dengan air. Matanya kian berkaca - kaca. Rasa sesak di dalam dadanya kini membuat dirinya ingin menangis. Sehingga tangis itu pun terjadi. Air matanya mulai tumpah, mengalir begitu saja dari yang menjadi indera penglihatannya. Membasahi kedua pipinya. Semakin deras mengalir. Kesedihan yang tidak sanggup ia bendung lagi.
"Dia adikku mama. Adik perempuanku. Adik kandungku!". Teriak leah akhirnya.
Pecah. Sikap tidak sopan leah kepada sang ibu akhirnya pecah. Yang sebenarnya walaupun orang tua memiliki kesalahan, tidak boleh seorang anak untuk menegurnya atau bersikap tidak sopan. Karena ia hanya seorang anak. Bukan seseorang yang berhak untuk menegur orang yang lebih tua. Bukan orang yang lebih tua dari orang tuanya. Sebagaimana seharusnya di dalam peraturan, orang yang berhak untuk menegur orang tua adalah orang yang lebih tua dari pada orang itu atau tokoh agama yang bisa memberikan bimbingan dan arah yang tepat.
"Leah! Monita adalah ibumu. Kau tidak boleh tidak sopan seperti itu. Daddie tidak pernah mengajarkan kau untuk tidak sopan seperti ini!". Teriak shane.
Shane mulai menghentikan leah. Agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan nantinya. Ia tidak ingin puterinya menjadi anak yang durhaka kepada istrinya.
Terlihat ekspresi dari raut wajah monita ada gurat kesedihan. Penyesalan di dalam hatinya mulai menghampiri jiwanya. Sama seperti yang leah rasakan. Perasaan sesak yang kini mulai menduduki tahta di dalam hatinya. Tapi apa yang mau di katakan? Monita tidak bisa memutar waktu untuk kembali ke masa lalu. Mencegah kelakuannya sendiri yang telah melimpahkan hak asuh puteri keduanya kepada kakak iparnya. Kakak dari shane, alan monte. Seperti kata pepatah, 'nasi sudah menjadi bubur'. Tidak mungkin bubur kembali menjadi beras.
Shane secara reflek menarik tubuh istrinya. Memeluk tubuh istrinya erat. Mendekap tubuh istrinya dalam pelukkannya. Mengusap - usap punggung istrinya dengan lembut. Ia ingin menenangkan istrinya. Agar menjadi lebih tenang. Tenang dari kekalutan monita.
"Maaf...kan aku. Maaf...aku... Aku yang salah." Ungkap monita sambil terisak - isak.
Shane semakin lembut mengusap - usap punggung istrinya.
"Sssttt... sudah sayang. Tenangkan dirimu. Tenang sayangku." Ucap shane lirih.
Leah menatap ayah dan ibunya. Kembali penyesalan menghampirinya. Seharusnya ia tidak melontarkan kalimat tajam kepada ibunya tadi. Seharusnya ia masih bisa membendung rasa kecewa dan amarahnya. Bukankah jika memiliki masalah bisa di bicarakan dengan baik - baik? Agar segera menemukan titik terang dalam masalah itu, yaitu solusi positif. Bukan solusi negatif. Sehingga akan tercipta kedamaian. Dan masalahpun akan sirna. Akan hilang dari hubungan antara orang - orang yang sedang bertikai.
Tapi ini bukan soal pertikaian antara dua orang manusia. Tapi komunikasi yang kurang komunikatif. Karena sifat tidak puas manusia dengan apa yang di anugerahkan dari Sang Pencipta kepadanya. Rasa tidak bersyukur. Sehingga menjadikan manusia itu di kuasai oleh sifat tamak, yang di aplikasikan dengan tindakkan dari diri manusia itu sendiri. Yang dimana sifat tamak itu melahirkan keangkuhan atau kesombongan. Melahirkan sifat keegoisan. Sehingga menjadikan seorang manusia itu menghadirkan sifat tinggi hati.
Leah mendekat ke ibu dan ayahnya. Dengan perlahan ia mulai menyentuh pundak ibunya. Mengusap - usap pundak itu dengan lembut. Masih mengalir air mata di pipinya. Namun sudah tidak sederas tadi. Saat pertama leah mendengar berita yang menggemparkan jiwanya. Tentang adik kandungnya. Yang belum jelas melekat dalam otaknya, dimana keberadaan adik kandungnya kini.
"Mama. Maafkan leah. Maaf mama. Leah salah. Seharusnya leah tidak bersikap kasar pada mama tadi." Leah memohon pada ibunya.
Terdengar isak tangis monita semakin menjadi - jadi. Semakin kencang.
Sementara shane semakin mengeratkan pelukkannya. Ia memberikan isyarat kepada puterinya untuk tidak mengganggu isterinya dahulu. Maksud shane biar isterinya bisa tenang dahulu. Baru nanti mereka bertiga bisa membahas hal ini. Bisa dibicarakan dengan baik - baik. Dalam ketenangan dan dengan fikiran yang dingin.
"Sudah sayangku. Tenanglah. Aku tidak ingin kau sedih seperti ini. Nanti aku juga bisa ikut menjadi sedih sayangku." Shane mencoba menenangkan istrinya.
Kini, perlahan tidak terdengar lagi suara isak tangis dari monita. Tapi nafasnya seperti terdengar belum teratur. Masih ada sedu sedan sedikit - sedikit.
"Monita sayang. Bisakah kita duduk dulu sayang?" Ajak shane dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya.