Rie

Rie
Kejutan Dari Rie



Tiga hari kemudian...


Tap... tap... tap...


Rie melangkahkan kaki di koridor hospital. Berjalan menyusuri setiap kotak - kotak keramik lantai koridor hospital.


Entah mengapa rie merasa bosan di rumah. Hingga ia berfikir ingin memberi kejutan kepada dokter zoey, suami-nya. Dokter zoey yang sedang bertugas di hospital.


Mungkin karena ia terbiasa menjadi tenaga kesehatan juga. Menangani pasien. Merawat pasien. Sampai kadang rie selalu mengambil double shift.


Sudah menjadi janji rie pada diri-nya sendiri. Seperti sumpah profesi yang telah ia ikrarkan dulu saat wisuda, bahwa ia akan sepenuh hati menjalani tugas sebagai tenaga kesehatan. Membantu pasien, menangani serta merawat pasiennya kelak. Sampai ketika rie sedang off, tidak ada jadwal shift, rie tetap melayani pasien dengan memberikan layanan 'home care'. Tapi kebanyakan pasien yang di layani rie secara home care posisi rumah mereka berada di pelosok - pelosok. Rie membutuhkan waktu dua sampai tiga jam untuk sampai ke rumah pasiennya. Bagi rie, tidak ada rasa lelah jika sudah melakukan tugasnya sebagai tenaga kesehatan.


Tapi sayang, semua itu kini sirna sudah. Sejak ia di pecat oleh dokter zoey dan di 'culik' paksa oleh pria itu, yang ternyata adalah suami-nya sendiri.


Rie di rumah kan. Hanya boleh menjadi ibu rumah tangga saja saat ini.


Sikap posesif dokter zoey kepada istri-nya, yang takut jika istri-nya hilang lagi dari pandangannya, atau bahkan jika ada pria lain yang menyukai istri-nya, itu pasti membakar adrenalinnya. Untuk mengeluarkan amarahnya yang terpendam dan akan mengajak orang itu berduel dengannya.


Yang benar saja? Ini benar - benar membuat rie jenuh. Tapi, apa yang bisa rie lakukan? Protes? Melawan? Atau marah? Tidak mungkin. Tentu saja nanti ia akan di cap sebagai istri yang 'durhaka' kepada suami-nya. Dan seorang istri yang tidak memiliki attitude. Pasti-nya nanti akan membuat ayah kandung rie murka kepada diri-nya. Hal yang sangat ditakutkan oleh rie.


'Hey, kau bikin malu papa saja!' dalam benak rie, kalimat itu yang akan di lontarkan oleh ayahnya nanti. Bikin kepala rie berputar. 'Ya ampun, yang benar saja. Jangan sampai itu terjadi.' Kalimat ini mengitari otak rie.


Akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, rie harus menerima kenyataan. Mengikuti keputusan suami-nya. Titah dari suami-nya. 'Sayang, kau di rumah saja ya. Tidak usah bekerja. Suami-mu ini yang harusnya menafkahi-mu. Kau istri-ku. Jadi tunggu saja aku dirumah ya.' Perkataan suami-nya beberapa waktu lalu, kembali terngiang di dalam fikirannya.


Kalau di fikir - fikir, geli rasanya mendengar ucapan manis seperti itu dari suami-nya. Dimata rie kini, sosok dokter zoey yang terkenal dingin dan pemarah, langsung luntur. Berubah menjadi ramah, lembut, perhatian dan hangat.


Dasar rie bodoh, tentu saja dokter zoey bersikap seperti itu kepada diri-nya. Kan istri-nya.


Sepertinya rie sudah mulai membuka hati-nya untuk suami-nya. Terlihat dari sikap rie saat ini. Yah, rasanya di mulai dengan perlahan saja. Biar berjalan secara natural. Rie mengikuti seperti air mengalir saja. Tapi tetap saja ia akan berusaha untuk memupuk perasaan ini. Karena menurut rie, suami-nya berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya. Kan sudah menjadi istri-nya. Tapi ini benar - benar tulus dari hati rie, bukan hanya karena kewajibannya sebagai seorang istri.


Sejak rie melangkahkan kaki di hospital. Dimulai dari lantai dasar, pintu hospital utama. Semua mata tertuju pada rie. Semua mata tenaga kesehatan yang ada di hospital ini. Tempat dimana ia pernah meraup pundi - pundi dahulu. Yang kebetulan berlalu lalang di ruang yang sama dengan rie. Yang berpapasan dengan diri rie. Tapi, rie mengacuhkan mereka. Mengabaikan tatapan mereka kepada diri-nya. Rie tidak ingin ambil pusing. Terserah mereka saja mau menatapnya terus menerus. Ataupun menilai diri-nya bagaimana.


Dokter zoey menghentikan langkahnya. Berhenti di depan tubuh istri-nya. Menatap istri-nya hangat. Hingga tersenyum bahagia kala melihat istri-nya.


Rie sedikit kikuk. Malu karena dokter zoey menatapnya hangat. Belum terbiasa dengan statusnya sebagai istri dari dokter zoey. Dan membuat dua orang rekan dokter zoey yang berdiri tepat di belakang dokter zoey terlihat bingung. Menatap dua orang manusia, seperti anak remaja yang sedang di landa asmara. Cinta pada pandangan pertama. Seperti anak kecil. Apakah ini manusia dewasa? Atau anak remaja yang sedang mengalami cinta monyet?.


"Sayang? Kau datang?." Tanya dokter zoey kepada rie istri-nya.


"Hmmm... Aku memberikan-mu kejutan." Rie mengangguk sambil tersenyum.


Netra dokter zoey jatuh pada kedua tangan rie. Yang sedang memegang kotak makanan. Kotak makanan seperti dari kayu. Khas buatan jepang. Seperti untuk bento. Dokter zoey mengernyitkan dahi-nya.


Rie menyadari tatapan dari suami-nya. Kemudian rie mengangkat tangannya yang sedang memegang kotak bekal makanan.


"Aku membawakan-mu makanan. Ini aku memasaknya sendiri. Khusus untuk-mu." Ucapnya bangga. Memberikan senyum terbaiknya pada dokter zoey.


Dokter zoey tersenyum. Senyum yang memperlihatkan gigi-nya yang putih dan rapi. Senyum bahagia.


"Benarkah? Terimakasih banyak sayang. Aku akan memakannya. Tapi kau temani aku." Jawab dokter zoey lembut.


Rie menganggukan kepalanya.


"Sayang, aku masih harus menyelesaikan tugasku dahulu. Aku akan melakukan visite pada pasien - pasien ku dulu. Lalu aku mau rapat sebentar dengan para dokter di hospital ini. Tidak lama. Bisakah kau naik ke atas sayang? Tunggu aku di ruanganku." Kata dokter zoey.


"Baiklah." Jawab rie.


Dokter zoey memberikan kartu akses untuk masuk ke ruangannya pada istri-nya. Rie langsung mengambilnya dari tangan dokter zoey. Lalu ia pamit dan berlalu dari hadapan suami-nya dan dua rekan kerja suami-nya. Berjalan menuju lift khusus untuk ke ruangan suami-nya.


Semantara, dua rekan kerja suami-nya terdiam membisu. Saling berpandangan. Dengan tatapan terkejut. Dalam benak mereka saat ini ketika mereka saling berpandangan. 'Apakah ini nyata? Seperti mimpi saja. Wanita itu mirip seperti Bidan di hospital ini. Yang benar saja? Seorang pemimpin di hospital ini yang memiliki sikap dingin dan watak keras kenapa bisa seperti ini? Sayang? Apa?'. Mata dua rekan kerja dokter zoey terbelalak saat sadar dengan kejadian yang barusan terjadi di netra mereka.