
Hari ini, saat mika sedang berdiri di dekat jendela kamarnya di rumah alan monte sang paman, ia menangkap sosok dokter moza yang baru saja memasuki pelataran rumah alan monte. Dan bukan hanya dokter moza yang ia lihat, ia juga jelas melihat dengan netranya sosok sepasang suami istri. Suami istri?
Yah, sosok sepasang suami istri yang tidak lain adalah orang tua kandungnya. Ada perasaan, sedih yang kian membuncah didalam dadanya. Terasa sangat sesak. Mika yang masih belum siap menerima kenyataan yang dihadapinya saat ini. Ia merasa sedang memikul beban yang sangat berat. Seperti sedang membawa sebuah batu yang amat besar di punggungnya.
Masih menari - nari di dalam kepalanya, pertanyaan - pertanyaan yang menyesakkan dadanya. Yang melekat di benaknya. Tentang orang tua-nya. Mengapa orang tua-nya tidak merawatnya, memeliharanya, membawa dirinya kemana orang tua-nya pergi? Mengapa malah menitipkan diri-nya kepada sang paman. Yang ia sadari adalah kakak dari ayah kandungnya. Maksudnya apa orang tua-nya melakukan tindakkan seperti ini? Mengapa?
Sampai detik ini, mika belum dapat menemukan jawabannya. Entahlah.
Kini, kedua indera penglihatan mika masih mengekori tiga sosok manusia yang ada di halaman rumah pamannya. Hingga tiga sosok manusia itu hilang dari pandangannya dan telah memasuki rumah pamannya.
Mika menghela nafas panjang. Melepaskan tekanan batinnya sedikit demi sedikit.
Terbesit dalam benaknya kembali, pertanyaan yang merong - rong otaknya. Ada apa sosok tiga orang tadi datang kerumah pamannya secara bersamaan? Apa ini tentang masalahnya dengan dokter moza? Kesalahan fatal yang telah di perbuat dokter moza kepada dirinya? Apakah hendak menyelesaikan masalah itu? Membicarakan masalahnya dengan dokter moza? Apakah akan membahas rencana pernikahannya dengan dokter moza? Tapi mengapa pamannya tidak membicarakan hal ini dulu kepadanya kalau memang tentang pernikahan yang akan diadakan untuk dirinya dan dokter moza? Dianggap apa dirinya oleh pamannya?
Berdiam diri didalam kamar, mengurung diri didalam kamar, menjauhkan diri dari orang - orang yang ada di sekelilingnya, bukankah tidak akan membuat beban yang ia pikul menjadi hilang atau semakin berkurang? Seharusnya tiap lika - liku hidup ini harus di terima dengan ikhlas, dihadapi dan dijalani dengan baik oleh siapa pun bukan? Termasuk mika.
Hal itulah yang baru saja terbentuk di fikiran mika. Ia mulai merasa harus rela dan ikhlas menghadapi kehidupannya saat ini dan kedepannya. Menerima kenyataan yang sudah tersaji untuk ia nikmati. Layaknya seperti makanan yang harus ia masukkan kedalam lambungnya. Sama halnya dengan mimpi bukan? Tiap - tiap manusia tidak bisa menentukan skenario hidupnya masing - masing. Bukan urusan manusia! Ini sudah takdir dan ketentuan dari Sang Maha Pencipta. Tiap manusia tinggal mengikuti saja alur yang sudah di tentukan. Tinggal harus menghadapi dan menjalani kehidupan masing - masing yang sudah di takdirkan jelas untuk tiap manusia. Dan tidak boleh menentang atau memungkiri. Cukup ikuti. Jangan melawan arus karena kelak akan membuat fatal untuk diri sendiri. Tidak boleh seorang manusia menentang yang sudah digariskan untuknya. Dan satu hal yang paling penting. Cukup bersyukur! Karena segala sesuatu akan indah pada waktunya. Seperti kata pepatah.
Kembali, mika menghela nafasnya panjang. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya.
'Apakah aku harus keluar dari kamar untuk menemui mereka? Mendampingi pamanku?.' Tanya mika dalam benaknya.
Mika melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia mulai merasa harus membersihkan dirinya. Padahal diluar cuaca tidak sehangat seperti biasanya. Yang ada terasa sangat dingin. Karena mendung yang masih saja menghiasi langit.
Sementara di ruang tamu rumah alan, telah hadir sosok tiga orang yang ditangkap oleh netra mika tadi saat melihat mereka melalui jendela kamarnya. Dokter moza dan kedua orang tua kandung mika. Shane dan Monita. Yang saling memandangi. Melukiskan raut wajah bingung dari wajah monita kepada dokter moza. Dan dokter moza yang memberikan senyuman manis kepada dua orang manusia yang ada dihadapannya kini.
Tampak alan datang mendekati mereka. Lalu duduk di kursi tunggal tepat di hadapan dokter moza dan kedua orang tua kandung mika.
"Halo shane, monita. Terimakasih atas kedatangannya. Sebenarnya ada hal sangat penting yang ingin aku sampaikan kepadamu shane." Kata alan kepada shane dan monita. Adik beserta iparnya.
"Moza. Kenalkan. Ini shane, adikku. Dan itu monita istri dari adikku. Mereka adalah orang tua kandung mika." Jelas alan.
Dokter moza tersenyum kepada shane dan monita.
"Shane, tentang hal mika yang kemarin, nanti akan kita selesaikan. Aku ingin menyelesaikan hal yang satu ini. Menurutku lebih penting untuk kehidupan mika kedepannya." Jelas alan lagi.
Shane mengerenyitkan keningnya. Seolah tatapannya bertanya apa maksud dari perkataan kakaknya. Tapi, mulutnya masih saja terkunci. Hingga lisannya belum bisa meluncur dengan indah.
"Shane, ini adalah moza. Calon suami mika, anakmu." Alan memperkenalkan moza kepada ayah mika. Alan sedikit mengacuhkan monita. Tidak menyelipkan nama monita ke dalam kalimatnya barusan.
Shane secara reflek melihat ke arah moza. Menatap dokter moza. Ada rasa terkejut sedikit didalam dirinya. Karena mendengar ucapan dari kakaknya tentang mika anaknya.
Baru saja beberapa waktu lalu alan mengumumkan bahwa dirinya dan istrinya adalah orang tua kandung mika kepada mika anaknya. Kini kenapa tiba - tiba saja alan mengumumkan mika akan menikah dengan pria yang ada di ruang yang sama dengannya? Sebenarnya yang berhak menentukan tentang mika, shane atau alan? Bukankah status alan hanya sebagai paman? Bukan seorang ayah.
"Maksudku memanggilmu ke rumahku adalah untuk membicarakan pernikahan mika. Tapi, aku tidak bisa menjadi wali nikah mika bukan? Karena kau sebagai ayahnya masih hidup. Dan harus kau yang menjadi wali nikah mika." Sindir alan.
Dokter moza mencoba memahami situasi di ruangan tersebut. Sedikit mulai mengerti dengan keadaan diruang tamu rumah alan. Tentang percakapan antara alan dan shane. Calon mertuanya. Tapi ia tidak ingin ikut campur. Makanya ia hanya mendengarkan saja interaksi antara alan dan shane. Yang alan lebih dominan dari pada shane.
"Kak, aku setuju saja dengan yang kau katakan padaku. Asal puteriku bahagia, aku siap menjadi wali nikah untuk puteriku. Bukankah begitu monita sayang?." Ucap shane.
Jelas. Shane merasa tidak bisa menolak atau menentang tentang rencana pernikahan puterinya mika. Karena, selama ini dia dan istrinya bukanlah orang tua yang merawat mika. Malah kakaknya yang menggantikan posisinya kala itu. Itupun atas permintaannya sendiri.
Monita tersenyum kecut. Ia menatap suaminya dengan tatapan datar.
Pintu kamar mika terbuka. Mika melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Menuruni satu persatu anak tangga. Dan berhenti tepat di hadapan mereka. Di ruang tamu alan.
"Hello paman. Bolehkah aku ikut duduk?." Tanya mika