
Rie mengambilkan makanan untuk suaminya. Mengisi piring makan suaminya dengan nasi merah, satu potong ayam goreng mentega dan sedikit sayur capcay. Rie meletakkan piring makan suaminya di atas meja makan tepat di hadapan suaminya.
"Makanlah sayang." Ucap rie lembut sambil menuang air minum ke dalam gelas untuk sang suami.
Kemudian rie mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Lalu menyantap makanan yang sudah ada di piring makan miliknya.
"Sayang, bukankah tadi ada hal penting yang ingin kau tanyakan padaku?". Tanya dokter zoey membuka percakapan dengan sang istri.
Rie menelan makanan yang sedang di kunyahnya ke dalam lambungnya, yang melewati kerongkongannya. Kemudian ia menyeruput air minumnya sedikit demi sedikit.
"Iya sayang. Memang ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu. Tapi aku fikir nanti saja setelah kita selesai makan." Jawab rie.
"Hmmm baiklah sayang." Kata dokter zoey.
Pasangan dua sejoli ini lalu melanjutkan kegiatan makan mereka. Tanpa ada suara sepatah katapun yang terucap dari mulut mereka. Hanya bunyi denting sendok dan garpu yang menyentuh piring sesekali terdengar mengisi kekosongan di ruang makan.
Tidak berapa lama kedua suami istri ini telah menyelesaikan kegiatan makan malam mereka yang sebenarnya sudah sedikit terlambat.
Dokter zoey mengajak istri kecilnya untuk memasuki kamar mereka. Karena rasa lelah yang teramat sangat telah menggeroti seluruh tubuhnya. Lelah menghadapi segala kewajibannya di hospital. Hanya lelah, namun tidak ada rasa tidak suka. Justru sangat mencintai profesinya sebagai makhluk sosial. Yang memiliki empati tinggi.
Rie menuruti titah dari suaminya, mengikuti suaminya untuk masuk ke dalam kamar utama. Kamar dirinya dan sang suami.
Dokter zoey menyalakan AC di dalam kamarnya, mengunci pintu kamar dengan rapat. Lalu berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil selembar baju tidak berlengan berwarna hitam dan celana pendek sedikit di atas lutut.
Dengan cepat ia memasuki kamar mandi, mengganti bajunya dengan satu setel pakaian yang telah diambilnya dari dalam lemari pakaiannya beberapa saat lalu.
Kini ia sudah berada di samping istrinya. Di atas kasur spring bed sambil menyandarkan punggungnya ke kepala spring bed miliknya. Sementara rie bersandar di dada bidang suaminya.
"Sayang, hari ini aku sengaja pulang lebih cepat. Karena aku tidak tahan terlalu lama jauh darimu." Ucap dokter zoey sedikit gombal.
Rie memajukan bibirnya. Membuat seperti tampang 'duck face'.
"Hissshhh..." Kata rie.
"Apa kau tidak merindukan suamimu yang tampan ini hah?". Goda dokter zoey.
"Bagaimana mungkin aku tidak merindukan suamiku? Tentu saja aku merindukanmu sayang". Jawab rie dengan suara manja.
Dokter zoey terkekeh geli mendengar jawaban yang sedikit genit dari istri tercintanya.
Rie mengusap-usap dada bidang suaminya dengan lembut.
"Oh iya. Tadi apa yang mau kau tanya kan padaku sayang?". Tanya dokter zoey.
Rie mendongakkan kepalanya sedikit ke atas. Melihat wajah tampan dan maskulin suaminya. Lalu ia bangkit dari sandarannya di dada suaminya. Duduk bersila di atas kasur spring bed, menghadap ke suaminya.
"Banyak pertanyaanku untukmu sayang. Tapi ku harap kau jangan marah kepadaku setelah aku mengatakannya kepadamu. Janji?". Tanya rie sedikit menuntut.
Rie menyodorkan kelingking tangan kanannya. Memberikan tanda kepada suaminya untuk mengaitkan kelingking dirinya dan kelingking suaminya. Mengikat sebuah janji di antara mereka berdua.
Dokter zoey tersenyum simpul melihat tingkah lucu istrinya. Ia mengaitkan kelingkingnya ke kelingking istrinya. Menatap istrinya dengan tatapan hangat dan lembut.
"Iya sayang. Aku berjanji. Katakanlah." Ucap dokter zoey.
Rie menghirup oksigen sedalam dalamnya. Kemudian menghempaskan oksigen yang di hirupnya kembali keluar melalui mulutnya. Seperti ingin sedikit melepaskan beban yang melekat di pundaknya.
"Sayang, aku masih ingat kenangan masa kecil kita. Ketika kita bertiga selalu bersama kemana saja saat di Manhattan. Tapi waktu itu kau terlalu tidak memperdulikan aku. Dan selalu mengabaikanku." Keluh rie.
Terlihat sudut bibir dokter zoey tertarik membuat lengkung senyuman tipis.
"Apa kau sedang menunjukkan wujud protesmu sayang?". Singgung dokter zoey sembari mengusap-usap kepala istrinya.
"Bukan begitu maksudku sayang..." Ucapan rie terputus.
"Aku sudah menyukaimu sejak saat kau masih kecil. Jadi aku menutupi rasa suka ku dengan bersikap dingin seperti itu. Aku tidak mau kau menyadarinya." Sela dokter zoey.
"Tapi mana mungkin aku bisa menyadarinya? Waktu itu kan aku masih sangat kecil." Ujar rie sedikit ketus.
"Kau benar sayang. Aku hanya khawatir saja waktu itu. Tapi kau juga tidak sekecil bayi saat itu." Dokter zoey terkekeh.
"Hisshh... kau selalu saja meledekku." Cebik rie.
Rie mencubit kecil perut suaminya yang datar. Dokter zoey tertawa terbahak-bahak menahan geli dari cubitan istrinya.
"Oh iya sayang. Aku tidak menyangka ternyata kau sudah sejak lama menyukaiku." Sindir rie kepada suaminya.
Dokter zoey tersenyum simpul mendengar perkataan istrinya.
"Sayang, ada hal penting lain yang ingin aku tanyakan kepadamu." Ucap rie pelan.
"Hmm... Apa yang ingin kau tanyakan lagi istriku?". Tanya dokter zoey mulai penasaran.
"Aku ingin tahu kabar tentang kak bara. Apa dia baik-baik saja sayang?".
Pertanyaan rie seketika membuat dokter zoey terdiam. Seulas senyum bahagia yang ia terbitkan dari wajahnya tadi kini menghilang. Berganti dengan ekspresi wajah yang masam.
Seperti tidak suka jika istrinya menyebutkan nama kembarannya. Seperti ada rasa cemburu yang terpancar dari kedua bola matanya. Entah mengapa tiba-tiba dokter zoey yang tadi menunjukkan kehangatannya kini berubah menjadi dingin.
"Sayang. Kenapa tiba-tiba wajahmu seperti itu? Aku jadi merasa tidak nyaman." Kata rie.
Dokter zoey tersenyum sinis melihat istrinya.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang kembaranku hah?". Tanya dokter zoey sinis.
Suara dokter zoey terdengar seperti ada kandungan emosi di dalamnya. Penekanan dari kalimat tanya yang di lontarkannya kepada istrinya memperjelas kenyataan kalau ia tidak suka jika sang istri membahas tentang kembaran dirinya.
Wajah rie terlihat sedikit murung. Tiba-tiba ia merasa heran melihat sikap suaminya. Yang terlihat sedikit garang di matanya. Padahal tadi suaminya baik-baik saja. Tidak seperti ini. Tadi terlihat sangat hangat.
"Tadi bukankah kau sudah berjanji tidak akan marah suamiku? Memangnya kenapa kalau aku ingin tahu kabar tentang kak bara? Apa tidak boleh? Kan kak bara adalah kembaranmu. saudaramu sayang. Artinya otomatis kak bara adalah iparku. Wajar sajakan kalau aku ingin tahu kabar tentang kak bara sayang?". Cecar rie terus menerus kepada suaminya.
Dokter zoey mengusap wajahnya kasar. Ia mendengus kesal. Kemudian ia menatap istrinya sedikit tajam.
"Aku tidak suka ketika istriku sedang bersamaku, ia malah membahas pria lain. Walau pria itu adalah saudaraku sendiri." Ujar dokter zoey menyindir rie dengan kalimat telak.