Rie

Rie
Di Ruang Tamu Rumah Dokter Zoey



Rie menekan tombol dial dari handphone android miliknya. Panggilan tampak tersambung. Tapi nomor yang di tuju sedang tidak aktif. Terlihat rie merasakan sedikit kesal.


Benaknya mulai bertanya - tanya. 'Kenapa tidak diangkat? Kau ini sedang dimana?' Gumam rie.


Rie menggigit telunjuk tangan kanannya pelan. Sambil menatap kosong ke arah jendela ruang tamu rumah dokter zoey. Yang otomatis juga menjadi rumah milik rie. Karena rie adalah istri sah dari dokter zoey kini.


Alan menjatuhkan pandangannya kepada anak semata wayangnya. Melihat tingkah anaknya yang seperti sedang gelisah.


Saat ini, alan, yuki, dokter zoey dan rie tengah duduk di ruang tamu. Sambil menikmati teh dan kopi di sore hari. Dengan sepotong cake blackflorest yang terlihat sangat lezat.


"Rie. Apa yang kau fikirkan? Kenapa sikapmu jadi begini? Kau seperti cacing kepanasan saja nak." Tegur alan kepada anak semata wayangnya.


Secara bersamaan, yuki dan dokter zoey ikut menjatuhkan pandangan mereka kepada rie. Menunggu jawaban rie dari pertanyaan alan.


Rie langsung tersadar dari kegelisahannya. Kemudian melihat ke arah ayah kandungnya, alan.


"Papa, aku sudah beberapa kali menghubungi nada. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Sementara aku juga menghubungi mika, tapi handphone mika tidak aktif papa." Ucap mika khawatir.


Alan menghela nafasnya. Kemudian ia menyeruput kopi yang ada di hadapannya. Lalu meletakkan kembali secangkir kopi yang memang tersaji untuk dirinya.


"Apa kau khawatir?" Tanya alan.


Rie mengangguk cepat. Tanda membenarkan ucapan ayahnya.


"Ya papa. Tentu saja aku khawatir." Jawab rie cemas.


Dokter zoey melihat istrinya secara intens. Kemudian ia meraih handphone miliknya.


"Memangnya kenapa dengan mika? Kenapa kau seperti sangat perduli kepadanya istriku?." Tanya dokter zoey kepada rie.


"Biar papa saja yang menjelaskan kepadamu menantuku zoey." Kata alan lembut.


"Oh maafkan papa nak. Baiklah zoey anakku." Sambut alan.


Yuki mengambil piring kecil yang berisi sepotong cake blackforest dari atas meja di hadapannya. Kemudian ia memotong sedikit dengan garpu kecil berwarna emas. Menusuk potongan kecil blackforest dengan garpu kecil tadi, lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Meletakkan garpu kecil itu ke piring kecil tadi dan perlahan mengunyah cake blackforest yang ada di dalam mulutnya. Mata yuki terpejam sambil mengunyah perlahan. Tanda cake blackforest yang tengah di kunyah oleh nya terasa benar - benar nikmat.


Hingga kelakuan anehnya di lihat oleh alan sahabatnya. Sementara dokter zoey hanya tersenyum melihat kelakuan ayahnya. Sudah tidak asing bagi dokter zoey melihat tingkah ayahnya seperti itu. Memang sejak ia masih kecil, ayahnya adalah ayah yang lucu, humoris dan penyayang tentunya.


"Yuki, bisakah kau tidak melakukan tingkah aneh dulu. Aku ingin menceritakan sesuatu kepada zoey." Tegur alan kepada yuki sahabatnya.


Yuki membuka kedua kelopak matanya yang terpejam. Kemudian melihat ke arah alan.


"Apa? Memangnya apa yang ku lakukan?." Tanya yuki bingung.


"Cara makanmu itu yuki. Ish... ck... ck... ck..." Celetuk alan kesal.


Yuki segera meletakkan piring kecil yang berisi sepotong cake blackforest ke atas meja di depannya. Kemudian mengambil tissue. Mengelap mulutnya dengan tissue. Lalu membuang tissue itu ke asbak petak berwarna emas, yang terbuat dari porselen, yang ada di atas meja di depannya.


Semua mata masih memandang ke arah yuki. Masih memperhatikan tindakkan yuki. Sampai yuki terdiam melihat mereka bertiga yang sedang menatap kepada dirinya.


"Apa lagi? Aku salah apa lagi? Kenapa kalian menatapku tajam?." Tanya yuki kesal.


Alan melambaikan tangannya.


" Baiklah, aku akan bercerita sekarang." Ucap alan.


"Lanjutkan." Ucap yuki.


Sontak Alan, dokter zoey dan rie kembali menatap ke arah yuki. Membuat yuki kembali tegang.


"Ya ampun. Apa lagi salahku?!" Teriaknya sedikit kesal.