Rie

Rie
Perintah



Dokter Zoey menarik kursi yang ada di samping tempat tidur rie. Dokter zoey perlahan merebahkan bokongnya ke kursi itu.


Wajah rie secara natural masih menunjukkan ekspresi menekuk karena ulah dokter zoey yang sesukanya menurut yang rie fikirkan.


"Tutup pintunya" Titah dokter zoey lembut kepada rie.


Rie menurut dengan titah dokter zoey yang ditujukan kepadanya. Dengan cepat rie menutup pintu itu.


"Kunci" Titah dokter zoey lagi.


"Tidak boleh..." kata rie terputus.


"Jangan membantah" Sela dokter zoey cepat.


Rie dengan terpaksa menurut lagi atas titah dokter zoey kepadanya. Dengan segera rie mengunci pintu kamar mess yang ia tempati.


"Duduk" Titah dokter zoey terus kepada rie.


Rie semakin merasa kesal. Tapi ia merasa enggan untuk membantah kembali ucapan yang keluar dari dokter zoey kepada dirinya.


Rie berjalan menuju tempat tidurnya. Duduk di atas tempat tidurnya. Tepat di pinggir sebelah kiri tempat tidur rie.


Rie menatap ke arah dokter zoey. Dokter zoey pun membalas tatapan rie secara lekat. Tatapan hangat dan lembut.


Seketika jantung rie terasa berdetak kencang. Dan aliran darah di dalam tubuhnya menjadi semakin cepat mengalir. Yang rie rasakan. Rie mulai merasa gugup. Tapi, ia mencoba mengatur tubuh dan jiwanya agar tetap tenang saat berhadapan dengan dokter zoey.


Rie sendiri, tidak mengerti apa arti dari reaksi tubuhnya kepada dokter zoey saat ini. Segera rie menepis perasaan gugup yang ia rasakan.


"Maaf dokter zoey. Ada kepentingan apa sampai anda datang ke kamar mess yang saya tempati?" Tanya rie sopan dan tegas.


Dokter zoey tersenyum kecut. Terlihat dari raut wajahnya kepada rie saat ini.


Dokter zoey mengarahkan pandangan nya ke lantai. Tepat ke arah koper milik rie. Senyum sinis terpancar dari gurat raut wajah dokter zoey.


"Kau sudah tidak jadi pegawai di hospital ini lagi. Jadi kau juga harus keluar dari mess hospital ini" Ujar dokter zoey tegas.


Kelopak mata rie, terlihat mulai berkaca kaca. Ada air yang menganak sungai di kedua kantung mata milik rie. Hanya belum pecah saja hingga bisa membanjiri pipi mulus rie yang kelihatan putih dan halus.


Hati rie, terasa semakin sakit. Seperti sedang di tikam dan ditusuk tusuk oleh pisau belati. Seakan robek. Pedih. Terasa robekan yang lebar terlukis didalam hati milik rie.


Rie mencoba mengatur perasaan tempramentalnya. Menahan amarahnya kepada dokter zoey. Rie kembali menatap wajah dokter zoey.


"Baiklah. Aku tahu dokter zoey." Jawab rie lirih.


Dokter zoey kembali tersenyum. Senyum simpul yang hadir di raut wajahnya.


"Aku sudah melihat barangmu. Sudah kau kemas. Itu koper milikmu" Kata dokter zoey sambil menunjuk ke arah koper milik rie.


Rie diam saja, ketika dokter zoey mengucapkan kata kata itu kepadanya. Terasa, makin luka didalam hati rie mendengar kalimat yang meluncur dari lidah dokter zoey.


Dokter zoey kemudian berdiri. Kemudian menyambar Handphone milik rie. Dengan cepat memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya. Rie tersentak melihat perbuatan dokter zoey kepadanya.


"Itu milikku. Tolong kembalikan" Pinta rie dengan sedikit berteriak.


Dokter zoey kemudian berjalan ke arah pintu. Lalu membuka kunci pintu dan membuka lebar pintu kamar mess yang rie tempati.


Kemudian dokter zoey kembali berjalan ke arah tempat tidur rie. Tempat rie sedang mendudukkan dirinya.


Dokter zoey kemudian mengangkat tubuh rie. Menggendong tubuh rie dengan lembut. Berjalan keluar dari kamar rie.