Rie

Rie
Di Ruang Kantor Dokter Zoey



Rie melangkahkan kaki-nya menuju lift khusus untuk ke lantai paling atas. Lantai ruangan khusus para dokter yang menjadi pegawai di hospital ini. Dan lantai ruangan khusus milik suami-nya dokter zoey, yang belum di ketahui oleh rie.


Rie memasuki lift khusus. Sambil memegang bekal masakan untuk suami-nya. Tersenyum girang. Merasakan aliran darah-nya yang kian memacu. Merasakan getaran - getaran yang ia tidak fahami. Seperti sedang jatuh cinta. Ada perasaan bahagia yang besar di dalam dada-nya kini.


Pintu lift tertutup rapat. Rie menempelkan kartu akses yang di berikan oleh suami-nya tadi. Menekan tombol untuk ke lantai paling atas. Dan lift pun mulai bergerak.


Senyum rie kini memudar. Ia mulai merasakan hawa aneh di dalam lift. Seperti ada seseorang yang sedang berdiri di belakang diri-nya. Hingga bulu kuduk-nya terasa berdiri.


Rie memutarkan badan-nya, melihat ke arah belakang. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada siapa pun yang ada di belakang diri-nya.


'Kenapa aku tidak bisa melihat makhluk astral itu? Cepat sekali dia menghilang.' Fikir rie dalam benak-nya.


Lift telah sampai ke lantai paling atas hospital tempat suami-nya bertugas. Pintu lift pun terbuka. Mata rie memandang ke seluruh penjuru ruangan. Sampai rie terpaku dan takjub melihat-nya. Terlihat sangat bagus dan mewah. Arsitektur dan susunan yang rapi, memanjakan tiap mata yang memandang.


Rie bergegas keluar dari dalam lift. Berjalan beberapa langkah ke depan. Kemudian menghentikan langkah-nya. Ketika seseorang menghampiri-nya. Menatap rie dengan heran, tapi tetap memberikan sebuah senyuman kepada rie.


"Selamat siang Nona. Ada yang bisa saya bantu?." Sapa seseorang itu ramah kepada rie.


"Oh, tidak ada." Jawab rie singkat.


"Maaf nona. Sebenarnya tidak ada yang boleh naik ke lantai ini selain para dokter yang memang ruangannya di lantai ini nona." Kata orang itu kepada rie.


Rie melihat seseorang itu.


"Benarkah?." Tanya rie.


"Ia nona." Sambut seseorang itu.


"Sebenarnya seseorang menyuruhku untuk naik ke lantai ini. Di suruh menunggu-nya di ruangan milik-nya. Dan memberikan kartu akses ini pada-ku." Terang rie. Sambil menunjukkan kartu akses yang di berikan oleh suami-nya kepada seseorang itu.


Sontak, seseorang itu terkejut. Matanya sedikit terbelalak kala melihat kartu akses khusus yang ditunjukkan oleh rie kepadanya. Wajah-nya kini terlihat sedikit pucat.


Tentu saja. Ia sangat tahu kalau kartu akses itu hanya ada satu di hospital ini. Dan itu milik pimpinan mereka. Seorang yang sangat di hormati oleh semua orang. Yang sangat di kagumi. Dan sangat di sukai semua orang. Serta juga sangat ditakuti semua orang.


Kartu akses itu milik dokter zoey. Jelas ia sangat tahu. Perasaan takut dan cemas mulai menyelimuti diri-nya. Akankah sesuatu yang buruk akan terjadi pada-nya? Oh, jangan sampai. Itu nanti akan sangat berpengaruh buruk untuk masa depan-nya. Untuk karir-nya. Bisa saja ia kena pecat secara otomatis oleh pimpinan mereka.


Seseorang itu adalah seorang pria. Seorang yang khusus menerima tamu untuk lantai ini. Merangkap juga sebagai keamanan untuk lantai ini. Tapi bukan sebagai asisten pribadi dokter zoey.


Seorang pria yang kini di hadapan rie, memberikan senyuman manis. Merasa tidak enak telah bersikap demikian terhadap rie. Tapi, sebenarnya prosedur yang telah dilakukan-nya sangat benar. Ia hanya antisipasi kepada segala sesuatu yang bisa membahayakan. Apa berlebihan memiliki pemikiran seperti ini? Entahlah. Yang jelas ia telah melakukan sesuai prosedur. Dan hanya pasrah apa yang akan terjadi nanti. Semoga tidak sampai di pecat oleh pimpinan-nya.


Rie mengangguk. "Baiklah." Jawab rie.


Mereka berjalan lurus, melangkahkan kaki menuju ruangan dokter zoey. Sampai tepat di depan ruangan dokter zoey.


"Terimakasih." Ucap rie.


"Sama - sama nona." Balas seorang pria itu. Kemudian melangkah pergi, meninggalkan rie sendirian di depan ruangan dokter zoey.


Rie menempelkan kartu akses yang diberikan oleh suami-nya, hingga pintu ruang dokter zoey terbuka. Rie melangkahkan kaki-nya, memasuki ruang kantor khusus milik suami-nya. Lagi - lagi rie menatap takjub. Salut dengan desain interior ruang suami-nya. Ia akui suami-nya memang memiliki selera seni yang tinggi. Dari rumah hingga kantor memiliki desain arsitektur dan interior yang sangat bagus.


Rie meletakkan bekal makanan yang dibawa-nya, untuk suami-nya ke atas meja tamu. Kemudian ia berjalan menuju meja kerja suami-nya. Berdiri di depan dinding pas di belakang kursi kerja suami-nya. Dinding yang terbuat dari kaca tebal. Sekilas rie melihat pemandangan di luar. Wow, benar - benar terlihat indah.


Kemudian rie kembali melangkahkan kaki ke arah meja kerja suami-nya. Lalu menarik kursi kerja suami-nya. Ia menjatuhkan bokongnya ke atas kursi empuk yang beroda. 'Nyaman.' Gumam rie.


Rie menyandarkan tubuhnya di kursi itu. Sambil melihat - lihat berkas yang tersusun rapi di atas meja kerja. Menatap layar komputer. Melihat ke arah lemari yang tersusun blanko - blanko yang rapi. Tersenyum manis kala melihat semua susunan yang menarik menurut rie.


Hingga senyumnya tiba - tiba pudar. Sirna dari wajah-nya. Rie menatap terpaku di depan-nya. Ketika berkas - berkas diatas meja di hadapan-nya seketika melayang - layang di udara. Begitu juga blanko - blanko yang di susun rapi di lemari. Semua-nya melayang layang indah di udara.


Tidak ada perasaan takut di dalam diri rie. Karena ia sudah terbiasa melihat hal - hal aneh dan makhluk - makhluk astral berlalu lalang di depannya. Tapi, perasaan bingung kini hadir.


Baru kali ini ia tidak melihat makhluk - makhluk astral itu ada di hadapannya. Kenapa bisa tidak terlihat? Kenapa hanya melihat benda - benda ini melayang bebas di udara? Seharusnya selain benda - benda ini, makhluk astral itu juga bisa terlihat. Tapi kenapa ini sama sekali tidak terlihat.


Pertanyaan - pertanyaan itu masih menari - nari di dalam benak rie. Hal yang tidak bisa ia temukan jawabannya. Hal yang tidak bisa ia pecahkan. Sampai ia hampir tidak perduli dengan kejadian yang baru saja terjadi di hadapan-nya. Dan masih terjadi. Lama ia berfikir untuk memecahkan pertanyaan - pertanyaan yang timbul dalam benaknya. Tapi tetap saja ia tidak bisa menyelesaikannya.


Hingga pintu ruangan terbuka otomatis. Menunjukkan sosok suami-nya sedang berdiri dan hendak masuk kedalam ruangannya. Langkah kaki dokter zoey terhenti tiba - tiba.


Terkejut melihat kejadian di depannya. Membuat raut wajah-nya menegang. Melihat benda - benda yang melayang layang di udara. Mulutnya sedikit ternganga. Kemudian tertutup kembali.


Benda - benda yang melayang - layang itu tiba tiba terjatuh. Menyadarkan rie dari fikirannya. Melihat sosok suami-nya yang kini sudah ada di hadapan-nya. Yang langsung mendekati rie.


Terlihat tatapannya kepada istri-nya yang penuh dengan ke khawatiran.


"Sayang apa yang terjadi? Kau tidak apa - apa kan?." Tanya dokter zoey khawatir.


"Aku..."