
Kesadaran rie mulai pulih. Rie melihat langit - langit ruang perawatan VVIP tempat ia berada.
Denyut kepalanya mulai berpijar. Hingga seluruh tubuh rie mulai terasa remuk.
Kemudian pandangan mata rie jatuh kepada botol cairan infus yang sedang menggantung di samping nya. Terlihat tetesan demi tetesan jatuh dari ujung botol cairan 'Ringer Laktat', mengalir lewat selang infus yang tertanam di punggung tangan rie menuju ke dalam pembuluh darah 'vena' milik rie yang cairan tersebut akan di bawa ke jantung lalu akan dipompakan ke pembuluh darah arteri untuk disampaikan ke jaringan tubuh di seluruh bagian tubuh milik rie.
Rie sedikit merintih karena rasa sakit pada kepalanya.
"Sayang, apa kau pusing?". Tanya dokter zoey.
Rie mengangguk pelan. Membenarkan pertanyaan dari suaminya.
"Apa kau merasa sesak sayang?." Tanya dokter zoey lagi.
Rie menggelengkan kepalanya pelan.
Dokter zoey membuka masker oksigen yang menempel di area hidung istrinya. Lalu menggantinya dengan selang oksigen atau biasa disebut dalam dunia kesehatan 'Nasal Oxygen cannula'. Lalu mengatur tekanan ukuran oksigen untuk istrinya.
"Apa nyaman sayang?." Lagi, dokter zoey bertanya.
Rie kembali mengangguk pelan. Terlihat kondisi tubuhnya yang masih lemas.
"Tenanglah sayang. Nanti perlahan rasa pusingmu akan berangsur menghilang. Itu efek samping dari cairan infus yang mengalir di dalam tubuhmu". Jelas dokter zoey.
"Hmmm... aku tahu suamiku". Jawab rie akhirnya.
Rie mengkerjap - kerjapkan kedua kelopak matanya. Lalu ia menjatuhkan pandangannya kepada suaminya. Terlihat, kecemasan dari ekspresi wajah suaminya.
"Sayang, aku kenapa bisa di rawat di hospital?". Tanya rie.
Dokter zoey tersenyum. Sengaja ia memberikan senyum agar istrinya tidak terlalu khawatir dengan kondisinya saat ini. Yang dimana seorang pasien harus di beri semangat agar proses pemulihan menjadi semakin cepat.
"Tiga hari yang lalu saat kita sedang berbincang di dalam kamar, tiba - tiba saja kau pingsan sayang. Dan kepalamu membentur lantai kamar. Jadi aku cepat melarikanmu ke hospital untuk segera mendapatkan perawatan ekstra." Jawab dokter zoey.
Rie mengerenyitkan dahinya.
"Pingsan?". Tanya rie singkat.
Dokter zoey menganggukkan kepalanya.
"Iya sayang. Aku rasa kau terlalu kelelahan. Sehingga kau menjadi dehidrasi." Jawab dokter zoey melanjutkan.
Memang beberapa waktu belakangan ini tubuh rie mengalami kelelahan. Akibat banyaknya fikiran yang terjadi tentang hidupnya. Belum lagi masalah mika dan dokter zoey yang menyita fikirannya. Apalagi ditambah kedatangan adik dari ayahnya yang ternyata adalah orang tua kandung mika. Yang ia tahu pamannya yang bernama shane dan bibinya yang bernama monita sudah tiada. Seperti cerita ayahnya sejak ia kecil. Lalu tiba - tiba saja paman shane dan bibi monita datang ke rumahnya. Membuat otaknya saat itu seperti mau pecah. Belum lagi akhir - akhir ini tubuhnya selalu melepaskan ruh milik rie dari dalam tubuhnya, meraga sukma. Berkeliling kemana saja yang ruh nya inginkan. Tanpa bisa rie kendalikan. Sampai selalu membuat tulang belulang tubuhnya serasa patah. Tubuhnya menjadi remuk. Karena perbedaan dimensi dengan dunia nyata. Memang secara logika tidak bisa diterima dengan akal sehat manusia pada umumnya. Tapi secara metafisika itulah kenyataannya.
"Kenapa aku tidak diberikan cairan dextro saja suamiku?". Tanya rie.
Dokter zoey memijit pelipisnya.
"Kau tidak mengalami hipoglikemia sayang. Kalau orang yang pingsan tidak selalu di sarankan untuk diberikan cairan dextro. Malah nanti takutnya bisa memperburuk keadaanmu sayang." Jelas dokter zoey kepada istrinya.
"Oh iya suamiku. Aku lupa. Aku tadi hanya merasa panik, sehingga aku tidak bisa berfikir jernih karena kondisiku seperti ini". Ucap rie.
Dokter zoey tersenyum.
Dokter zoey lalu mengambil gelas yang berisi air putih. Lalu ia mengambil sedotan, membuka kertas sedotan itu dan memasukkannya kedalam gelas yang berisi air putih tadi. Kemudian ia menyodorkan ke arah mulut rie.
"Sayang minumlah sedikit demi sedikit." Titah dokter zoey lembut.
Rie menurut perintah dari suaminya. Menyentuh ujung sedotan dengan mulutnya. Menyeruput air putih itu perlahan - lahan. Lalu ia melepaskan sedotan itu dari mulutnya.
"Sudah sayang?." Tanya dokter zoey.
Rie mengangguk pelan.
"Apa kau mau makan sayang?." Tawar dokter zoey.
"Tidak suamiku. Nanti saja. Kepalaku masih pusing." Jawab rie.
Dokter zoey menghela nafasnya pelan.
"Sebaiknya kau tidur lagi sayang. Istirahat dahulu sampai tubuhmu terasa sedikit pulih. Nanti aku akan membangunkanmu ketika 'diet'mu diantar oleh ahli gizi ke ruang ini." Ucap dokter zoey.
"Baiklah suamiku." Jawab rie.
Rie kembali memejamkan matanya. Berusaha memberikan sugesti positif kepada dirinya. Kalau tubuhnya akan cepat pulih dan bisa segera pulang. Karena rie tidak suka jika ia harus dirawat di hospital jika tidak terlalu genting keadaan dirinya.
Kembali, rie mulai terlelap. Hilang dari kesadarannya di dunia nyata.
Ruh rie tiba - tiba saja kembali keluar dari dalam tubuhnya. Sudah berdiri di samping tubuhnya yang sedang terbaring. Melihat sosok suaminya, dokter zoey yang sedang mengusap pipi rie. Lalu mengecup keningnya lembut.
Ruh rie tersenyum melihat kejadian yang tertangkap oleh netranya. Biasanya kalau manusia pada umumnya, jika melihat atau merasakan kebahagian yang keluar dari hatinya itu akan merasakan seperti ada rasa gelenyar yang menjalar di setiap inchi tubuhnya. Bahkan juga di setiap aliran darah dan hatinya. Namun saat ini rie tidak merasakan hal itu. Wajar saja bukan? Karena saat ini ia tengah berdiri bukan bersama dengan tubuhnya. Tapi hanya dalam bentuk ruh nya.
Rie memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk ke ruangan perawatan VVIP yang tubuhnya huni. Lalu ia memejamkan kedua matanya sekejap. Hanya dalam hitungan beberapa detik rie membuka lagi kedua matanya. Seketika rie sudah tidak berada di ruang perawatan tubuhnya berada.
Kini rie sudah kembali berada di ruang depan hospital. Di depan tempat pendaftaran pasien.
Banyak tenaga kesehatan yang bekerja di hospital itu tengah berlalu lalang di hadapannya. Juga orang - orang yang datang dari luar hospital, yang hendak mendapatkan pelayanan kesehatan di hospital ini.
Di belakang tubuh rie tampak tengah berdiri sosok ruh dokter bara. Sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam kantung celana yang di pakai oleh sosok ruh dokter bara.
Sosok ruh dokter bara menatap ruh rie secara intens.
"Hey nona. Apa lagi yang kau lakukan di sini?". Sapa sosok ruh dokter bara.
Sontak sosok ruh rie menjadi sedikit terkejut. Kemudian sosok ruh rie memutar dirinya menghadap ke arah belakang.
"Dokter bara?". Sapa sosok ruh milik rie.
Sosok ruh dokter bara tersenyum simpul.
"Ini pertemuan kita yang keberapa nona?. Sepertinya kita memang berjodoh." Ucap sosok ruh dokter bara.
Sosok ruh rie hanya terdiam. Tidak menjawab pertanyaan dari sosok ruh dokter bara.