Rie

Rie
Kehadiran Dua Makhluk Tak Kasat Mata Yang Konyol.



Malam semakin larut. Terlihat potret seluruh langit, yang menampakkan ratusan ribu galaksi yang jauhnya jutaan tahun cahaya. Muncul dengan tanpa terhalangi, terangnya sinar bulan purnama yang menyala, diterangi dengan sisa-sisa bintang yang meledak. Rie tengah menikmati pemandangan langit malam dengan teropong bintang yang bertengger di jendela kamarnya.


Entah mengapa sudah selarut ini mata rie belum dihampiri oleh rasa kantuk. Padahal biasanya rie setiap jam 08.30 PM sudah selalu tertidur lelap di atas spring bed kamar ia dan suaminya. Telah menyusuri dunia mimpi yang terkadang indah bagi rie. Atau seperti biasanya, ia akan kembali meraga sukma. Yang sampai detik ini belum bisa ia kendalikan. Terkadang hal ini membuat rie sedikit frustasi.


Rie menatap lekat suasana di luar rumahnya melalui kaca jendela. Kali ini ia melihat dengan mata telanjang, bukan melihat dengan menggunakan teropong bintang seperti tadi.


Mata rie terus menyusuri lingkungan di sekitar rumahnya. Pemandangan yang hanya tertangkap oleh kedua indera penglihatannya.


Terlihat lampu jalan yang tertancap di depan halaman rumahnya yang tidak terlalu terang. Hanya sedikit remang-remang menyinari jalan blok komplek di depan halaman rumah miliknya dan sang suami.


Sebuah pohon yang rindang, terpampang jelas di kedua retina milik rie. Dedaunan yang berwarna hijau tidak terlalu jelas terlihat karena suasana malam yang tidak terlalu terang seperti pagi hari.


Tampak beberapa ranting pohon dengan dedaunan yang melekat di tubuh ranting-ranting itu bergoyang-goyang kencang ke atas dan ke bawah. Padahal tidak ada angin yang berhembus menyentuh dedaunan dan ranting pohon itu. Serta lingkungan sekitarnya.


Tertangkap dan tercetak jelas di pelupuk mata rie sosok makhluk tak kasat mata berbalut kain putih. Dengan cepolan ikatan putih di atas kepalanya. Dimana wajahnya tetap tidak terlihat jelas. Hanya mata merah sedikit meruncing yang bersinar terang memandangi alam sekitarnya. Sosok putih itu terlihat tertancap miring di atas pohon rindang, melekat di salah satu ranting yang bergoyang. Seperti portal di stasiun kereta api yang menutupi setengah jalan di jalan blok depan halaman rumah dokter zoey.


Melintas salah satu sosok yang sama di jalan dengan melompat melayang di atas awang-awang. Dimana sosok yang seperti portal menaikkan tubuhnya ke atas. Seperti portal yang terbuka ketika kereta api sudah selesai melintas di rel yang menahan beban kereta itu. Sosok yang melompat melayang melewati awang-awang di bawah sosok makhluk tak kasat mata yang menjadi portal. Kemudian menurunkan kembali tubuhnya. Seperti kembali menutup jalan dan tidak boleh di lalui oleh sosok apa pun.


Sebuah pemandangan yang sudah biasa rie lihat sejak ia masih kecil hingga saat ini. Hanya saja memang sudah beberapa bulan makhluk tak kasat mata seperti yang ia lihat barusan, sudah lama tidak hadir di hadapannya.


Tidak ada perasaan takut terlihat dari ekspresi raut wajah rie. Malah rie terlihat lengkungan senyum yang menghiasi wajah cantiknya. Seperti terhibur kala melihat tontonan lucu dan menarik dari kedua sosok makhluk tak kasat mata tersebut. Dimana kedua makhluk tak kasat mata yang memiliki cepolan ikatan putih di atas kepalanya tidak menyadari jika ada sosok seorang manusia yang bisa melihat aksi kocak keduanya. Membuat rie semakin terkikik kala melihat tingkah konyol makhluk astral tersebut.


'Seharusnya di tambah adanya tiang lampu merah saja. Nanti bisa kecelakaan jika tidak ada tanda lampu kuning.' Gumam rie sambil terkikik geli.


Tawa geli rie tiba-tiba memudar dari raut wajahnya. Berganti dengan ekspresi wajah yang sendu.


Masih terasa aneh di dalam fikiran rie. Karena sepengetahuannya dokter bara belum pernah menikah. Jangankan menikah, memiliki seorang wanita pujaan saja tidak pernah tersebar di kalangan pergaulan mereka. Jika ada tentu saja pasti ia yang pertama mengetahui kalau dokter bara sudah memiliki seorang kekasih. Karena hubungan keluarganya dan keluarga dokter bara yang sangat rapat, bahkan sebelum kedua makhluk kembar dan dirinya hadir di dunia ini.


Namun, ingatan rie kembali terukir jelas di dalam benaknya. Potongan-potongan gambaran kejadian saat ia dan sosok ruh dokter bara tengah berkomunikasi saat terakhir mereka bertemu. Dimana sosok ruh dokter bara membuka sedikit histori kehidupannya yang terdengar pahit. Pahitnya kehidupan dokter bara seperti secangkir kopi hitam di warung kopi. Yang biasa ia nikmati saat ia beberapa kali memijakkan kakinya di Negara ini. Kala ia masih di usia muda.


Kalimat terakhir yang di lontarkan sosok ruh dokter bara kepadanya, kini tercetak jelas di dalam benaknya. Melekat jelas bayang-bayang kejadian itu di dalam pelupuk matanya. Saat sosok ruh dokter bara mengungkapkan pengakuan yang membuat dirinya menjadi sangat terkejut. Dimana sosok ruh dokter bara mengakui kalau ia memiliki rasa suka, rasa sayang kepada rie. Lalu, sosok ruh dokter bara menghilang dari hadapannya. Dan tidak pernah muncul kembali sampai detik ini.


Ada perasaan yang hatinya memaksa rie untuk jujur mengungkapkan kejadian itu kepada sang suami. Namun, ia memendam dalam-dalam keinginan itu. Bagaimana caranya untuk rie mengungkapkan kepada sang suami? Dua hari lalu, saat ia baru bertanya kabar dokter bara kepada suaminya, suaminya langsung menunjukkan respon yang tidak baik. Seperti tidak suka jika membahas tentang kembarannya. Seperti menyimpan sesuatu hal yang ia tidak ingin sampaikan kepada sang istri.


Rasa cemburu yang berlebihan terukir jelas di raut wajah suaminya kala itu. Membuat suaminya terlihat sedikit murka kepadanya. Bagaimana nanti jika suaminya mengetahui kalau kembaran suaminya telah mengungkapkan kebenaran dari rasa suka dan sayang kepada dirinya? Bahkan perasaan itu juga sudah ada sejak ia kecil. Sama dengan suaminya yang memang sudah memiliki rasa sayang dan cinta kepada dirinya sejak rie masih kecil. Namun, suaminya tidak pandai menunjukkan dengan sikap yang lembut dan ramah seperti kembarannya.


Rie takut, jika ia memberitahukan saat ini, akan berakibat buruk untuk tubuh dokter bara yang sedang terbaring koma di hospital.


Rie menghela nafasnya panjang. Sambil melipat kedua tangannya yang menempel di atas perutnya, di ulu hatinya.


Tanpa rie sadari, sosok sang suami yang kini sudah hadir di belakang tubuhnya. Memeluk tubuh rie dari belakang. Mengecup lembut pundak sang istri.


"Sayang, apa yang sedang kau lihat di luar sana?". Tanya dokter zoey membuyarkan lamunan rie.


Rie memutarkan kepalanya sedikit kebelakang. Melihat wajah suaminya yang terlihat tampan di matanya.


"Kapan kau pulang sayang?". Tanya rie sedikit terkejut.