Rie

Rie
Sarapan Pagi



Sinar matahari memancarkan cahayanya untuk cakrawala. Tidak terlalu terik memang, tapi cukup hangat menyentuh kulit manusia yang merasakannya.


Hembusan angin sepoi - sepoi menggoyangkan dedaunan yang menempel di ranting - ranting pohon. Beberapa daun terlihat berguguran. Menapakan dirinya di atas bumi.


Rie, dokter zoey serta yuki dan alan tengah duduk di ruang makan. Menikmati sarapan pagi yang telah disiapkan dan tersaji oleh asisten rumah tangga dokter zoey.


Tampak di wajah rie, ada tanda hitam di kulit kantung mata milik rie. Tanda tidur rie tadi malam tidak begitu nyaman.


Yuki memperhatikan menantunya dengan seksama, sambil menikmati nasi goreng thailand kesukaannya.


Sementara alan sedang mengunyah roti tawar yang telah di olesnya dengan selai kacang. Kemudian menyeruput jus jeruknya sedikit demi sedikit.


"Zoey, kau apakan menantu ayah hah? Ck... ck... ck... kau ini terlalu ganas." Celetuk yuki tiba - tiba.


Yuki kembali menyuapkan nasi goreng thailand kedalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan. Sambil tersenyum sekilas.


Dokter zoey mengernyitkan keningnya. Sedikit bingung maksud dari perkataan ayahnya.


"Maaf ayah. Aku tidak mengerti maksud ayah." Jawab dokter zoey.


Yuki terkikik geli. Kemudian ia meminum teh hangat yang ada di meja tepat di depannya. Menyeruputnya sedikit demi sedikit. Dan meletakkannya kembali ke atas meja.


Yuki melihat ke alan. Kemudian kembali menjatuhkan pandangannya ke dokter zoey.


"Jangan berakting menjadi orang yang polos zoey. Tidak mungkin kau tidak faham maksud dari perkataan ayah." Sindir yuki.


"Sungguh ayah. Aku tidak mengerti. Bagaimana aku bisa faham?." Zoey membalikkan pertanyaan kepada ayahnya.


Alan mendehem. Menengahi perdebatan kecil antara menantu dan sahabat baiknya. Yang juga merupakan besannya kini.


"Lihat kelopak mata menantuku. Kenapa hitam begitu? Apa kau 'menghajar'nya tanpa ampun?." Tawa yuki memenuhi ruang makan.


"Yuki." Tegur alan.


"Baiklah alan. Aku akan diam." Lagi yuki tertawa terbahak - bahak.


"Yuki! Bisakah kau hentikan leluconmu yang berlebihan saat ini?" Alan menegur yuki kembali.


Yuki kemudian menghentikan tawanya. Kemudian kembali menyeruput minumannya.


"Maaf ayah. Dokter zoey tidak menyentuhku. Ini bukan karena perbuatannya ayah." Rie mengeluarkan suaranya.


"Oh menantuku. Sepertinya kau terlihat kaku. Jangan memanggil suami-mu dengan sebutan 'dokter zoey'. Seperti orang lain saja." Tegur yuki kepada rie.


Dokter zoey tersenyum tipis. Seperti menyetujui maksud dari perkataan ayahnya kepada rie istrinya kini.


Yuki spontan tertawa geli. Melihat reaksi dari alan sahabatnya. Biasanya alan selalu serius jika bersikap. Baru kali ini ia melihat alan sahabatnya bisa bercanda dan usil seperti dirinya.


"Papa!" Teriak rie kepada alan.


" Istriku. Aku setuju dengan pendapat papa. Dan aku tidak keberatan jika kau memanggilku dengan sebutan yang di katakan oleh papa tadi." Ucap dokter zoey tiba - tiba kepada rie. Kemudian ia tersenyum.


"Apa?." Kata rie terkejut.


Rie merasa seperti di olok - olok oleh ayah, papa dan suaminya. Hingga membuat pipi-nya terlihat sedikit memerah. Ia merasa malu.


"Apa yang terjadi nak?." Tanya alan serius.


Rie melihat papanya.


"Seperti biasa papa. Aku melihatnya lagi. Tapi kali ini sesuatu yang tidak pernah aku lihat papa. Begitu banyak. Dan tiba - tiba di luar jendela kamar juga muncul sosok wanita. Aku terkejut papa." Rie mengadu kepada alan.


Alan mengembuskan nafasnya perlahan.


" Apa kau merasa takut menantuku?." Tanya yuki.


"Sedikit ayah. Aku sedikit takut. Aku fikir wanita itu membelit tubuhku. Karena aku tiba - tiba merasa sesak ayah." Jelas rie kepada yuki ayah mertuanya.


Yuki menjatuhkan pandangannya kepada dokter zoey. Ia ingin melihat reaksi dari anaknya tentang istri dari anaknya yang memiliki kelebihan spesial.


"Istriku. Sayang. Dengarkan aku. Aku sudah mengetahui jika kau memiliki kelebihan spesial yang tidak dimiliki oleh manusia - manusia lain pada umumnya. Dan aku bisa menerima itu." Dokter zoey mengatakan ungkapan dari hatinya kepada rie.


Rie hanya diam. Ada perasaan lega di dalam dadanya. Dan sedikit perasaan terharu. Karena seorang pria, apa lagi pria itu sudah menjadi suaminya, bisa menerima keanehan dari dirinya Menurut rie.


Rie merasa sangat bersyukur di dalam hatinya. Perasaan bahagia kini mulai mengalir ke dalam tiap aliran darahnya ke seluruh tubuhnya.


" Kau tidak perlu takut sayang. Jika ada apa - apa, kau harus memberitahu-ku secepatnya. Kau jangan jauh - jauh dariku. Aku akan melindungimu sayang." Sambung dokter zoey.


"Terimakasih suami-ku." Ucap rie lembut.


"Hey, biasakan panggil zoey dengan sebutan 'sayang' atau 'baby'." Celetuk alan.


"Papa!!!!!." Teriak rie kencang.


Sontak dokter zoey, alan dan yuki tertawa geli melihat rie yang salah tingkah.


"Bagaimana rupa wanita itu?." Tanya suara yang mirip dokter zoey. Tiba - tiba mereka terdiam. Kemudian mencari asal suara yang mirip dengan suara dokter zoey.