
Sebuah mobil mewah berwarna hitam, memasuki jalan perumahan mediterania. Mobil mewah itu memasuki pelataran halaman rumah milik dokter zoey.
Seseorang yang mengemudikan mobil mewah itu, bergegas membuka pintu mobil di bagian kemudi. Kemudian melangkahkan kakinya. Membuka pintu mobil bagian belakang.
Yuki mateo bergegas turun dari dalam mobil mewah yang di naiki oleh dirinya dan sahabatnya. Alan monte.
Alan mateo pun menyusul sahabatnya dengan cepat.
"Terimakasih Kai." Ucap Yuki pada seseorang yang telah membukakan pintu mobil untuknya. Yang tak lain adalah supir pribadinya.
Kai sang supir, dengan cepat mengganggukkan kepalanya. Lalu membungkukkan punggungnya, layaknya seperti kebiasaan orang jepang yang memberikan penghormatan.
"Baik tuan besar." Jawab kai lembut.
Yuki mateo dan Alan monte, berjalan beiringan menuju ke depan pintu depan rumah milik anaknya, dokter zoey.
Lalu mereka berdua, berhenti tepat didepan pintu rumah dokter zoey.
Yuki dan alan saling menatap. Kemudian yuki tersenyum kepada sahabatnya alan.
"Hey, kau kenapa sahabatku? Tenang saja kau jangan khawatir alan. Aku tidak perlu menekan bel pintu rumah ini. Karena aku tahu kata sandi untuk membuka pintu rumah ini." Kata yuki sambil berbisik ke dekat telinga alan.
Alan menghembuskan nafasnya pelan. Menggelengkan kepalanya. Tanda heran kepada sikap sahabatnya.
"Kau ini. Sejak masih zaman muda dulu tidak berubah. Walau zoey anakmu, seharusnya kau menghargai privacy zoey. Seharusnya kita izin dulu, baru bisa masuk ke rumah zoey." Protes alan kepada sahabatnya.
Yuki terlihat tertawa geli. Karena melihat alan yang masih saja selalu memprotes kelakuan absurdnya sejak mereka masih muda.
"Alan. Kau seperti tidak mengenal aku saja." Jawabnya sambil tertawa kecil.
"Ya. Kau yang selalu menunjukkan sifatmu yang suka bercanda berlebihan itu. Menjahili orang - orang. Dasar kau ini!." Protes alan lagi.
Pintu pun terbuka otomatis. Yuki mempersilahkan alan untuk masuk duluan ke dalam rumah anaknya.
Alan melangkahkan kakinya perlahan. Disusul dengan langkah kaki dari yuki mateo.
"Alan, kau ganti dengan sandal khusus untuk di dalam rumah. Itu ada di dalam lemari rak sepatu. Memang anakku sudah menyediakannya. Jika ada orang yang berkunjung datang kemari. Kau tahu kan kalau anakku itu perfeksionis seperti aku?" Ujar yuki pada alan panjang lebar.
Alan tertawa seketika. Lalu mengambil sendal khusus untuk dipakai di dalam rumah, yang sudah tersedia di dalam lemari rak sepatu. Kemudian membuka sepatu pantofel berwarna cokelat yang sedang dipakainya. Memakai sendal yang baru diambilnya. Lalu meletakkan sepatunya ke dalam lemari rak sepatu.
"Hey, kau fikir kau dan anakmu zoey saja yang memiliki sifat perfeksionis? Kau juga tahu kan kalau rie anakku yang cantik adalah seorang tenaga kesehatan juga sama seperti kau dan anakmu?. Tentu saja anakku juga seperti ini dirumah." Tutur alan monte bangga.
"Wow. Benarkah? Maaf sahabatku. Aku lupa kalau menantuku adalah seorang bidan." Ejek yuki sambil terkekeh.
Yuki juga mengambil sendal khusus untuk di dalam rumah. Kemudian memakainya dengan cepat. Masih dengan tawa renyahnya. Menjahili sahabatnya yang sudah menjadi besannya.
Alan menekukkan sedikit raut wajahnya. Tanda ia kesal karena telah dijahili oleh sahabatnya sendiri. Yang juga merupakan besannya saat ini.
"Bagaimana alan? Kau siap?." Yuki mengalihkan pembicaraannya dengan alan.
"Siap untuk apa?." Tanya alan polos.
Yuki kembali terkekeh melihat reaksi dari sahabatnya. Ia merasa sahabatnya ini polos atau telat mikir.
"Tentu saja untuk menangkap basah anakku zoey dan menantuku" Candanya. Tawa yuki makin menjadi. Hingga membuat alan kembali menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita ke sana". Ajak yuki.
"Hm." Jawab alan singkat.
Yuki dan alan, melangkahkan kaki mereka bersamaan. Berjalan pelan menuju sebuah ruang. Ruang kamar yang memiliki pintu berwarna putih mengkilap.