My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Juara 1



"Udah-udah! Gue males memperpanjang, intinya gini... Lo jangan deketin Surya, sampe berani lo deketin cowok gue, bapak lo gue pelihara lama-lama! Gue juga profesional godain om-om, bukan cuma mas-mas!" Raina mengedipkan sebelah matanya.


Kata-kata Raina membuat Ara mundur selangkah. Ara ingin memaki Raina saat ini juga, namun ia takut akan merusak imagenya didepan publik. Ara memilih pergi begitu saja.


Raina puas dengan dirinya yang bisa membuat Ara pergi dengan sendirinya, "Hahaha... Akhirnya tu parasit ilang juga!" ucap Raina dengan puas.


"Ehem..."


Mendengar suara deheman, Raina berbalik untuk melihat siapa yang bersuara, "Eh Aya... Lagi apa? Gimana ulangannya tadi? Bisa kerjain semua kan?" tanya Raina basa-basi.


Surya sedang berdiri dengan wajah datarnya, "Mau ngapain tadi? Godain om-om" tanya Surya. Surya mengangkat salah satu alisnya.


"Hehe enggak kok, kata siapa? Aku tadi kan cuma bercanda doang... Gimana tadi ulangannya? Bisa kerjain semuanya kan?" Raina mencoba mengalihkan perhatian agar Surya tak marah.


Surya menatapnya tajam lalu mengarahkan jari telunjuk dan tengahnya menuju kedua matanya, lalu diarahkan ke mata Raina.


"Enggak! Serius tadi cuma bercanda gak lebih!" Raina menggoyang-goyangkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri.


Surya kembali masuk kedalam ruangannya, Raina langsung bernafas lega. Bisa-bisanya Surya mendengar semua percakapannya tadi.


"Gini banget Ya Allah hidup gue, dapet laki ya posesif amat!" gumam Raina.


***


Di Kelas


Raina kembali masuk kelas dan belajar untuk mempersiapkan ulangan mata pelajaran kedua. Teman-temannya pun melongo dibuatnya, tak ada yang percaya kalau Raina sedan belajar saat ini.


"Na lo nggak papa kan? Nggak sakit?" tanya Arkan sambil menyentuh dahi Raina.


Raina menatap Arkan datar, "Kenapa sih? Emang salah ya kalo gue belajar?" tanya Raina.


"Enggak salah, tapi aneh aja. Biasanya kan buku itu, kamu pake kipasan, tiduran atau buat nutup muka waktu tidur biar nggak ketahuan. Tumben kamu baca?" tanya Naya.


"Astagfirullah nak... Jangan seperti itu, jangan sia-siakan waktumu belajar di SMA. Karena ini adalah tingkat pendidikan yang menentukan nak. Ayo belajar agar pintar..." kata Raina dengan lembut dan menirukan suara nenek-nenek yang sedang memberikan nasehat.


Dika dan Faris menatap Raina datar, "Heleh... Lo sendiri aja mau belajar juga baru hari ini. Disogok apa biar mau belajar?" tanya Dika.


Faris menyela, "Dikasih Iphone ya?"


Raina memutar bola matanya jengah, "Kepo aja ni anak-anak... Lagian kalo gue nggak belajar, mau nyontek siapa? Kalian semua enak karena 1 ruangan. La gue? Nyempil sendiri dikelas sebelah tanpa bantuan. Masa lembar jawabannya nanti gue tulisin gini, Bapak Ibu yang terhormat, saya tidak bisa menyelesaikan soal ini. Mohon toleransinya..."


"Iya juga ya..."


"Gini deh... Kalo gue juara 1 di kelas, nanti kalian semua gue traktir makan ok!" Raina menawarkan sebuah perjanjian yang cukup menggiurkan.


"Hahahaha...."


"Mana bisa lo juara 1?"


"Jangan halu deh!"


Raina kesal karena teman-temannya justru meledeknya. Semua teman-temannya tertawa kecuali Arkan.


Arkan pun akhirnya bersuara, "Heh kalian semua jangan ngejek Raina ya! Kalian itu belum tau sepintar apa Raina dulu kan? Otak kalian nggak ada apa-apanya dibanding otak Raina!"


"Ya kalo Raina pinter, kenapa dari dulu sering banget Remidi?"


"Dan selalu mendapat peringkat bawah juga."


"Itu karena gue masih males belajar! Liat aja kalo gue udah belajar, jangankan Ara, Surya pun tersingkirkan!" ucap Raina dengan begitu percaya diri.


Raina cukup tertarik dengan penawaran ini, "Masing-masing anak 1 permintaan. Kalo mereka ada 6 orang, berarti ada 6 permintaan dong? Wah lumayan banget nih!" gumam Raina.


"Gimana?"


"OK deal! Kalian jangan lupain perjanjian ini ok! Gue tunggu kalian dihari pembagian rapor!"


"Ok, siap!"


Tettt.... Tettt.... Tett...


Bel berbunyi, Raina pun pergi untuk kembali ke kelasnya. Semangatnya semakin membara karena taruhan dengan teman-temannya. Kali ini ia benar-benar bertekad untuk menjadi juara pertama.


"Kalo gue bisa juara pertama nanti, temen-temen kabulin keinginan gue, liburan ke DisneyLand, bisa minta sesuatu ke Bang Kenan dan pasti dikasih hadiah sama Aya. Wah pinter banget gue cari peluang. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui," gumam Raina sambil senyam-senyum karena senang.


***


Malam Hari


Setelah sholat Isya, Raina langsung pergi ke ruang belajar untuk belajar lebih keras agar bisa mencapai juara pertama. Surya yang melihatnya pun keheranan.


"Tumben tu anak rajin banget? Masa cuma karena pengen ke DisneyLand sampe kayak gitu sih?" gumam Surya. Surya pun masuk sambil membawakan susu dan beberapa camilan untuk Raina, "Nih ada camilan."


"Oh ok, makasih!"


"Tumben rajin banget belajarnya? Kesambet apaan?"


"Nggak papa, cuma tiba-tiba pengen juara 1 aja. Bayangin betapa kerennya gue waktu dapet juara 1."


"Kurangin halu, banyakin belajar ok! Lebih baik berusaha untuk mewujudkan impian daripada duduk manis menunggu impian terwujud. Impian nggak bakal terwujud kalo kita nggak berusaha."


"Siap pak bos!"


Mereka berdua tertawa bersama. Malam itu hingga hari terakhir ujian, mereka selalu belajar bersama-sama. Surya begitu senang melihat sifat Raina yang suka belajar perlahan kembali.


***


Pembagian Rapor


Tiba hari pembagian Rapor, ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Raina dan teman-temannya. Entah kenapa Raina merasa sedikit khawatir hari ini.


"Kenapa gue gugup ya? Gue takut kalo gue nggak juara 1. Apa kemaren gue terlalu percaya diri ya? Dari peringkat 3 paling belakang menuju peringkat 1 itu sulit. Apalagi waktu belajar gue cuma 1 minggu," gumam Raina yang sedang berdoa semoga mendapat juara 1.


Dika dan Faris melihat Raina yang tampak khawatir dengan keadaan ini. "Cie yang lagi khawatir. Siap-siap traktir kita ber-6 ya Naa..." ujar Faris.


"Ajakin kita nonton plus Pizza Hut dong Na, pengen makan Pizza gue tuh..." celetuk Dika.


"Diem kalian berdua! Gak tau apa kalo gue lagi khawatir!" kesal Raina.


"Hiii.... Jadi galak sekarang mah."


Kenan sedang berjalan keluar dari dalam kelas Raina dengan wajah lusuh, Raina pun langsung mendatangi Kenan diikuti Dika dan Faris.


"Bang gimana? Gue juara berapa" tanya Raina antusias.


"Huh... Kemaren peringkat 3, kenapa sekarang peringkat 2 sih Na! Lo nggak belajar Ya? Kerjaan lo apaan sih?" tanya Kenan yang kesal.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Buat yang mau join GC WhatsApp Mangatoon/ Noveltoon aku, bisa DM di @diagaa11 ok😇