
Surya mengetuk jendela mobil, Raina pun menurunkan kaca mobilnya. "Apa? Udah selesai?"
"Surprise...!!!"
Raina terkejut melihat parcel besar di tangan kanan dan kiri Surya, "Hah? Ini...."
"Buat lo! Gue tau kok, beberapa waktu yang lalu lo sempet diet sampe kesiksa banget kan? Sekarang nggak perlu lagi buat diet, gue nggak butuh cewek kurus. Lo pikir enak ya peluk cewek yang nggak punya daging? Sakit semua badan gue!" jelas Surya
Raina tertegun dan tak percaya melihatnya. Surya mulai kesal karena Raina diam saja, "Jangan diem aja! Buruan ambil kek! Ini berat tau nggak!"
"Oh iya lupa!" jawab Raina. Raina membuka pintu mobil dan menerima parcel dari Surya dengan senang hati.
Siapa yang tak senang? Parcel yang begitu besar dan dipenuhi coklat maupun camilan rasa coklat.
"Makasih..." ucap Raina sambil senyam-senyum karena senang.
"Jangan diet-diet lagi! Lo jelek kalo kurus!" ucap Surya tanpa basa-basi.
"Kalo gue gendut gimana?"
"Alhamdulillah... Berarti kelihatan kalo suaminya perhatian, bener-bener kasih nafkah lahir batin, makanya punya daging. Orang gendut itu bukannya kelebihan berat badan, cuma kelihatan lebih seger aja gitu..."
"Kalo gue kurus?"
"Alhamdulillah juga, berarti gue bisa peluk lo dengan sekali dekapan!"
Raina mengerutkan keningnya, "Kenapa kata-katanya... Enak di denger ya, nggak kayak dulu. Dulu lo kan ngata-ngatain gue savage banget!"
"Kapan? Gimana? Gue ngomong apa? Nggak pernah tau nggak!" bantah Surya.
Raina menatap Surya datar, "Pernah! Lo dulu jarang ngomong, tapi sekali ngomong nyebelin banget!"
"Nggak pernah! Gue nggak ngomong aneh-aneh kok!"
"Lo pernah bilang gini, 'Lo kurus jelek! Kelihatan kurang makan, kalo lo gendut juga jelek! Menutupi pemandangan'."
Surya mengingat-ingat kembali kata-kata itu, memang ia merasa pernah mengucapkan itu. Surya hanya senyam-senyum seolah minta maaf.
"Ya kan beda kondisi... Dulu kan kita musuhan, sekarang kan enggak."
"Dulu musuhan? Sekarang emang apa?"
Surya tersenyum mendengar pertanyaan Raina, "Saling cinta..."
"Dih... Enggak! Lo yang cinta, gue nggak!" ucap Raina sambil berpura-pura marah.
Surya berjongkok dan memegangi tangan Raina, "Jangan marah dong... Nggak baik buat kesehatan. Jangan marah ya, nanti minta apa gue turutin deh! Jangan marah ya..." bujuk Surya dengan susah payah.
"Lah iya-iya! Udah berdiri! Kayak gue bully orang aja deh..."
"Thanks babe..."
Cup...
Kecupan singkat mendarat secara halus di pipi Raina, si pelaku pergi begitu saja setelah melakukan aksinya. Sedangkan Raina masih diam memegangi pipinya.
"Di cium?"
Raina menengok dan melihat situasi, tidak terlihat siapapun di sekitarnya yang sedang memperhatikannya. Ia pun tertawa salah tingkah dan terlihat seperti orang kasmaran.
"Hahahaha... Ya ampun gue di cium! Mau copot ni jantung rasanya!"
Tok... Tok... Tok....
Surya kembali mengetuk jendela mobil, Raina pun membuka pintu mobil. "Apa lagi?" tanya Raina sambil bersikap biasa.
"Nih buat lo! Di makan! Jangan di koleksi, rugi gue beli kalo nggak lo makan..." pesan Surya sambil memberikan sebuah parcel lagi ke tangan Raina.
"Ya Allah... Lo borong satu toko ya? Banyak banget belinya! Ini kan udah ada banyak, lo mau taruh mana lagi? Kalo di sini semua, gue duduk mana?"
Surya melihat tempat duduk dan kaki Raina penuh parcel, "Ya kan beda... Tadi coklat, trus camilan coklat, kalo ini camilan kesukaan lo."
"Ya bantuin kek! Taruh belakang atau bagasi, ini gue duduknya gimana? Sempit woy!"
"Iya bentar!"
Surya menaruh semua parcel yang ia beli ke bagasi mobil. Jadi totalnya ada 3 parcel yang di beli Surya.
"Dah siap! Pulang atau mau mampir ke mana lagi?" tanya Surya yang sudah duduk di kursi sopir.
Raina menengok, "Pulang! lah... Mau kemana lagi? Udah capek dan puas, pengen main PS sambil makan coklat!"
"Ya udah..."
***
Di Rumah Raina
Sesampainya di rumah, Raina membawa buket coklat saja. Sedangkan kedua buketnya di bawa oleh Surya begitu saja.
"Bawain satu dong! Buketnya gue pegang, lo bawa parcel yang agak kecil ini!" pinta Surya yang kerepotan dengan kedua parcelnya.
"Nggak ah! Buket ini juga berat loh... Gue masuk dulu ya..."
Raina melenggang begitu saja pergi tanpa rasa bersalah atau apa, namun ia berpapasan dengan Kenan di depan pintu.
"Eh gila! Lo nyolong ini dari mana? Lo ambil seserahan orang nikah ya?" tanya Kenan saat melihat buket dan parcel yang di bawa Surya dan Raina.
"Enak aja!" bantah Raina, "Ini beli sendiri ya! Eh bang, bantuin Surya bawa kek... Nggak kasihan apa lihatnya? Liat deh, dia kerepotan gitu..."
"Ya lo sendiri ngapain? Cuma nyuruh tapi nggak bantuin?"
"Aku sungguh hanya gadis lemah tak berdaya... Hidupku terlalu berat untuk membantu orang lain."
"Dasar!" geram Kenan, "Sini Ya! Gue bantuin bawa! Biarin aja itu anak laknat!" kesal Kenan sambil mengarahkan pandangannya pada Raina.
"Apa-apa?!"
"Udah yuk masuk!" ajak Surya.
Mereka bertiga masuk dan sesampainya di kamar Raina, Kenan berniat untuk mengambil salah satu coklat.
"Minta satu ya!"
"Pelit bener! Gue lagi males keluar, nanti kalo gue keluar gue ganti deh. Gue beliin lagi..."
"ENG-GAK BO-LEH! Ini semua yang beliin suami gue, makanya nggak boleh ambil!"
"Dasar kikir!"
"Ya udah ambil! Tapi yang kecil, jangan yang gede!" ucap Raina dengan berat hati.
"Bilang gitu doang aja gengsi bener!"
"Biar!"
Setelah Kenan keluar, Raina dan Surya bermain Play Station bersama. Awalnya Surya berniat untuk belajar saja, tapi karena Raina memaksa, akhirnya dia juga bermain.
.
.
.
.
***
1 Bulan Kemudian
Hari-hari berlalu, kini Surya dan Raina semakin saling mencintai dan juga semakin romantis. Setelah lama waktu berlalu, sekolah hendak mengadakan Study Tour. Hari ini anak-anak IPS 5 sedang berdiskusi dengan Pak Rudi alias pak wali kelas untuk menentukan tujuan tour.
"Selamat pagi anak-anak..." sapa Pak Rudi
"Pagi pak..."
"Gimana? Sehat? Iyalah sehat, kalo nggak sehat kalian pasti nggak sekolah. Iya kan? Ok jadi langsung saja, sebentar lagi sekolah akan mengadakan Study Tour...."
"Yeee...."
"Yuhuu!!!"
"Horee...."
Anak-anak langsung bersorak semangat mendengar sekolah akan mengadakan Study Tour.
Dok... Dok... Dok...
Pak Rudi mengetuk meja agar suasana kembali fokus dan tenang, "Jadi begini... Untuk Study Tour kali ini, sekolah memberikan kesempatan untuk para murid yang memilih tujuannya. Jadi setelah kita mengusulkan suatu tempat, para guru akan mendiskusikannya untuk dijadikan pertimbangan... Jadi jika di suruh memilih, kalian ingin ke mana?"
"Disney Land Singapore pak!"
"Ke Jepang pak! Lihat anu!"
"Korea Selatan pak! Nyari oppa-oppa"
"Ke China pak! Lihat orang membangkitkan mayat!"
"Ke Korea Utara pak! Belajar perang!"
"Ke Amerika pak! Lihat Donald Trump debat!"
"Ke Israel pak, belajar rakit rudal!"
"Ke gedung DPR pak! Ikut demo!"
Pak Rudi semakin ngelu kepalanya mendengar saran anak-anak didiknya yang semakin melantur.
"Sudah-sudah! Kalian ini mau tour apa keliling dunia sih? Tau nggak kalo bapak ini gampang mabuk kendaraan!"
"Hahahaha...."
Dok... Dok... Dok....
Pak Rudi kembali memukul meja, "Sudah-sudah! Raina yang sebagai ketuanya boleh memberikan pendapat!"
Maxime menyenggol-nyenggol Raina yang tertidur lelap di atas bangkunya.
"Psstt... Na! Bangun Na! Na... Ada Pak Rudi loh Na!"
"Raina! Ada saran?" tanya Pak Rudi dengan suara sedikit keras.
Raina terlonjak dari kursinya karena terkejut, "Padang! Padang! Nasi padang!"
"Wah ide bagus! Ini baru benar anak-anak. Kalo ke Padang kita kan bisa nyicipi Nasi Padang..."
"Kalo cuma mau Nasi Padang, di ujung perempatan itu juga ada pak!"
"Hahahaha...."
Raina mengucek matanya agar benar-benar terbangun. Ia bertanya pada Maxime, "Ini bahas apa sih?"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Kalian pengen Nana dan Aya tour kemana hayo?
***
Hai All... Main tebak-tebakan yuk! Yang bisa nebak asli pinter👍 Yang nggak bisa... Bukannya nggak bisa, tapi kurang niat. Artikan sesuai Abjad ok.
1 \= A
26 \= Z
Dsb...
8-1-18-9
9-14-9
1-21-20-8-15-18
21-12-1-14-7
20-1-8-21-14
Udah ketemu? Selamat... Tulis pesan, kesan dan apapun yang ingin kalian ungkapkan buat author di kolom komentar. Sesuai tema ya... Temanya apa kak? Itu, jawaban tebak-tebakannya ❤️