
"Nggak papa... Nana cuma tiba-tiba kangen aja sama papa mama..." ujar Raina sambil meneteskan air mata tanpa sadar.
"Kenapa? Kan ada ayah bunda di sini... Kita juga orang tua kamu, kalo ada masalah itu cerita dong cantik...."
Raina menengok dan melihat ibu mertuanya yang sibuk memandangi langit malam yang bertabur bintang.
"Bunda.... Emang hubungan kalo di dasari paksaan gak pernah bisa berjalan baik ya?" tanya Raina tiba-tiba.
"Kenapa gitu?"
"Nggak papa... Cuma tanya kok, kalo nggak mau jawab nggak papa, abaikan aja."
"Mau di paksakan atau enggak, kalau memang dasarnya udah jalannya, ya nggak bakal meleset. Tuhan punya banyak cara untuk membuat suatu hal terjadi, dan tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas kehendak Tuhan, dan memang semua sudah jalannya begitu. Kamu ada masalah apa? Cerita sama bunda sini..."
Raina ingin bercerita tentang semuanya, tapi ia mengurungkan niatnya entah kenapa. "Enggak papa kok bun, cuma lagi capek plus stress aja setelah ujian."
"Kamu tau nggak... Mama kamu bertemu bunda pertama kali bukan di TK kamu sama Surya loh..."
Raina menengok karena merasa tertarik dengan cerita bunda, "Masa sih bun? Emangnya kapan?"
"Bunda itu pertama kali bertemu mama kamu waktu masih hamil sekitar 5 bulan. Waktu itu bunda lagi jalan-jalan sendiri karena stress di rumah, dan nggak sengaja ada orang yang nabrak bunda sampai bunda jatuh. Bunda mengeluh kesakitan karena perut bunda tiba-tiba sakit banget, semua orang hanya melihat dan bertanya."
"Waktu hamil Aya?"
"Iya... Tiba-tiba mama kamu dengan sigap langsung bantu bunda berdiri lalu menghentikan taksi. Mama kamu langsung secepatnya membawa bunda ke rumah sakit terdekat karena takut bunda kenapa-napa...”
Raina mendengarkan ceritanya dengan seksama. Ia tak menyangka kalau mamanya sudah mengenal bunda Surya sejak dulu.
"Alhamdulillah bunda nggak apa-apa, cuma syok karena jatuh. Mulai saat itu, kami berteman baik. Sekitar 1 bulan kemudian, kami ketemu lagi di klinik dokter kandungan yang sama. Mama kamu sedang mengandung kamu, dan akhirnya kami sering ke dokter bareng. Surya lahir lebih dulu dan mama kamu sudah periksa kalau jenis kelamin kamu perempuan, tiba-tiba muncul ide untuk menjodohkan kalian."
Raina tertegun saat mengetahui ide perjodohan ini sudah ada sejak dirinya belum lahir, "Jadi maksud bunda, aku sama Aya di jodohin sejak aku belum lahir?"
"Iya... Tapi ayah ngajak bunda dan Aya pindah ke rumah ibunya sebelum kembali ke sini saat Aya mulai masuk TK. Kamu tau kenapa nama kamu Raina?" tanya bunda yang dijawab dengan gelengan kepala Raina.
"Raina berasal dari kata Rain yang artinya hujan, Surya itu berarti matahari. Bunda dan mama kamu berharap kalau suatu saat kalian bernasib sama seperti pelangi."
"Pelangi?" Raina mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Nama kamu berarti hujan, nama Surya berarti matahari. Hujan kalau terkena sinar matahari akan membentuk pelangi kan? Itulah harapan bunda dan mama kamu. Kami berharap hidup kalian seindah pelangi, penuh warna dan menakjubkan. Bunda berharap, apapun permasalahan kamu sama Surya kedepannya, kalian selesaikan baik-baik dan jangan sampai mengucapkan kata 'Cerai'. Karena kata-kata itu tidak main-main, sekali kalian mengucap kata itu, kehidupan kalian bisa berubah 360°."
Raina sedang merenungkan semuanya, ia berpikir kalau ia juga salah karena tak mau mendengarkan penjelasan Surya. Pikirannya terlalu dangkal saat memikirkan permasalahan ini, Raina merasa kalau dirinya saat ini terlalu egois.
"Kamu kenapa? Kok bengong? Mikir apa hayo..." ledek bunda
Mendengar kata-kata bunda, Raina tersadar dari lamunannya. "Oh enggak kok bun, cuma bingung pengen liburan ke mana. Juga pengen main sama Bang Kenan, udah lama nggak main bareng Bang Kenan."
"Oh gitu... Ya udah, mungkin kamu juga udah terlalu lama nggak ketemu Kenan ya. Main aja nggak papa."
"Boleh bun?"
"Boleh... Asal jangan lupa pulang!"
"Iya bun makasih..."
"Ya udah, bunda masuk dulu ya! Mau lihat ayah kamu tuh lagi ngapain, mau gangguin ayah kamu dulu!"
"Hehe iya bun..."
Raina tiba-tiba memiliki ide untuk liburan bersama Kenan. Raina sedang butuh refreshing sejenak untuk menyegarkan otak dan hatinya. Raina pun mengirim pesan pada Kenan.
To: Bang Ke
Bang, lo libur juga kan? Liburan yuk, bareng temen-temen gue. Temen gue cantik-cantik loh, bodynya bahenol semua!
Belum sampai 5 menit Raina mengirim pesan, Kenan langsung menelfon untuk meminta kejelasan dari Raina.
"Halo bang... Napa?"
"Lo yang bener aja? Mau liburan ke mana? Gue juga pengen liburan nih!"
"Serah deh bang... Nurut aja gue mah, muncak juga boleh."
"Kapan mau berangkat?"
"Besok gimana? Berangkat sore, kan sampe Bogor malem tuh... Waktu buat istirahat di vila dulu, besoknya baru keliling-keliling!"
"Berangkatnya sore bang, bukan subuh! Masih ada waktu kali!"
"Ya udah deh iya! Ajak siapa aja?"
"Arkan, Faris, Dika, Maxime, Diva sama Naya!"
"Ya Allah... Nggak bisa pake mobil di rumah dong? Mana muat segitu banyak!"
"Rental kan bisa bang ganteng..."
"Ah ya udah iya deh! Suruh siap-siap gih temen-temen lo, gue siapin semuanya!"
"Makasih bang... Abang yang terbaik deh, kayak abang tukang bakso yang lewat tiap kali Nana laper!"
"Woy! Ganteng-ganteng disamain tukang bakso langganan! Gantengan gue lah..."
"Oke dahh..."
Raina mematikan lebih dulu telfonnya sebelum Kenan mengeluarkan keahlian rapper-nya.
Raina langsung mengontak teman-temannya. Semua langsung oke begitu saja, terutama Arkan yang langsung ok pertama kali.
"Ni anak kenapa ya... Tumben fast respon, biasanya lemot kayak jaringan 3G. Apalagi dia kan belum akur sama Diva, kok mau begitu aja?"
***
Keesokan Harinya
Raina diam-diam mengemasi bajunya ke dalam koper. Untungnya Surya sedang keluar membeli sesuatu, ayah dan bunda sedang di pabrik.
"Untung ni rumah sepi... Langsung otw gue!"
Raina berpamitan pada Bi Minah, lalu pergi dengan taksi online yang ia pesan. Terlihat teman-temannya sudah menunggu di depan rumahnya.
***
Di Rumah Raina
Kenan tampak siap-siap membawa beberapa termos yang entah apa isinya, juga ada kotak sterofoam besar yang dimasukkan ke dalam mobil.
Maxime dan yang lainnya tampak begitu bersemangat dengan baju yang begitu modis, hanya Arkan yang tampak sedikit murung. Raina sedikit aneh melihatnya, karena biasanya Arkan itu si pembuat onar. Tidak mungkin Arkan jadi pria kalem, itu hanya imajinasi belaka.
"Udah siap bang?" tanya Raina
"Dateng juga ni anak... Gue kira telat, kalo telat kan mau gue tinggal gitu..." gurau Kenan
"Gue susul pake ojol!"
"Gue ngebut!"
"Gue suruh abang ojolnya juga ngebut!"
"Trus sama-sama nyampe!"
"Gak guna dong... Masukin dong koper Nana, tolong ya bang ganteng..."
"Baik waktu ada maunya doang! Gue buang juga lama-lama!"
"Jangan dong... Masa kembaran Angelina Jolie mau di buang."
Kenan berbalik dan menatap Raina, "Apa? Kembaran Patrick Star?"
"Au ah... Marah nih gue marah!"
"Mana ada marah bilang-bilang?"
"Udah buruan berangkat aja!"
"Surya nggak di ajak?" tanya Maxime yang ikut nimbrung.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏