My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Martabak



"Sebenarnya lo jatuh karena Ara taruh pelicin lantai ditangga itu Mel, gue yang ngepel biar nggak kelihatan ada buktinya. Ini pertama kalinya kan gue ngomong ke lo? Tolong biarin ini jadi rahasia kita ya! Mental gue terlalu lemah buat ngomong saat lo bangun, gue lebih berani kalo lo masih tidur."


Surya tak bisa menahan emosinya lagi, ia mematikan rekamannya lalu menyeret Rahma keluar dengan kasar.


"Aw lepasin! Sakit tau!" keluh Rahma sambil berusaha melepaskan genggaman Surya yang begitu erat.


Surya sedikit menghempaskan Rahma kedepan, "Jelasin semuanya! Apa yang lo maksud tadi!" tegas Surya.


Rahma sedikit gelagapan melihat Surya yang tampak begitu marah dihadapannya, "A-apa maksud lo? Gue nggak ngerti, gue pergi dulu ya..."


Rahma bermaksud untuk pergi, namun tangan Surya lebih cepat untuk menarik tangan Rahma kembali.


"Mau kemana? Urusan kita belum selesai!"


Rahma kembali berusaha melepaskan genggaman Surya, "Ya tolong lepasin! Gue nggak tau apa-apa Ya!"


Surya semakin muak dengan semua basa-basi ini. Ia langsung mengambil ponselnya kasar, dan memutar kembali rekaman suara Rahma tadi.


Rahma diam melongo mendengarnya, "Ya itu nggak sepenuhnya bener! Gue cuma asal ngomong doang!"


Surya mematikan rekaman itu dan kembali memasukkan ponselnya ke saku, "Jujur aja kenapa sih Ma! Apa susahnya jujur! Lo takut apa? Keluarga lo di celakai Ara? Gue bisa lindungi keluarga lo Ma!" Surya terus mendesak Rahma.


"Bukan itu!"


"Terus apa? Lo takut apa?"


"Banyak Ya! Banyak!" jawab Rahma dengan nada meninggi. Perlahan, Rahma meneteskan air matanya, "Gue takut adik gue nggak bisa sekolah lagi, gue takut bokap gue dipecat, gue takut nyokap gue sedih dan gue takut dikeluarin dari sekolah! Keluarga gue emang mampu, tapi kalo buat nandingin keluarga Ara masih jauh Ya!" jelas Rahma dengan air mata yang terus menetes.


"Ya terus mau lo gimana? Lo suka orang lain sengsara gara-gara omongan lo? Fitnah itu dosa besar Ma! Tolong perbaiki kesalahan lo saat ini, jangan sampe kedepannya lo dapet karma yang lebih menyakitkan Ma!" bujuk Surya.


"Ya terus apa? Gue jujur begitu aja? Untuk saat ini keluarga lo pasti lindungin gue, tapi hidup nggak cukup 1 bulan Ya! 1 tahun kemudian gimana? 5 tahun, 10 tahun, atau bahkan 15 tahun kedepan? Gue juga pengen bahagia tanpa dibayangi rasa was-was!" Rahma mengungkapkan semua ketakutannya.


"Gue bisa jamin keselamatan lo Ma!"


"Bullsh*t! Omong kosong, bisa lo buat Ara pergi dari hidup gue? Bisa lo buat Ara nggak ada di negara ini lagi? Bisa lo buat Ara lupain gue?"


Surya terdiam sejenak, wajar kalau Rahma merasa was-was dan ketakutan seperti ini. Ara pasti tidak akan diam saat tau kalau Rahma membeberkan rencananya.


"Gue bisa bantu lo Ma! Tolong banget, gue bakal hargai banget kalo lo mau jujur. Gue dan keluarga gue pasti nggak akan diam dan tutup mata, kita pasti lindungin lo!" bujuk Surya.


Rahma mengusap air matanya, "Kenapa lo perduli banget sama Raina? Dia kan cuma pacar lo."


Surya menghela nafas panjang untuk memantapkan hatinya, "Karena dia istri gue! Dia menantu satu-satunya di keluarga gue."


Rahma terdiam, tatapan matanya menunjukkan kalau ia tak mempercayai itu semua. "Kalian kan masih SMA, mana mungkin udah nikah. Ngaco lo!"


"Terserah lo percaya atau enggak, karena kenyataannya emang udah kayak gitu. Karena ini menyangkut masa depan istri gue, tolong lo maju dengan inisiatif lo Ma. Jangan buat gue kasar dan terpaksa seret lo ke sekolah sebagai saksi!" Surya memberikan ketegasan pada Rahma sebagai peringatan.


Rahma sedang bertengkar dengan hatinya sendiri, ia takut pada Ara tapi juga takut karena terus dihantui rasa bersalah itu.


"Sama adik sepupu aja, Ara setega itu sama Amel. Dia jadiin Amel korban biar dia seolah-olah jadi peri penolong. Terus seberapa tega dia sama gue yang cuma temen dan nggak deket juga!" pikir Rahma. "Kasih gue waktu buat mikirin semuanya. Karena ini juga menyangkut masa depan keluarga gue!" pinta Rahma.


"Apa sih yang harus lo pikirin lagi!" Surya menahan amarahnya, "Oke... Oke, lo gue kasih waktu buat mikir semuanya. Tapi inget, semakin lama lo nggak berdiri sebagai saksi, maka semakin cepat gue bertindak dengan paksa!" tegas Surya.


Surya berbalik lalu pergi meninggalkan Rahma yang masih berpikir. Surya sedikit percaya diri kini karena memegang bukti ditangannya.


"Gue bisa aja serahin bukti ini secepatnya, tapi gue tau kalo Rahma cuma pion Ara, dia nggak tau apa-apa. Gue bisa maafin dia, tapi nggak dengan Ara!" gumam Surya sambil berjalan.


***


Di Minimarket


Surya mencari apa saja bahan martabak di Google lalu membelinya. Karena begitu banyak pilihan, Surya membeli semuanya yang sekiranya enak.


"Mbak bungkus semua ini ya!"


"Iya mas..." penjaga kasir itu tampak senyam-senyum menatap Surya malu-malu. "Mau buat kue ya mas?"


"Iya mbak."


"Kok beli bahannya banyak banget? Buat pesanan?"


"Enggak, istri saya pengen kue di rumah, jadi saya beliin aja bahan-bahannya. Buat bahannya biar dia yang milih, yang mana yang disuka," jawab Surya sambil senyam-senyum.


Penjaga kasir itu tampak sedikit kecewa saat Surya menyebutkan bahwa ini semua untuk istrinya.


***


Di Rumah Keluarga Pradipta


Surya diam-diam masuk ke dapur memanggil Bi Iyem. "Bi... Bi Iyem!" panggil Surya lirih.


"Oh, Aden udah pulang? Gimana den, jadi buat kue?" jawab Bi Iyem yang berbisik.


"Jadi Bi! Saya tunggu di mes belakang ya!"


"Siap den!"


Surya berjalan menuju mes Bi Iyem yang berada di belakang rumahnya. Ia menaruh semua bahan-bahannya diatas meja.


"Gimana den? Udah beli semua bahannya kan?"


"Udah dong Bi, nih lihat!"


Bi Iyem terkejut melihat bahan roti yang begituan banyak, "Ini bikin martabak buat Non Raina apa buat jualan den?"


"Ya buat Raina lah Bi! Tadi disana banyak macamnya, jadi ku beli semua aja biar nggak bingung, hehe..."


Bi Iyem membuka 2 kantong plastik yang begitu penuh itu. Hanya untuk tepung saja Surya membeli banyak macam.


"Den, kita cuma butuh tepung terigu... Kenapa beli ini semua? Ada tepung tapioka, tepung beras, tepung maizena, tepung ketan, tepung sagu juga," tanya Bi Iyem yang penasaran.


"Oh beda? Kirain sama, abis putih semua... Jadi ku ambil semuanya aja, lebih baik lebih daripada kurang kan?" jawab Surya cengengesan.


"Buat coklat cuma pake meises aja den, kenapa beli coklat batangan sama choco chips?"


"Hehe... Biar jadi martabak moderen Bi!" Surya mengacungkan jempolnya.


"Dan kenapa ada banyak macam keju juga?" Bi Iyem melihat ada keju cheddar, keju parmesan, keju mozzarella, Quick Melt Cheese, dan juga Sheet Cheese.


"Biar enak Bi! Ini tadi mahal loh bahannya!"


Bi Iyem menepuk jidatnya melihat bahan-bahan yang dibeli Surya. Mereka pun mulai memasaknya.


.


.


.


Hampir 1 jam berkutat didapur, Surya selesai memasukkan martabaknya kedalam kardus kecil. Dengan percaya diri ia berjalan membawa martabak itu untuk diberikan pada Raina.


"Makasih Bi! Sisa bahan-bahannya buat bibi masak aja gak papa, mahal loh itu!"


"Iya deh den... Makasih."


***


Di Kamar


Raina langsung menengok begitu melihat ada yang membuka pintu, "Yes martabak gue dateng!"


"Tadaaa... Nih martabaknya."


"Wuah makasih!"


Raina langsung menyahut martabak ditangan Surya, lalu ia berhenti bergerak saat Surya duduk disebelahnya. Ia mengendus baju yang dipakai Surya.


"Kenapa? Gue wangi ya? Gue ganti parfum nih..."


Raina berpikir sejenak, "Kok bau badan lo kayak bau tepung sih?" tanya Raina.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏