
Diva memakan makanannya dengan lahap, sedangkan Raina tidak lagi nafsu makan. Untuk minum saja Raina tidak ingin merasakannya.
"Lo suruh gue makan ini?" tanya Raina
"Iya... Ayo di makan, enak loh ini!" jawab Diva
Yang benar saja, hanya ada salad sayur dengan porsi jumbo di mangkuk Raina. Raina terdiam tak percaya dengan apa yang diberikan oleh temannya ini.
"Gue masih manusia loh ini..." ujar Raina
"Iya tau."
"Ini sayur doang loh."
"Iya tau."
"Aku bukan kambing loh...."
"Yang makan daun-daunan bukan cuma kambing Na... Manusia juga butuh sayur," jawab Diva dengan datar
"Ini rasanya kayak apa?"
"Hmm... Enak banget deh pokoknya. Manis, asem, seger, pokoknya enak. Cobain deh..."
Boleh gak gue pulang dan beli nasi Padang di jalan tadi? - Batin Raina
"Ini bisa di makan?" tanya Raina
"Ya bisa lah!"
"Gak beracun?"
"Masa gue mau racunin temen sendiri sih Na?"
"Boleh di makan?"
"Boleh... Yang banyak aja."
Dengan berat hati Raina memakai sedikit demi sedikit salad sayur di depannya. Hatinya meng-iyakan, mulutnya menolak, perutnya berteriak lapar. Lalu mana yang harus di turuti Raina?
Mama... Doakan Raina baik-baik saja setelah ini! - Batin Raina
Raina memakannya sampai habis, pastinya secara terpaksa. Setelah makan, ia istirahat sebentar lalu berolahraga bersama Diva.
***
Di Ruang Olahraga
Terdapat ruang olahraga di rumah Diva. Pastinya Diva yang meminta ruangan itu. Hanya ruangan kosong besar dengan cermin besar dan beberapa alat gym.
"Tadaaa.... Hari ini kita belajar yang ringan-ringan dulu aja! Nanti kalo udah terbiasa, kita tambah porsi olahraganya!" ucap Diva bersemangat
"Emang beda?"
"Ya beda lah! Masa nggak tau?" tanya Diva yang dibalas gelengan kepala Raina "Emangnya lo nggak pernah olahraga ya di rumah?"
"Enggak, kan di sekolah udah olahraga seminggu sekali, berarti di rumah nggak usah!" jawab Raina percaya diri
Diva menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Heran gue! Pacar lo atlit basket berprestasi, tapi lo malah model cewek kayak gini!"
"Apa sih? Yang penting kan udah olahraga. Walaupun seminggu sekali," jawab Raina menghindar
Diva hanya mengelus dadanya berusaha bersabar dengan teman yang ketidaknormalannya melewati batas wajar ini.
"Oke, lo ganti baju pake baju olahraga gue ya! Ntar gue ambilin!" ucap Diva
Diva masuk untuk mengambil beberapa pakaian olahraganya. Ia meminjamkan sport singlet dan legging ¾ warna biru dongker.
"Nih sana ganti baju!"
Raina membentangkan baju yang diberikan oleh Diva. Ia terdiam sejenak melihatnya.
"Lo suruh gue pake ini?" tanya Raina tidak percaya
"Iya! Tenang aja, papa gue masih tugas di luar kota, mama tadi pergi arisan sama temen-temennya. Jadi santai aja, nggak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita!" jawab Diva meyakinkan
"Oh..."
Raina berjalan menuju ruang ganti dengan langkah ragu. Pasalnya, ia belum pernah memakai pakaian terbuka seperti ini didepan orang lain.
Raina keluar dengan sport style yang cukup cocok di badan Raina. Warna biru dongker yang dipadukan dengan putihnya kulit Raina tampak begitu cocok.
"Wow... Baru nyadar gue kalo lo punya pinggang kecil banget! Cuma itu apa? Perut berlemak astaga!" ucap Diva nerocos
Raina melihat perutnya yang rata, menurutnya tidak berlemak. Hanya memang tidak memiliki ABS seperti Diva. Tapi tetap saja Raina tidak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan.
"Ok yuk mulai pemanasan!"
Raina dan Diva memulai olahraga dengan beberapa gerakan pemanasan sederhana. Lalu Raina disuruh mencoba memakai Treadmill.
"Ok... Durasi pertama 10 menit aja ok!" ucap Diva
"Kuat! Pasti kuat! Ayo semangat!"
Diva menyemangati Raina untuk berlari di atas Treadmill. Awalnya memang baik-baik saja, tapi setelah beberapa saat, Raina mulai lelah dan kesulitan mengimbangi ritme Treadmill.
"Div... Sumpah gue capek! Gue nggak kuat!" keluh Raina
"Ayo semangat! 1 menit lagi Na!" sorak Diva menyemangati
Raina bersemangat karena mendengar tinggal 1 menit lagi. Ia terus berlari dan memaksakan dirinya.
"Udah pa belum sih? 1 menit kok lama banget?"
"1 menit lagi! Tadi 1 menit lebih."
Raina memutar bola matanya jengah, ia melanjutkan berlari agar segera selesai. Kemauannya terlalu keras untuk menyerah di tengah jalan.
"Udah? Tinggal berapa detik?"
"50 detik!"
"Hah? Masa dari tadi cuma berkurang 10 detik? Nggak salah?"
"Mentor di sini siapa sih?"
"Ck!"
Raina berlari lagi sambil menghitung mundur sendiri dalam hati karena tidak percaya dengan ucapan Diva.
"Udah kan?"
"Udah? Udah darimana nya? Masih 30 detik tau nggak!"
"Lah... Tadi bilang 50 detik? Gue hitung sendiri udah selesai kok!"
"Mungkin lo salah kali... Lo kan matematika remidi 4x, gue pake alat. Udah nurut aja!"
Raina menurut, langkahnya semakin panjang namun ritme larinya di kurangi karena semakin lelah.
"Berapa lagi Div?"
"20 detik lagi!"
"Etdah... Dari tadi kaga selesai-selesai? Itu ngitungnya perjam ya?!"
"Nah tinggal 10 detik lagi!"
Dengan tenaga ekstra Raina berhasil menyelesaikan lari dengan Treadmill. Ia langsung terkapar lemas di atas lantai dengan keringat yang bercucuran.
"Ya Allah... Gue nggak jadi Cheers aja deh! Latihannya terlalu berat buat gue yang santuy!" ucap Raina dengan keringat bercucuran
"Mana ada? Nggak bisa! Udah daftar nggak bisa keluar!" tegas Diva
Raina hanya ingin menangis tanpa suara saat ini. Ia ingin pulang, makan ayam lalu nonton film atau setidaknya main game online.
***
Selesai Olahraga
Selesai Olahraga Raina berkemas untuk pulang. Ia berterima kasih pada Diva lalu meminta Surya menjemputnya.
"Makasih loh ya... Jangan sering-sering, sekali ini aja ya!" gurau Raina
"Wah... Ide bagus, berarti lain kali porsinya harus di tambah 4x lipat ya. Kan jarang," jawab Diva
"Ah nggak jadi, setiap hari aja asal dikit-dikit! Ya udah gue pamit, makasih buat hari ini dan pamitin sama mama lo ya!"
"Siiaapp..."
Raina masuk mobil lalu pergi pulang bersama Surya.
***
Di Mobil
"Lo tadi ada acara apa di rumah dia?" tanya Surya tiba-tiba
"Kerjain tugas!"
"Tugas? Tumben... Biasanya nggak pernah kerjain, lo kan lebih sering nyontek temen daripada ngerjain sendiri!"
"Kerjain salah... Nggak kerjain tambah salah, heran sama dunia ini!"
"Ya udah nggak usah heran... Lo udah makan? Pengen makan apa? Gue beliin sekarang!"
Raina bersemangat mendengar akan dibelikan makanan oleh Surya. Raina langsung berpikir, apa yang enaknya ia makan.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏