
Raina keluar dari mobil dan berjalan untuk masuk kedalamnya rumah tanpa memperhatikan Surya sama sekali. Ia benar-benar mengacuhkan Surya sepenuhnya.
Surya menarik tangan Raina agar berhenti, "Na tunggu dulu! Gue pengen ngomong!" pinta Surya.
Raina melepaskan tangan Surya dari tangannya, "Sorry gue lagi butuh waktu! Tolong jangan buat gue semakin benci sama lo! Selagi gue masih ramah, mending lo pergi aja! Kalo lo nggak pergi sekarang, gue yang akan pergi selamanya dari rumah dan hidup lo!" ancam Raina dengan tatapan mata yang dingin.
Surya melepaskan genggamannya, dan ia mundur selangkah. Ia harus bertindak dengan hati-hati sekarang, Raina sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
"Ya udah... Tenangin diri lo dulu. gue bakal balik lagi buat liat keadaan lo. Tetep hidup dan jangan nyerah!" pesan Surya. Surya berbalik dan berhenti didepan Kenan, "Bang... Titip Raina dulu, kalo situasi udah membaik, gue jemput dia lagi!"
"Iya, lo sabar dulu ya! Raina juga perlu waktu buat nerima semua ini."
"Iya bang, gue pergi dulu!"
Surya pamit untuk pulang dan meninggalkan Raina untuk saat ini agar situasi tak semakin memburuk. Raina langsung masuk kedalam, lalu menghempaskan seluruh tubuhnya keatas kasur lamanya.
Ia membenamkan wajahnya di bantal yang ada, hanya diam. Tidak senang, tidak sedih namun juga tidak menangis. Ia hanya merasa sedang tidak memahami dirinya sendiri.
"Gue ini kenapa sih!"
Raina berbalik dan menatap langit-langit kamarnya, ia menghela nafas panjang. Tangannya menutupi mata dan ia memejamkan mata untuk menikmati tiap nafas yang ia hembuskan.
"Siapa yang sebenarnya gue benci? Ara, Surya, situasi atau diri gue sendiri?"
Tingg....
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Raina. Dengan malas Raina mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
From: Maxime
Hai Na, besok ada waktu nggak? Mau jalan bareng gue?
Raina terkejut, sungguh tak biasanya Maxime mengajaknya jalan. Ia berpikir kalau harusnya Maxime lebih sibuk karena ini liburan, pasti jadwal konser dan photoshoot lebih banyak.
To: Maxime
Kemana? Sama siapa? Mau ngapain? Jam berapa?
Raina sedang malas mengetik banyak, ia langsung saja menanyakan semuanya sekaligus. Maxime yang masih online pun langsung membalasnya.
From: Maxime
Besok gue jemput jam 8 pagi ya, gue jemput di rumah.
Raina malas menjawabnya, ia lebih memilih untuk tidur. Ia mematikan ponselnya dan mengistirahatkan otak dan mentalnya yang sedang lelah.
.
.
.
Sore hari ia terbangun, ia ingin sekali mandi, namun badannya seolah menolak. Ia seperti tak bisa merasakan apapun saat ini, semua terasa hampa.
Dengan memaksakan diri ia mengambil earbuds yang ada di laci meja sebelah kasurnya dan hendak mendengarkan musik, namun ponselnya ternyata mati.
"Ini siapa sih yang matiin hp! Nyebelin banget!" keluh Raina.
Raina menyalakan ponselnya, begitu data menyala muncul puluhan hingga ratusan notifikasi yang ada di ponsel Raina.
30 Panggilan tak terjawab dari Diva
20 Panggilan tak terjawab dari Naya
47 Panggilan tak terjawab dari Arkan
8 Panggilan tak terjawab dari Dika
13 Panggilan tak terjawab dari Faris
Raina geram sendiri melihat notifikasi yang masuk, "Mereka pikir gue mati apa kenapa sih! Telfon segini banyak!"
Spam-spam pesan juga bermunculan dari teman-teman Raina, ia hanya mengabaikannya dan mengaktifkan Plane Mode agar tidak dihubungi siapapun. Ia ingin sendiri saat ini.
Raina mengenakan earbuds-nya lalu menyalakan musik. Ia mendengarkan musik yang ada di ponselnya, entah kenapa semua terasa seperti lagu yang menyedihkan ditelinga Raina. Berkali-kali Raina menangis tanpa sebab saat mendengarkan alunan musik yang masuk ketelinga Raina.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Kenan yang tidak melihat adiknya sejak siang pun mulai khawatir, ia naik keatas dan mengetuk pintu Raina.
Tok... Tok... Tok...
"Na... Lagi apa? Boleh masuk nggak?"
Panggilan itu tidak direspon oleh Raina, Kenan semakin khawatir. Ia langsung masuk begitu saja karena takut Raina kenapa-napa.
Kenan terkejut melihat kamar Raina yang gelap gulita, "Na... Raina! Lo dimana?" pertanyaan Kenan kembali tak direspon, Kenan semakin panik. "Na lo dimana!!!" teriak Kenan.
Raina yang sejak tadi berbaring di kasur dengan earbuds ditelinga nya pun merasa seperti dipanggil. Ia melepas salah satu earbuds-nya dan menyahut, "Apa bang?"
Kenan langsung menyalakan lampu dan lega setelah melihat Raina yang bermalas-malasan diatas kasur. "Lo kenapa nggak turun dari tadi? Gue masakin nasi goreng tuh! Ngapain sih di kamar mulu! Makan kek, tuh nasi goreng enak tau! Buatan Kenan!"
"Iya ntar lagi..."
Kenan melihat Raina masih memakai baju yang sama sejak pagi tadi, "Kok masih pake baju itu? Lo belum mandi ya?"
"Emang ini jam berapa mau mandi?"
Kenan geleng-geleng kepala melihat keadaan Raina, ia duduk disamping Raina. "Sedih boleh, tapi harus makan! Mandi, jangan lupa rawat diri!"
"Mager bang... Lagian gue nggak ngerasa laper, beneran!"
"Orang kalo terlalu sedih itu emang nggak bisa rasain laper, tiba-tiba sakit aja gitu. Daripada uang di pake ke dokter, mending beliin ayam penyet kan? Yuk makan!" ajak Kenan.
"Mager bang.... Beneran deh, ntar kalo udah laper gue turun makan!"
Kenan secara paksa membawa Raina ke kamar mandi, "Mandi sekarang! Lo tau nggak, bau lo itu menyebar ke seluruh desa tau nggak, kasih warga desa tuh!"
Raina menatap Kenan datar, ia benar-benar tak ada keinginan untuk melakukan apapun saat ini.
"Lo mandi abis itu makan! Kalo mau mati, potong aja urat nadi, jangan nggak makan! Nanti hilang pencitraan kita sebagai holang kayah," gurau Kenan.
Raina ingin tertawa, tapi ia seperti malas melakukannya. "Ya udah iya, keluar gih! Gue mau mandi dulu!"
"Ok, jangan tenggelemin diri di bak mandi biar mati ya! Nggak epic tau, kalo mau tenggelemin diri itu di kawah Bromo sekalian ok!" gurau Kenan.
"Iya-iya bawel!" Raina mendorong Kenan keluar kamar mandi.
***
Besoknya
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, tapi Raina masih belum beranjak dari kasurnya. Ia benar-benar malas melakukan apapun saat ini.
Tok... Tok... Tok...
Kenan masuk ke dalam kamar Raina dan melihat Raina masih rebahan santai diatas kasurnya yang besar dan empuk.
"Ya Allah ni anak! Bangun woy, lo mau jalan sama Max ya? Noh orangnya di bawah!"
Raina menengok dengan malas, "Oh ya? Bilangin aja nggak jadi bang, gue mager banget sumpah! Gue gak mood jalan!"
"Ni anak ya! Mandi sekarang, nggak enak sama orangnya lah! Kenapa nggak dari kemarin-kemarin batalinnya sih!" kesal Kenan.
"Mager ngetik..."
"Ya Allah! Sana mandi!"
Karena paksaan Kenan, Raina terpaksa mandi dan bersiap untuk pergi dengan Maxime.
.
.
.
30 Menit Kemudian
Raina turun dengan wajah lusuhnya dan pakaian seadanya untuk pergi bersama Maxime. Kenan merasa prihatin melihat adiknya yang sudah seperti gembel baru.
"Ni anak make apaan sih! Hp udah bawa?" tanya Kenan.
"Oh iya lupa..."
Raina berjalan ke kamarnya dengan malas untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan dikamar. Lalu ia turun lagi.
"Dompet?"
"Iya lupa..."
Raina kembali ke kamarnya untuk mengambil dompet yang masih ketinggalan. Kenan kembali mengingatkan Raina.
"Udah sisiran apa belum sih lo? Kek gembel gitu!"
"Oh iya, kayaknya belum deh..."
Kenan menepuk jidatnya, ia tak mengira Raina menjadi sekacau ini. Ia benar-benar melupakan semuanya, Kenan menarik Raina menuju kamarnya dan menyisirnya dengan lembut, menyemprotkan parfum sebanyak mungkin.
"Kacau boleh, jangan malu-maluin gue Na... Kasihanilah gue yang selalu estetik ini!" gurau Kenan.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏