My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Lebih Baik Ke Psikolog



Surya tersenyum girang mendengarnya, "Iya... Jangan khawatir..."


Raina membalas pelukan Surya, dan perlahan-lahan Raina terlelap dalam tidurnya di pelukan Surya.


.


.


.


Pagi Hari


Surya, Raina dan Kenan sarapan bersama dengan masakan khas Chef dadakan Kenan. Karena Kenan yang mager, ia hanya membuat nasi goreng untuk sarapan pagi.


"Bang... Ini luka gimana?" tanya Raina sambil menunjuk pipinya.


Kenan mengangkat pandangannya, "Di obatin lah biar sembuh..."


"Iya tau! Tapi di obatin di mana? Gimana? Peka dikit lah, pantes aja nggak punya pacar!" ledek Raina.


Kenan menaruh sendok ditangannya, "Ya di kompres atau di apain lah... Masa mau daftar ke dokter ahli bedah ortopedi?"


"Kali aja lo mau bayarin..."


"Nggak usah ngarep! Kaga ada duit gue! Duit buat beli bahan restoran lagi..."


"Ck ck ck... Ganteng, gak baik, eh maksudnya baik, punya usaha sendiri, mahasiswa, pinter, tapi jomblo... Unduh Tan-Tan gih, kayak Faris, siapa tau dapet jodoh..."


"Boleh-boleh! Siapa tau dapet pacar yang bodynya uhuy..." kata Kenan sambil meliuk-liukkan tangannya.


Raina langsung menatap Kenan tajam, "Cari pacar apa pelampiasan nafsu!?"


"Canda Na... Canda... Selera humor lo jelek banget sih!"


"Cari pacar sana cari! Gemes gue, pengen gue robek jantungnya!"


"Cewek sekarang mah gengsinya gede... Maunya sama cowok good looking plus tajir, apalah dayaku sebagai hamba yang selalu bokek tiap saat..."


"Rumah ada, restoran ada, mobil juga ada, muka juga lumayan. Lo mau nyari pacar apa jadi hot daddy?"


Kenan berpikir sejenak sebelum menjawab, "Ide lo bagus juga! Bayangin aja, cewek seksi pake baju haram trus manggil gue daddy..."


Raina melotot mendengarnya, "Macem-macem... Gue nanti beli pisau murah, trus tusuk berkali-kali biar sakitnya banyak sebelum mati, abis itu gue mutilasi, trus darahnya gue peres pake mandi, trus tulangnya kasih anjing, dagingnya gue bakar buat makan ikan..."


"Ya... Tenangin istri lo! Dia psikopat!" panik Kenan.


Surya menepuk-nepuk pundak Raina, "Sabar jangan emosi... Orang marah itu bisa menyebabkan tekanan darah naik, kalo udah darah tinggi bisa jantungan, kalo udah jantungan bisa meningkatkan resiko kematian yang tinggi. Kalo kamu meninggal nanti aku jadi duda jenius, trus abis itu aku kuliah ke luar negeri, trus aku belajar sama Einstein, trus jadi penemu rumus Fisika terbaru!"


"Jangan bahas IPA! Kita lagi liburan..." kesal Raina.


"Ya kan ilmu itu juga di terapkan, bukan cuma di pelajari. Kita harus banyak belajar, karena cepat atau lambat pemerintah bakal berkembang, dan negara lebih membutuhkan orang pintar. Sedangkan generasi muda Indonesia pada b*go-b*go, akhirnya negara memilih untuk merekrut orang-orang dari negara asing, akibatnya para generasi bangsa akan tersingkirkan dan menjadi pembantu di negara sendiri!"


"Setelah generasi menjadi pembantu di negaranya sendiri, lambat laun negara ini di kuasai oleh negara asing, dengan kata lain negara ini kembali di jajah. SDA dan SDM akan di exploitasi secara berlebihan, diterapkannya culturstelsel atau tanam paksa dan kerja rodi seperti pada jaman penjajahan Belanda. Sehingga Indonesia perlu mengadakan perang kembali agar tidak di jajah..." tambah Raina yang semakin lama semakin panik.


"Nggak perlu nunggu nanti kalo masalah penjajahan! Sadar atau enggak saat ini itu kita sedang di jajah, tapi di jajah oleh negara sendiri. Lihat saja keluar, banyak pengangguran di Indonesia, sedangkan Indonesia juga mendatangkan tenaga kerja asing. SDA asli Indonesia masih di ambil oleh negara lain, budaya asli Indonesia yang perlahan hilang karena globalisasi, hilangnya nilai kebersamaan dan keadilan, melakukan hal-hal yang salah dan mengatasnamakan Open minded... Bukankah itu sudah sama saja di jajah?"


Raina mengangguk-angguk paham, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa kalian sendiri. Insinyur Soekarno.... Sekarang gue paham arti kata-kata dari presiden pertama kita..."


Kenan hanya geleng-geleng kepala, "Kenapa mereka tidak ikut ke acara Mata Bintitan, eh maksudnya Mata Najwa saja. Pasti langsung viral, anak SMU yang berani beropini pedas terhadap penjajahan yang di lakukan bangsa sendiri!"


Surya membela opininya dan opini Raina, "Tapi pendapat gue bener kak! Miris lihat generasi sekarang, gue dulu SD baca buku terus, sesekali main ya main sama temen ataupun main Tamiya lah... Sekarang? Anak TK aja udah main Mobile Legend, gue SMP sibuk baca buku biar nilai naik, sekarang anak SMP udah berani cium-ciuman sama pacarnya dengan alasan Open Minded."


"Benar sih kalo kita harus Open Minded di jaman yang sekarang ini, tapi kan nggak semua harus di tiru! Itu manusia yang Open Minded apa mesin Fotocopy?" tambah Raina.


Raina duduk termenung namun mulutnya masih bersuara, "Gue cuma takut aja kalo suatu saat bangsa ini di pimpin oleh orang yang salah. Lo inget nggak bang? Lo masuk BK dan cerita ke gue?"


"Iya napa?"


"Gue miris dengerinnya... Di jaman lo, guru BK kalo dengerin anak muridnya ada masalah itu di bantu, di kasih solusi, di beri jalan keluar. Sedangkan sekarang? SMP gue masuk BK, lo tau apa yang guru BK lakuin? Dia nyalahin gue, dia bilang semuanya gara-gara gue aja yang over. Sejak saat itu gue sadar, kalo BK bukan siapa-siapa! Guru BK nggak penting buat gue! Dia bukan psikolog ataupun mama, jadi dia nggak bakal perduli sama gue ataupun Mental Health gue... Cuma sekali gue berbuat salah, dan gue di cap jelek terus hanya karena gue cewek? Maksudnya loh...."


Surya terkejut mendengar curhatan Raina, "Ya tapi kan nggak semua guru BK kayak gitu Na... Mungkin aja dia ada masalah juga, makanya omongannya juga nggak enak di dengerin..."


"Ya kalo ada masalah, i don't care, itu masalah mereka. Masalahnya, kenapa gue yang jadi pelampiasan? Satu orang bisa merusak pandangan gue terhadap semuanya loh, gara-gara dia, gue nganggep semua guru BK itu sama aja! Seharusnya gue paham, lebih baik gue curhat ke psikolog, bayar mahal nggak papa, its okay... Tapi pasti ada hasilnya, daripada ke guru BK? Udah cerita panjang lebar, bukannya di kasih solusi malah ngerusak Mental Health gue!"


Kenan terkejut Raina bercerita tentang ini, ia baru mendengarnya pertama kali, "Kok lo nggak bilang sih! Siapa? Guru yang mana? Bilang sama gue! Seenaknya aja ngerusak Mental Health orang, mau gue rusak nyawanya ya tu orang!"


"Udahlah bang biarin... Biar yang di atas aja yang bales, biarin semua yang dia ucapin ke gue, balik entah ke dia atau ke anaknya. Yang gue nggak paham, apa serendah itu toleransi tentang kesetaraan gender di negara kita? Cowok buat kesalahan 7 kali dalam 1 minggu katanya wajar, dan gue cewek, 1 kali buat salah tapi di cap cewek nakal, cewek m*rahan... Karena kata-kata itu, yang bikin gue semakin semangat buat jadi bandel. Karena terlalu di cap sebagai cewek bandel..."


Surya merangkul pundak Raina dari samping, ia tau Raina sakit hati atas tuduhan yang tak beralasan yang dilontarkan oleh guru BK itu. Surya memeluk Raina dengan penuh kasih sayang.


"Udah jangan sedih lagi... Abis ini ke rumah sakit ya, periksa luka-lukanya!" ucap Surya lembut.


Raina hanya mengangguk, Kenan yang melihatnya merasa tenang. Ia merasa tidak salah kalau memasrahkan adiknya ke pria bertanggung jawab seperti Surya.


***


Di Rumah Sakit


Surya menuntun Raina menuju sebuah ruangan putih yang terkesan menenangkan, seorang dokter cantik dengan kacamata di wajahnya sedang duduk sambil tersenyum menatap Raina.


"Selamat siang Dok... Ini Nana, dia yang mau konsultasi..." ucap Surya.


"Oh gitu... Iya langsung duduk aja di sofa, atau tiduran atau terserah. Yang penting posisinya senyaman-nyamannya."


"Ok..."


Surya menuntun Raina agar duduk, Raina pun terkejut karena Surya ingin keluar meninggalkannya dengan dokter cantik ini.


"Ay mau kemana? Kok gue sendiri yang di sini? Lo gimana?" tanya Raina dengan lirih.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Mohon di maafkan untuk bapak ibu guru atau siapapun yang tersinggung saat membaca part ini ya🙏 Tapi jujur, ungkapan hati Raina juga saya pernah rasakan. Saya juga tau bagaimana sakit hatinya di cap anak nakal oleh guru BK sendiri.


Saya tau tidak semua guru BK seperti itu, hanya saja kenangan buruk itu masih membekas di hati saya bu... Jika ibu adalah guru BK saya dulu, saya mau berpesan...


"Bu... Yang salah bukan saya, tapi orang yang melaporkan saya! Tapi kenapa malah saya yang salah, padahal saya tidak tau apa-apa. Tiba-tiba di bawa ke BK lalu di tuduh begitu saja... Alhamdulillah saya sekarang bisa bantu orang tua bu, saya punya banyak prestasi. banyak medali, banyak piala dan puluhan sertifikat. Saya bukan gadis yang suka caper ke cowok ataupun cewek yang suka buat masalah, seperti yang ibu bilang dulu. Maaf kalau saya sombong, tapi saya tidak akan minta maaf karena saya tau saya tidak salah... Baiknya, karena kata-kata ibu saya jadi semakin semangat untuk jadi anak bandel yang banyak prestasinya 😏 Pesan saya... Tidak semua anak bandel itu akan jadi sampah di kemudian hari bu. Sekian terima kasih 🙏"


-Setiap bunga punya waktunya masing-masing untuk mekar. Dan yang memiliki proses lama, sekalinya mekar akan membuat banyak orang terpesona-


\-***Dinda Agaa***\-


Stop!!! Dont judge me!!! Be smart reader!!!😇


Tulis pengalaman sekolah kalian yang masih kalian inget sampai sekarang ya😇 Sharing pengalaman kita...❤️


Raina Ashalina



Surya Pradipta