
"Ibu ini kelihatannya pintar, tapi otak udang ya? Kalau cuma adik saya yang di hukum tapi anak ibu tidak, itu namanya ketidak merataan hukum! Kalau suami ibu itu jaksa, harusnya ibu mengerti masalah ini! Negara kita itu negara demokrasi bu, bukan negara komunis! Jadi harusnya ibu yang lebih dewasa dari saya, harusnya lebih tau!" bantah Kenan dengan tegas
Ibu Amel menjawab, "Kamu itu masih muda, mana tau urusan pemerintahan. Jangan sok mengajari saya ya!"
"Justru kalau ibu lebih tua dari saya, harusnya ibu lebih tegas dan bijak dalam menghadapi masalah seperti ini. Bukannya memanfaatkan kekuasaan untuk merubah kebenaran!" bantah Kenan dengan tegas
"Kamu berani sama saya?"
"Kenapa enggak bu? Kita semua sama di mata hukum! Kita sama-sama rakyat!"
"Kamu...."
Bu Arum menengahi suasana yang semakin panas, "Mas... Ibu... Sudah ya, kita selesaikan semuanya baik-baik. Pakai cara kekeluargaan."
"Nggak bisa bu! Kami bukan keluarganya, dia orang lain untuk saya!" Kenan menjawab dengan tegas
"Heh... Kamu jangan seenaknya ngomong ya! Kamu pikir saya mau punya keluarga memalukan kayak kalian?" tanya ibu Amel merendahkan
"Kami memalukan? Karena kami masih tau malu bu, tidak seperti anda yang tidak tau malu! Ni orang urat *********** putus ya?" kesal Kenan
Kenan tak segan-segan lagi memakai bahasa informal karena sikap ibu Amel yang semakin melonjak dan tidak sopan. Sementara Raina diam-diam memakai Earphone-nya dan malah mendengarkan musik diam-diam.
Ting...
***
Ayyyyya
Eh lo di mana?
Raina
Ruang BK, knp?
Ayyyyya
Panggilan wali?
Raina
Iya, napa?
Ayyyya
Tunggu gue!
Raina
Eh mo ngapain?
***
Raina bingung karena entah dari mana Surya selalu saja mendapatkan informasi tentang dirinya. Tak sampai 15 menit, tiba-tiba bunda Surya masuk ke ruang BK.
"Selamat siang..." sapa Bunda
"Loh, ibu... Silahkan masuk, ada apa ya ibu datang kemari?" tanya Bu Arum sopan
"Saya dengar, anak saya kena masalah? Jadi saya ke sini lah," jawab Bunda dengan nada sedikit sinis
Bu Arum bingung dibuatnya, "Anak? Siapa bu? Amel apa Raina?"
"Ya Raina pastinya... Masa Amel? Aduh... Amit-amit deh," ucap Bunda dengan nada menyindir
Ibu Amel menengok ke belakang, tatapannya tidak suka terhadap Bunda. Raina dan Kenan masih bengong karena tiba-tiba bunda datang ke sekolah. Bunda langsung masuk dan ikut duduk di samping Raina.
"Jadi Raina kenapa? Di apain aja sama Amel? Ada yang luka nggak? Bilang sini sama bunda!" ucap Bunda halus sambil melihat keadaan Raina
"Raina nggak papa kok Bunda..." jawab Raina
Bunda menghadap ke arah ibu Amel, menatapnya dengan tegas dan membuat nyali Amel menciut karena nyonya pemilik sekolah kini sedang terlibat.
"Amel kan?"
"Iya tante..."
"Nggak usah panggil tante, kita bukan keluarga. Yang namanya Keluarga itu nggak akan saling menyakiti satu sama lain, terus ini apa? Kamu itu anak gadis, kaya, cantik dan dari keluarga terhormat, tapi kelakuan kamu kayak anak yang nggak pernah sekolah. Tau nggak?" tanya Bunda dengan penuh ketegasan
"Ibu... Tolong ya jangan menyalahkan Amel saja, Raina juga salah. Lihat kondisi anak saya! Ini semua karena tingkah bocah pecicilan ini!" kesal Ibu Amel sambil menunjuk ke arah Raina
Raina merasa bangga dan tidak sendiri, saat ada masalah seperti ini, ada Kenan yang melindunginya seperti mendiang papanya. Juga ada bunda yang tegas seperti mendiang mamanya.
Ibu Amel mempertegas, "Pokoknya saya nggak mau tau! Kasus ini harus di proses!"
"Kenapa sih bu? Karena takut ketahuan kalo anaknya cewek m*rahan? Atau karena takut kalau didikan ibu itu gagal?" tanya Bunda memancing emosi ibu Amel
Ibu Amel reflek langsung berdiri dan terkejut, "Bu! Jaga mulutnya ya, saya nggak bakal diam kalo ibu masih ngomong nggak sopan kayak gini!" bentak Ibu Amel
Bunda masih terlihat santai, "Kenapa marah? Saya cuma mempraktekkan bagaimana anak ibu menghina anak saya. Kalau ibu yang sudah dewasa saja bisa semarah ini, lalu bagaimana yang remaja bu? Jadi tolong bu, dengarkan dari kedua belah pihak. Jangan cuma satu, karena kalau tau dari satu pihak saja, ibu nggak bakalan bisa melihat apa itu kebenaran!" tegas Bunda
Ibu Amel terdiam tidak bisa berkata-kata, mulutnya membisu sesaat setelah mendengar ucapan pedas dari Bunda. Kenan dan Raina hanya ber-tos ria merayakan kekalahan Amel. Sedangkan Amel melototi Raina tidak suka.
Raina berbisik pada Kenan, "Itu melotot mulu nggak takut matanya menggelinding ya?"
"Biasa... Kan anak jaksa, jadi kalo matanya lepas nanti di tempelin lagi pake materai atau lem kertas."
"Hahahaha...."
"Ya gitu tuh... Kalo lahir bukannya di adzanin tapi di dengerin musik dangdut. Bukannya minum air ASI, tapi minumnya air ketuban..."
"Hahahaha...."
Amel dan ibunya keluar dari ruangan tidak terima, Kenan dan Raina malah tertawa melihat tingkah Amel dan ibunya yang seperti mati langkah.
"Kamu nggak papa kan Na?" tanya Bunda
"Nana nggak papa kok, bunda..."
"Raina... Lain kali lebih baik kalau ada apa-apa itu di selesaikan baik-baik ya, jangan pake emosi biar nggak tambah runyam..." Bunda memberi nasihat pada Raina
"Iya bunda...."
"Untung tadi Surya segera telfon Bunda, kalo bunda nggak segera ke sini... Itu ibu-ibu ngomel sampe besok nggak berhenti."
"Hahahaha.... Bunda bisa aja..."
"Ya udah... Bunda balik dulu, soalnya masih ada banyak pekerjaan. Baik-baik ya di sekolah."
"Iya bunda..."
"Kenan, adiknya di jaga... Bukannya di ajari berkelahi."
"Eh? Iya bunda."
Kok tau semuanya sih? Wah... Gue curiga bunda sewa agen CIA buat mata-matain gua ma Raina nih... - Batin Kenan
Bunda pamit lebih dulu karena ada urusan mendesak di perusahaan Pradipta. Sedangkan Raina masih berdecak kagum pada Bunda.
"Wah... Cewek kalo berpendidikan itu ngomongnya juga beda ya, berbobot semua..." ujar Raina asal nyeplos
"Makanya belajar... Bukannya main Mobile Legend terus..." cibir Kenan
"Idih... Situ emang belajar?"
"Ya pasti lah..."
"Nggak?"
"Nah tu tau..."
"Bu... Kami pamit dulu bu."
"Iya Raina... Lain kali jangan bikin masalah lagi ya, kamu itu cantik dan pintar kalo nggak bandel sebenarnya..." ujar Bu Arum
"Kata 'Sebenarnya' itu loh bu yang menghalangi...." gurau Kenan
"Iya deh bu... Saya balik dulu bu, daahh..."
Raina dan Kenan keluar tanpa beban. Sementara Surya sejak tadi sedang berdiri risau di luar pintu ruang BK. Kerjaannya cuma mondar-mandir menunggu Raina.
Cklek...
Baru saja keluar dari pintu, Surya langsung menghampiri Raina secepat kilat.
"Na... Lo nggak papa? Ada masalah lain nggak? Ada yang sakit? Atau luka lagi? Lo nggak di apa-apain kan sama Amel? Trus kelanjutan masalahnya gimana? Lo beneran nggak papa kan?" tanya Surya beruntun
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏