
Raina tertawa mendengar lelucon Kenan yang terdengar receh namun menghiburnya. Kenan paham kalau Raina itu mudah down, tapi juga mudah tertawa lagi saat dihibur.
"Nuju warteg apa alam baka neng?" tanya Kenan sambil bergurau. Raina mencubit Kenan karena kesal, Kenan pun mengaduh, "Aduh... Galak bener! Gue lempar lo ke lubang kuburan lama-lama!"
"Jangan...."
"Ya udah yuk makan!"
***
Di Food Court
Kenan pergi ke mall dan makan di food court, ia memesan begitu banyak makanan. Bahkan Raina sampai bingung mulai makan dari mana.
"Bang yang bener aja! Gue nggak habis kerja kuli, gue cuma habis nangis. Kenapa makannya segini banyak? Gue juga gak mood makan!" keluh Raina dengan wajah yang tampak tidak mood.
"Ini buat balikin mood booster lo! Udah buruan makan, gue pesenin banyak makanan kesukaan lo nih!"
Raina menghela nafas, "Hah... Kenapa nggak makan di resto aja enak! Kan sama aja, di resto gue malah bisa request makanan sendiri!"
Kenan baru ingat, "Oh iya ya! Hehe gapapa deh, sesekali makan di luar! Nih ada steak ayam, nasi goreng, kentang goreng, jamur crispy, brokoli crispy, tteokpokki, burger, es buah juga ada, jus alpukat, jus buah naga, atau mau es krim? Gue pesenin juga!"
"Udah lah! Ini aja belum di makan, malah mau nambah! Jangan berlebihan!"
"Biar lo kenyang dan nggak kelaparan Na!"
"Ya kali bang, gue makan segini banyak! Udah yuk makan bareng!"
"Oghey!"
Raina menahan tawanya mendengar Kenan mengatakan kata 'Oghey' dengan nada seperti orang yang tidak niat.
Mereka berdua makan bersama dan memaksakan diri untuk menghabiskan semuanya karena Kenan yang memesan makanan terlalu banyak. Mereka makan sambil sesekali saling menyuapi dan bergurau.
"Bang... Gue udah kenyang banget, beneran deh!" keluh Raina yang sudah berusaha menghabiskan banyak makanan.
"Sama nj*r! Bungkus aja lah bawa pulang, sayang! Soalnya mahal nih gue beli!"
Raina hanya menatap Kenan datar, "Ni orang dari dulu sampe sekarang kaga berubah ya! Suka banget hambur- hamburin duit, abis itu nyesel!" kata Raina.
"Ya abis baunya enak sih, ya gue beli lah! Lagian nggak setiap hari kan makan kayak gini!"
"Iya deh iya..."
Kenan membungkus beberapa makanan yang masih utuh karena mereka sudah terlanjur kekenyangan. "Abis ini kemana? Gue masih kenyang nih..." ujar Kenan.
"Enaknya kemana?"
Kenan sok berpikir, "Nge-gym gimana?"
"Wow, ide buruk! Pasti kita bisa mati estetik di sana!" kata Raina dengan mata melotot.
"Hehe kaga-kaga! Canda sayang, yuk temenin nyari buku di Gramed!" ajak Kenan.
Raina terkejut mendengarnya, "Ya Allah, mimpi apa lo nyari buku bang? Buat apa? Buku apa? Kok bisa?"
Kenan menatap Raina datar, "Lo pikir gue nggak pernah baca buku ya! Gue itu butuh banyak buku buat referensi tugas di kampus!"
"Oh, yaudah yuk!"
Mereka berdua pergi ke Gramedia untuk membeli beberapa buku yang dibutuhkan, Raina berjalan-jalan dan matanya tiba-tiba terpaku dengan salah satu novel dengan cover menarik, membaca sinopsis yang cukup menarik, Raina ingin membelinya.
"Di baca apa kaga gak penting! Yang penting beli. dulu lah, mumpung dibayarin Bang Kenan!" gumam Raina yang masih memegangi salah satu novel itu ditangannya.
Raina pergi menghampiri Kenan karena merasa sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun ia melihat seorang gadis cantik yang menghampiri Kenan.
"Udah? Gue udah nih..." celetuk Raina tanpa basa-basi.
"Ok okey, yuk bayar! Duluan ya Xen..." ucap Kenan.
"Ini siapa Ken?" tanya gadis cantik yang ada didepan Kenan.
Kenan yang hendak pergi pun menghentikan langkahnya, "Oh ini? Ini Raina..."
Raina mengangkat salah satu alisnya, "Gue Raina... Lo siapa? Ngapain ketemuan sama...." Raina melihat gadis itu dari atas sampai bawah.
"Oh..."
"Ya udah gue duluan ya Xen..."
"Iya Ken..."
Kenan menarik Raina untuk pergi, Raina masih bertanya-tanya tentang siapa gadis tadi. Sejak kapan Kenan punya pacar, dan kenapa Kenan bisa dapat pacar cantik?
"Siapa bang? Cewek lo?" tanya Raina penasaran. "Kok bisa punya pacar cantik? Pelet ya?"
"Pala lo botak! Lo inget nggak, dulu gue pernah nembak cewek dan di tolak!?"
"Iya..."
"Dia orangnya, Laxena..."
Raina terkejut, ia memang pernah mendengar kalau Kenan ditolak oleh seorang perempuan, tapi tak mengira kalau perempuan itu secantik Xena.
"Dia yang nolak lo? Berani banget lo nembak dia, nggak sadar diri banget sih lo bang!" gurau Raina.
"Adik laknat kau!"
"Eh beneran dia cantik, tapi gue nggak suka sama dia nggak tau kenapa."
"Kenapa? Kalah cantik ya?"
"Idih, kaga!" jawab Raina dengan wajah juteknya. "Btw kenapa ketemuan lagi? Reunian apa gimana nih?"
"Kaga ya! Gak sengaja ketemu gitu! Udah lah biarin, yok bayar!"
Pandangan Raina tertuju dengan buku yang ada di tangan Kenan, "Kok beli buku ini? Katanya buku buat tugas kuliah?!"
"Oh... Buku buat tugas nanti minjem temen aja deh, mau beli tadi mahal banget!" jawab Kenan tanpa ragu-ragu.
"Kalo mahal, kenapa malah beli komik segini banyak?!" kesal Raina.
Kenan menghitung komik yang ada ditangannya, "Apa-apaan sih! Ini cuma 7! Dikit kali!" kesal Kenan.
"Ya udah bang serah lo aja! Kalo mau beli komik tapi nanti nggak ada duit lagi, lo jual ginjal aja deh! Gue dukung!" Raina menuturi Kenan.
Kenan menatap Raina datar dan mencubit pipi serta hidung Raina gemas. Raina menatap Kenan tajam, Xena yang melihatnya merasa sedikit kesal.
"Huh... Bertahun-tahun nggak ketemu, dia masih sama aja! Pasti dia bahagia sama pacarnya sekarang, dulu gue juga salah... Nolak dia dan lebih fokus sama ambisi gue sendiri, semoga aja dia bahagia sama pacarnya..." gumam Xena yang melihat Raina dan Kenan bergurau.
***
Raina yang sedang berjalan, melihat-lihat beberapa bola basket yang tampak terjajar rapi di rak. Kenan pun menyapanya, "Pengen beli? Ambil aja!" ujar Kenan.
"Kaga bisa main nya! Gue kan rebahaners, mana bisa main ginian!"
"Gue ajarin deh, ambil 1!"
"Ok..."
Tanpa pikir panjang Raina langsung membeli bola itu, padahal ia tau kalau dirinya itu tidak bisa main bola apalagi basket.
***
Di Rumah
Kenan membawa Raina pulang kerumahnya sementara agar Raina lebih tenang, namun saat memarkir mobilnya, Surya sudah duduk menunggu didepan rumahnya.
Raina yang semula senang tiba-tiba raut wajahnya berubah. Kenan khawatir kalau Raina akan marah lagi, "Lo nggak kenapa-napa kan?" tanya Kenan.
"Nggak papa, yuk masuk ke dalam!"
Raina keluar dari mobil dan berjalan untuk masuk kedalamnya rumah tanpa memperhatikan Surya sama sekali. Ia benar-benar mengacuhkan Surya sepenuhnya.
Surya menarik tangan Raina agar berhenti, "Na tunggu dulu! Gue pengen ngomong!" pinta Surya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏