
Raina kebingungan melihat wajah Surya yang perlahan semakin cemas dan pucat.
"Lo kenapa Ay? Lo nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Raina khawatir
"Ayo pergi sekarang!"
"Kemana?"
"Udah ikut aja!"
Surya langsung pergi menuju parkiran mobil dengan sedikit berlari, Raina pun ikut berlari agar tidak ketinggalan langkah Surya.
***
Di Mobil
"Kita mau kemana sih Ay?" tanya Raina
"Na... Plis lo diem bentar aja! Gue biar bisa konsen nyetir," pinta Surya
"Ish... Di tanyain kok," kesal Raina
***
Di Rumah Sakit
Raina keheranan dengan tingkah Surya, apalagi sekarang ia di bawa ke rumah sakit. Kepala Raina penuh dengan segudang pertanyaan.
"Ay... Ini kenapa sih? Ngapain kita ke sini? Siapa yang sakit sih!" kesal Raina
Surya diam tak menjawab, ia hanya terus berjalan. Mempercepat langkahnya hingga mereka sampai di Paviliun Merpati. Ruang perawatan elite di rumah sakit kota. Surya menghela nafas panjang sebelum membuka pintu.
Karena tadi ia di telfon oleh ayahnya, ia di beri tau kalau mama Raina sedang drop dan meminta Surya untuk membawa Raina ke rumah sakit.
"Ay... Ini kenapa sih! Jelasin dong! Jangan diem aja, gue nggak paham. Lo bisu ya!" kesal Raina
"Plis... Dengerin gue, jangan ngebantah dan jangan banyak tanya. Cukup lihat aja kondisinya ok!" pinta Surya
"Iya-iya, sok misterius banget sih lo!" kesal Raina
"Janji!"
"Iya,"
"Mama lo sakit, dan sekarang dia lagi di rawat di dalam. Ada Bang Kenan juga di dalam, jadi tolong lo jangan bertingkah aneh-aneh!" pinta Surya
"APA!?"
"Lo tunggu bentar di sini, biar gue dulu yang masuk!"
Cklek....
Dengan penuh keberanian, Surya membuka pintu. Bundanya sudah menangis di atas sofa, ayahnya diam bersandar di dinding, dan Kenan... Ia duduk diam di samping ranjang mamanya sambil menutupi seluruh wajahnya dengan telapak tangannya.
"Yah... Gimana kondisi mama? Gimana yah?" tanya Surya
"Kamu tenangin Raina ya boy..."
"Yah... Jangan bercanda yah! Mama kenapa?" tanya Surya serius
"Mama Raina... Udah nggak ada,"
"Yah... Ayah jangan bercanda yah! Surya serius yah!" ucap Surya tak percaya
Kaki Surya melemas, ia langsung berbalik untuk menemui Raina di luar. Terlambat, Raina sudah lebih dulu masuk ruangan dan mendengar semuanya.
"Raina..."
"Raina..." kaget Kenan dengan mata yang merah
"Bang... Mama mana bang?" tanya Raina dengan wajah datar
"Na..."
Kenan tidak sanggup menjawab pertanyaan adik kesayangannya itu. Surya berjalan mendekati Raina.
"Ay... Mama gue mana Ay?" tanya Raina
"Raina..."
Raina berjalan mendekati ranjang mamanya, ia memegang tangan mamanya yang sangat dingin. Wajah pucat, tubuh dingin dan terbujur kaku tidak bernyawa. Hal itu membuat Raina terdiam.
"Ma... Mama bangun ma..." panggil Raina lembut
Surya terkejut mendengar suara Raina yang begitu lembut di telinganya, hampir 11 tahun mereka berteman, baru kali ini ia mendengar Raina bersuara lembut.
"Ma... Mama bangun ma, katanya mama mau beliin Raina burger? Ayo beli sekarang, ayo beli ma," ajak Raina lembut sambil menggenggam tangan Mamanya
"Dek..." panggil Kenan
"Mama.... Ayo bangun ma," panggil Raina dengan suaranya yang paling lembut
"Raina...."
Surya berjalan mendekati Raina, ia sedikit memutar tubuh Raina. Matanya memerah dan berkaca-kaca, wajahnya datar pucat, pandangannya kosong. Surya memeluk istrinya yang saat ini sedang rapuh.
"Mama..." panggil Raina lembut
Tak ada setetes air mata pun yang keluar dari mata Raina, ia hanya diam dan tidak berekspresi.
"Yang kuat Na..." ucap Surya
Surya mendekap erat Raina, namun Raina semakin melemas, Surya keheranan. Ia sedikit melonggarkan dekapannya, namun Raina ternyata sudah jatuh pingsan.
"Raina..."
Semua panik, mereka langsung membaringkan Raina dan mengusapkan minyak kayu putih agar Raina segera sadar.
Na... Sadar Na... Maaf, gue terlambat nyelametin mama lo. Salahin gue Na... Salahin gue! - Batin Surya
***
Di Rumah Keluarga Raina
Raina masih terbaring tidak sadarkan diri, ia mulai membuka matanya. Ia terkejut sudah terbaring di kamarnya, ada Diva dan Naya di sampingnya.
"Div... Nay... Mama mana? Mama gue mana?" tanya Raina panik
"Na... Yang kuat ya, mama lo udah nggak ada," ucap Diva
"Mama gue dimana Div!" bentak Raina
"....."
Naya maupun Diva, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Raina. Raina kehilangan kesabarannya, ia langsung berlari turun ke bawah. Sudah terdapat banyak orang yang sedang membaca Yasin. Mayat mamanya sudah terbujur kaku di tengah-tengah kerumunan orang mengaji.
"Mama...." gumam Raina
Surya melihat Raina yang berdiri mematung di sisi lain, Surya berhenti membaca Yasin dan pergi menghampiri Raina.
"Na... Ayo ikut aku aja," ajak Surya
Surya merangkul pundak Raina, membawanya kembali ke kamarnya. Mendudukkannya di kasur kamarnya.
"Kalian berdua keluar dulu..." pinta Surya
"Iya Ya,"
"Na... Dengerin aku ya, kamu harus kuat. Tuhan nggak akan menguji hambanya diluar kemampuannya," jelas Surya
Raina hanya diam mematung, tak ada suara, gerakan apalagi air mata. Hanya diam seperti boneka hidup. Surya memeluknya.
"Na... Jangan kayak gini, aku nggak suka kamu yang kayak gini. Kamu harus kuat, kamu ganti baju dan kita pergi makamin mama kamu ya! Kamu harus kuat, temui dia buat yang terakhir kalinya. Buat kepergiannya sebagai kepergian yang berkesan," pinta Surya
Raina hanya mengangguk halus, Surya menunggunya di luar kamar. Setelah Raina selesai berganti pakaian serba hitamnya, mereka keluar bersama.
"Dek.... Ada apa-apa jangan di pendam ya dek," ucap Kenan pada Raina
Raina hanya mengangguk halus, mereka mulai mengiringi keranda mayat mama Raina menuju pemakaman setempat.
***
Pemakaman
Raina hanya diam, memperhatikan semuanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Semua teman-temannya juga datang. Selesai berdoa, semua orang pergi. Tinggal Raina, Kenan, Surya, juga Arkan dan lainnya.
"Boy... Ayah bunda ke sana dulu, kamu temenin Raina ya," ujar Ayah Surya
"Iya yah,"
Kenan diam, ia berjongkok memegangi nisan mamanya. Mamanya dimakamkan di samping makam papanya.
"Mama... Kenapa pergi secepat ini? Gimana Kenan nantinya? Gimana Raina ma?" gumam Kenan
"Kak Kenan... Kak Kenan yang sabar ya, kamu juga yang kuat ya Na..." ujar Diva
"Iya makasih Div," jawab Raina
Semuanya pergi karena hari semakin gelap, tinggal Kenan, Raina dan Surya yang masih ada di pemakaman.
"Na... Ayo pulang, hari udah makin gelap," ajak Kenan
"Abang balik aja dulu, Nana mau di sini dulu," jawab Raina tanpa ragu
"Tapi dek..."
"Nggak papa! Ay... Lo tunggu aja di mobil, nanti gue balik sendiri ke mobil," pinta Raina
"Tapi Na..." ucap Surya terpotong
"Udah Ya... Yuk tunggu aja di sana," ajak Kenan
Surya menurut, mereka berdua pergi meninggalkan Raina sendirian di makam kedua orang tuanya.
"Ya... Gue tau gue bukan abang yang baik, buat lo maupun Raina. Tapi satu hal yang pasti gue tau, saat Raina minta waktu sendirian, jangan pernah lo bantah. Cukup kasih aja ruang buat dia," peringat Kenan
"Iya bang,"
Hati Surya penuh kekhawatiran akan keadaan Raina. Surya masih tidak terduga, untuk kedua kalinya Raina sama sekali tidak menangis. Saat papanya meninggal, tak ada setetes air mata pun yang keluar. Dan kini terulang lagi.
Surya benar-benar khawatir pada mental Raina, Raina bukan tipikal gadis yang bisa menceritakan semuanya atau menangis dengan mudahnya.
Na... Aku berharap kalau kamu kuat melewati semua ini! - Batin Surya
***
Di Makam Mama Papa Raina
Raina masih berdiri memandangi kedua makam orang tuanya, kemudian ia berjongkok memegangi nisan mamanya.
"Mama..." panggil Raina
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏