
Surya senyam-senyum melihat layar ponselnya, "Ni anak udah ngebucin aja... Jadi gemoi parah kan!" gemas Surya saat melihat foto Raina.
.
.
.
Diva merasa aneh melihat Raina yang senyam-senyum memandangi ponselnya, "Ngapain sih lo? Kesambet ya?"
Raina yang tersadar pun tersentak, "Nggak papa kok, eh liat foto gue! Gemoi kan?" tanya Raina sambil menunjukkan fotonya yag di kirim ke Surya.
Diva menatap Raina aneh, "Ini foto lo kan?" tanya Diva tak percaya.
"Iya kenapa?"
Diva menutupi mulutnya dengan telapak tangan karena terkejut, "Sejak kapan lo jadi bucin? Oh my God!"
"Apa sih? Bagus tau... Jadi imut gitu!"
"Serah lo aja deh... Orang kalo udah bucin kan buta tuli. Minta saran tapi nggak mau di dengerin." balas Diva santai.
"Ish, dah lah... Yuk balik sama yang lain!"
Diva dan Raina pun pergi untuk kembali bergabung dengan yang lain. Namun tiba-tiba Diva berjalan sedikit lambat, Raina yang menyadarinya pun langsung menengok.
"Napa lo? Beban hidup lo berat ya? Jual aja gih..." kata Raina sambil bergurau.
Diva berdecak, "Ck, apaan sih! Eh lo kasih nomer gue ke Bang Kenan ya?" tanya Diva serius.
"Serius bener, santai aja kali! Tapi seingat gue sih ya, gue nggak pernah tuh kasih nomer lo ke dia. Buat apa? Dia aja nggak tanya kok," jawab Raina santai. "Emang kenapa? Dia chat lo?"
Diva mengangguk, "Awalnya kita tuh chatan selalu lewat DM Instagram. Dan kita nyaman-nyaman aja chat lewat DM, tapi beberapa hari yang lalu tiba-tiba dia chat gue dong."
Raina sedikit bingung, "Kan dia yang chat duluan, kenapa lo nggak tanya dia dapet nomer lo dari mana?"
"Nggak berani..." jawab Diva cengengesan.
Raina langsung menatap Diva datar, "Sejak kapan lo takut manusia? Kalian kan sama-sama jago ngomong, kenapa nggak pernah berantem ya?" tanya Raina yang heran.
Diva tak menyangka kalau Kenan itu pintar berbicara, "Masa Bang Kenan pinter ngomong sih Na?"
"Dia orangnya emang kocak, tapi kalo udah membela kebetulan... Eh maksudnya kebenaran, itu orang ngomong kayak nge-rapp tau nggak? Dan yang gue heranin tuh ya, semua yang dia omongin itu bener, masuk akal pula!" jelas Raina pada Diva.
Diva mengangguk-anggukan kepalanya, "Oh gitu... Hebat ya dia, pantes jadi pengacara, jaksa atau hakim kayaknya."
"Boro-boro mau jadi jaksa, dia aja paling susah kalo di suruh baca buku. Padahal anak jurusan hukum kan tiap hari suruh baca buku mulu. Mana lulus dia kalo kuliah jurusan hukum," gurau Raina.
"Hahahahaha.... Enak nerusin restoran peninggalan orang tua lo lah. Tinggal duduk manis, perintah, tapi tetep dapet jatah."
"Nah tu tau..."
"Btw, Bang Kenan itu masih jomblo ya?" tanya Diva penasaran.
Raina mengangkat salah satu alisnya, "Napa tanya itu? Lo naksir Bang Kenan ya?" goda Raina.
Diva terkejut mendengar kata-kata Raina, "Hah? Enggak... Kata siapa? Cuma tanya doang kok, soalnya kepo."
"Boro-bro dapet pacar, itu anak mau keluar rumah kalo ada perlu doang. Keluar cuma kerjain tugas sama temennya, nongkrong, mabar, sama urus restoran. Dan di rumah nggak unduh Tan-Tan atau Tinder gitu biar dapet cewek, eh malah ngebo atau nggak ngegame dong."
Diva tak percaya mendengarnya, "Masa sih? Padahal Bang Kenan itu termasuk cogan loh, gue kira banyak ceweknya."
"Dia? Banyak cewek? Dih... Ada cewek deketin duluan aja dia Ilfeel, gimana mau punya banyak cewek. Untungnya dia nggak kuliah keperawatan tau nggak!" kata Raina panjang lebar yang tetap didengarkan oleh Diva.
"Kenapa? Bayarnya mahal?"
"Bukan... Bisa-bisa jadi albino dia. Di rumah ndekem mulu nggak mau keluar, malah dapet kerjaan di dalam ruangan? Lihat aja mas-mas perawat di Rumah Sakit, beberapa ada yang putih banget kan orangnya. Insecure gue lihatnya nj*r..." kata Raina.
Diva mengangkat salah satu alisnya, "Emangnya kenapa? Gue malah lebih suka orang yang kulitnya lebih coklat tuh, biasanya orang-orangnya manis banget kelihatannya. Gemesin juga..."
"Nah bener! Beberapa hari yang lalu gue lihat postingan orang Papua, dan ganteng banget dong orangnya. Yang cewek juga cantik banget.... Apalah aku yang cita-cita cantik tapi hobi begadang."
Diva menatap Raina datar, "Udah buang aja itu skincare semeja! Buang-buang duit-duit aja!" kata Diva sambil terus berjalan mengikuti yang lain.
"Hah..." Raina menghela nafas, "Ada bintang jatuh gue minta gue jadi cantik tanpa perlu skincare, gue cantik walau begadang dan nilai bagus tanpa belajar!"
Diva hanya geleng-geleng kepala mendengar harapan sahabatnya ini, "Nunggu bintang jatuh buat bikin permintaan udah biasa, coba yang anti mainstream dong! Nunggu bulan jatuh!"
Diva dan Raina saling memandang lalu berkata bersamaan, "YA KIAMAT LAH!"
Dika yang mendengar kata-kata kiamat pun ikut menengok, "Eh jangan kiamat dulu! Gue masih laper, pesen GoFood masih keburu nggak?"
Arkan ikut mendengarnya, "Kiamat? Eh jangan dulu! Gue belum nikah, belum punya anak belum jadi konglomerat apalagi foya-foya woy!"
Diva dan Raina hanya beristigfar mendengar jawaban teman-temannya yang melantur. Mereka kembali mengikuti kegiatan tour sampai berakhir.
***
Di Kebun Binatang
Anak-anak IPA juga benar-benar serius mengikuti Study Tour ini, terutama anak-anak IPA 1.
Guru memberikan arahan pad anak-anak, "Pilih masing-masing satu hewan dari berbagai hewan yang ada di sini berdasarkan tempat hidupnya untuk di jadikan penelitian!"
Ternya ada anak yang masih belum paham pada penjelasan guru, "Maksudnya ak? Tolong di jelaskan lagi!"
"Kalian pilih 1 hewan yang bisa hidup di air, 1 yang bisa hidup di darat dan 1 yang bisa hidup di 2 alam."
"Baik pak..."
.
.
.
.
Setelah berkeliling, Ara mencoba mengusulkan sebuah ide, karena memang ia sekelompok lagi dengan Surya.
"Enaknya hewan apa Ya? Buat yang di 2 alam?" tanya Ara pada Surya.
"Buaya gimana?" usul salah satu teman.
"Kalo kalian cari buaya nggak usah repot-repot, nih si Andre, buaya sejati!"
Semua yang mendengarnya langsung tertawa termasuk Surya. Teman sebangku Surya pun sedang melihat-lihat macam-macam katak dan mendekati kandang kacanya lalu meniru suara katak.
Ngookkkk.... Ngookkk.....
Surya pun iseng menjahili temannya itu, "Pak, salah satu penghuni kebun binatang ini lepas satu pak!"
Guru pembimbing pun terkejut mendengarnya, "Apa?! Dimana?"
"Ini pak, di sebelah saya...."
"Hahahahahahaha....."
Semua yang mendengar dan melihatnya pun langsung tertawa. Untungnya guru pembimbing tak marah, "Kamu ini ada-ada saja!"
"Kampret lo Ya! Dasar...."
"Hahahaha...."
Ara pun kembali bertanya pada Surya, "Jadi apa nih hewannya? Gimana kalo katak? Kan katak merupakan hewan amfibi yang...." belum sempat melanjutkan kata-katanya, Surya memotong pembicaraan Ara.
"Nggak usah di jelasin! Gue dah tau... Ya udah katak aja deh!" potong Surya langsung to the point.
"Oh ya udah, kalo hewan airnya nanti apa? Ikan?" tanya Ara lagi.
Surya hanya memotret katak dan tidak terlalu memperhatikan Ara, "Ini aja dulu, hewan lain di pikir sambil nanti lihat-lihat kan bisa! Ini juga Study Tour, jadi harus dinikmati juga lah," jawab Surya cuek.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Untuk yang hendak menghujat Ara, saya persilahkan tempatnya 😂
Arabelle