My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Di Keluarkan



***


Di Rumah Makan


"Tadi belum makan kan gara-gara Amel? Ya udah pesen gih," ujar Maxime


Raina diam tak menjawab. Ia hanya bingung dengan sikap Maxime.


"Udah pesen aja... Aku yang bayar kok, pesen sepuas kamu!" ucap Maxime


Raina hanya diam dan sedikit heran dengan sikap Maxime. Ia hanya memesan makanan, memakannya sampai habis. Sementara Maxime hanya memandangi Raina sampai Raina selesai makan.


"Udah makasih... Tolong anterin aku balik buat ambil sepeda!" pinta Raina


"Kenapa buru-buru? Mau ke mana sih?" tanya Maxime


"Pulang!"


Maxime berdiri, "Tunggu bentar! Please jangan pergi dulu, tunggu gue!"


Maxime berlari keluar, Raina hanya diam meringis. Sejak tadi lukanya masih perih dan sakit, apalagi saat di gunakan untuk bergerak.


"Ck... Cewek sialan! Itu kuku manusia apa kuku beruang sih!" Raina menggerutu kesal


Baru sebentar, Maxime sudah kembali dengan plastik kecil di tangannya.


"Siniin tangan kamu!" pinta Maxime


Raina bingung, "Mau ngapain?"


"Udah siniin aja!"


Raina mengulurkan tangannya, Maxime membuka plastik di tangannya. Ia mengeluarkan obat merah, kapas dan antiseptik. Maxime dengan telaten membersihkan luka Raina, sedangkan Raina meringis menahan sakit.


"Shh..." Raina mendesis


"Tahan dulu!" pinta Maxime


"Udah biarin aja! Nanti juga sembuh sendiri," pinta Raina


"Lebih baik di obati kan, daripada nggak sama sekali?" jawab Maxime


Maxime membersihkan luka Raina, memberinya luka, membalutnya dengan beberapa kapas dan plaster.


"Udah... Anterin gue balik," pinta Raina


Dia nggak ada perasaan ke gue kah? Perasaan... Pertama ketemu perhatian banget deh. Jangan-jangan dia beneran pacar Surya? - Batin Maxime menebak-nebak


Maxime mengantarkan Raina kembali ke tempat Raina menitipkan sepedanya karena Raina bersikeras untuk pergi.


***


Di Penitipan Sepeda


"Makasih udah anter... Lo balik aja, gue mau pulang," ucap Raina


"Gak mau gue anter?" tanya Maxime


"Nggak usah... Gue pergi dulu," ucap Raina


Raina pergi mengayuh sepedanya menjauh, Maxime langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.


Maxime


Kayaknya Raina nggak ada rasa sama gue! Kayaknya gosip itu bener!


+62xxxx


Terserah lo mau apa! Pokoknya Surya cuma punya gue!!!


Maxime menghela nafas membaca pesan dari orang yang dekat sekaligus ia percaya, juga alasan ia bersekolah di Global High School.


***


Di Makam


Diam-diam Raina pergi ke makam kedua orang tuanya, uang sakunya ia belikan bunga secukupnya.


Raina berjongkok didekat makam mama papanya, "Mama.... Papa... Raina datang lagi, makasih udah kirim Surya buat jadi pelindung Raina. Walaupun Raina belum sepenuhnya bisa terima dia, tapi pelan-pelan Raina semakin suka sama dia."


Raina menaburkan bunga di atas makam kedua orang tuanya, bukan keberuntungan yang datang, justru tiba-tiba hujan deras datang mengguyur Raina.


"Kenapa karma begitu mengincarku?!" tanya Raina dengan sedikit kesal


Raina berlari untuk mengambil sepedanya, ia pergi ke sebuah tempat untuk berteduh dari hujan.


***


Di Minimarket


Raina berteduh di minimarket, bajunya sedikit basah tapi tidak sepenuhnya. Ia memesan kopi panas untuk menghangatkan tubuhnya.


"Semoga cepat reda... Aku ingin segera pulang dan tidur," gumam Raina


Triinnggg...


Ponselnya bergetar, tertera nama 'Ayyyyya' di ponselnya. Ia langsung mengangkatnya.


"Halo..."


"Halo... Lo dimana? Udah sampe rumah apa belum? Ini hujan loh!"


"Lo dimana? Gue jemput ya!"


"Dih... Mentang-mentang sekolah punya keluarga lo, trus keluar masuk sekolah seenaknya sendiri."


"Ya gue khawatir? Kalo pacarku nanti sakit gimana?"


Deg... Deg... Deg...


Detak jantung Raina ugal-ugalan, tidak terkontrol dan tidak terkendali. Aneh, hanya beberapa patah kata dari Surya mampu membuat Raina benar-benar hilang kendali. Inikah cinta?


"Eh apa-apaan sih? Udah nggak usah, ini udah deket rumah kok!"


"Tapi kalo kenapa-kenapa gimana? Gue jemput ya!"


"Udah-udah, lo sekolah aja yang bener! Dahh..."


Raina langsung mematikan telfonnya, takut kalau terdengar suara Raina yang salah tingkah.


"Ya Allah... Ini anak sukanya bikin jantungan aja deh! Dulu bunda ngidam apa punya ini anak!" ucap Raina sambil memegangi dadanya


Setelah hujan reda, Raina pulang ke rumahnya. Ia beristirahat dan mengobati lagi lukanya yang basah karena air hujan.


***


Besoknya


Raina kembali sekolah seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Namun perasaannya tidak enak, seolah akan terjadi sesuatu hari ini. Saat masih jam pelajaran, ada seseorang yang memanggil Raina.


"Selamat siang pak..."


"Siang... Siapa ya? Ada perlu apa?"


"Saya di utus Bu Arum buat memanggil Raina pak."


"Oh ya sudah, panggil sana!"


"Raina Ashalina... Di tunggu di ruang BP sekarang! Sudah pak, makasih."


"Iya sama-sama!"


Raina beranjak pergi, semua teman-temannya memandangnya khawatir. Tapi Raina memberi tatapan yang seolah berarti kalau semua akan baik-baik saja.


"Saya ijin keluar dulu pak!" ijin Raina tegas


"Iya silahkan..."


Raina berjalan menuju ruang BK dengan tatapan lurus dan badan tegap, ia tidak takut karena merasa kalau ia tidak salah. Dari kemarin, Raina sudah memperkirakan kalau semua ini pasti terjadi.


***


Di Ruang BP


Tok... Tok... Tok....


"Masuk!" sebuah suara mempersilahkan Raina masuk ke dalam.


Raina membuka pintunya, ia melihat Amel yang berdiri dengan wajah lebam bersama wanita paruh baya yang terlihat berkelas.


"Saya Raina bu..." Raina melapor


"Baik Raina... Duduk sini dulu," pinta Bu Arum sambil menepuk-nepuk sofa di ruang BP


Raina duduk berhadap-hadapan dengan Amel. Tak ada pancaran rasa takut sama sekali dari Raina, Raina malah menatap Amel tajam.


"Raina... Bisa minta tolong telfon wali kamu nggak? Suruh mereka ke sini ya," pinta Bu Arum sopan


"Mana bisa bu? Bapak ibunya kan udah mati semua..." ledek Amel


Raina mengepalkan tangannya, ia menahan emosi. Ada ibu Amel, Raina sadar kalau ia berada di posisi yang tidak menguntungkan. Ia menelfon Kenan untuk segera datang.


.


.


.


15 Menit Kemudian


Tak lama, Kenan datang. Ia buru-buru datang, untungnya kemarin Raina sudah bercerita semuanya pada Kenan. Dan Kenan meyakinkan Raina, bahwa ia akan membela Raina apapun yang terjadi.


"Siang ibu... Saya walinya Raina Ashalina!" ucap Kenan


"Baik mas... Silahkan masuk dan duduk di samping Raina," pinta Bu Arum mempersilahkan


"Baik bu..."


Mereka memperbincangkan semuanya secara terperinci, meski tau kenyataan yang sebenarnya bahwa Amel yang memulai perkelahian, ibu Amel tetap bersikeras kalau Raina harus di hukum.


"Bu lihat anak saya yang jadi korban sampai wajahnya seperti ini. Saya nggak mau tau ya, pokoknya dia harus di keluarkan dari sekolah!" pinta ibu Amel dengan nada meninggi


"Loh.... Tidak bisa lah bu, di masalah yang ini bukan cuma Raina yang salah, tapi anak ibu juga salah. Jadi kenapa cuma adik saya yang di hukum? Itu namanya tidak adil!" bantah Kenan


"Saya nggak mau tau! Kalau Raina tidak di keluarkan, saya akan membawa masalah ini ke pengadilan atas kasus kekerasan dan penganiayaan! Ingat bu, suami saya jaksa!" ancam Ibu Amel


"Ibu ini kelihatannya pintar, tapi otak udang ya? Kalau cuma adik saya yang di hukum tapi anak ibu tidak, itu namanya ketidak merataan hukum! Kalau suami ibu itu jaksa, harusnya ibu mengerti masalah ini! Negara kita itu negara demokrasi bu, bukan negara komunis! Jadi harusnya ibu yang lebih dewasa dari saya, harusnya lebih tau!" bantah Kenan dengan tegas


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏