
"Wow, hebat ya! Nggak bisa jatuhin gue dari depan, akhirnya jatuhin gue dari belakang. Dan Maxime, gue nggak nyangka kalo cowok bisa akting sebaik ini. Padahal gue tulus anggep lo temen. Ini gue yang terlalu polos apa kalian yang terlalu munafik ya?" ejek Raina.
Maxime tampak sedikit gugup, "Na tunggu dulu! Ini nggak seperti yang lo pikirin kok, lo salah paham!"
"Cukup!!! Gue lebih percaya apa yang gue lihat daripada apa yang kalian omongin. Bisa-bisanya gue bertahun-tahun hidup dan baru tau kalo bener-bener sulit percaya ke orang lain!" kata Raina yang terdengar miris.
"Na plis dengerin gue dulu! Gue bisa jelasin semuanya!" pinta Maxime sambil memegangi kedua tangan Raina.
Raina menghempaskan tangan Maxime, "Ara... Awalnya gue nggak bakal setega ini, tapi karena lo yang mulai duluan, jangan salahin gue kejam sama lo! Ini semua lo dulu yang mulai!" tegas Raina.
"Apa? Lo mau apa? Emangnya lo bisa apa?" ejek Ara.
"Hahahaha... Orang pintar nggak akan ngasih tau rencananya ke musuh. Gue bakal berusaha sekuat tenaga biar lo bener-bener jatuh dan dibawah. Biar lo juga rasain gimana rasanya down, biar lo nggak bisa sombong lagi!" tegas Raina.
Ara hanya terdiam, Maxime terlihat risau dengan keadaan seperti ini. Ia bingung harus apa sekarang.
"Dan Maxime, gue nggak nyangka lo kayak gini. Gue kira pertemanan kita itu tulus, dan ternyata cuma main-main? Apa pengakuan yang kemarin juga main-main?" tanya Raina.
Maxime langsung menggeleng, "Enggak Na! Nggak gitu, percaya sama gue; Perasaan gue ke lo itu nyata, nggak ada hubungannya sama masalah ini!" jelas Maxime.
"Ah udahlah... Gue lagi males dengerin semua omong kosong ini. Gue pergi dulu."
Raina berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua. Maxime berusaha mengejar Raina, tapi Raina mengusirnya dengan kasar karena terlalu kecewa.
"Gue kira temenan sama cowo itu nggak bakal ada yang namanya pengkhianatan. Ternyata sama aja! Cowok ataupun cewek, sama aja!" ketus Raina..
***
Di Rumah Keluarga Pradipta
Sepulang sekolah, Raina langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur tanpa berganti baju ataupun melakukan hal lain.
Sedangkan Surya masih melepas satu-persatu pakaiannya. "Lo kenapa? Capek?" tanya Surya.
"Lumayan... Hati gue aja yang capek, tiba-tiba dikhianati itu nggak enak ya..."
"Di khianati? Maksudnya?"
Raina duduk bersila diatas kasur, Surya hanya mendengarkan semua cerita Raina dari awal hingga akhir.
Surya terkejut setelah mengetahui cerita Raina tentang Ara. Ia tak menyangka kalau Ara senekat itu.
"Ara gila apa gimana sih? Dan Maxime jadi cowok payah banget sih! Mau aja diperintah orang..." gerutu Surya memaki Ara dan Maxime.
"Ya gimana lagi? Namanya juga orang, pasti punya pemikiran masing-masing."
Surya berpikir dan berusaha mencerna kembali kata-kata Raina, "Tunggu-tunggu!!! Lo bilang dia nyatain perasaan ke lo?"
"Iya..."
"Jadi maksudnya, dia nembak lo?"
"Iya..."
"Kapan? Kom bisa? Dimana? Kok gue nggak tau? Ada orang lain yang tau ini nggak? Dan jawaban lo apa?" tanya Surya beruntun.
"Pelan-pelan! Gue jelas tolak dia lah! Gue kan sayangnya sama lo doang, dan dia nembak waktu kita makan di cafe om-nya itu loh..." jawab Raina.
Brakkk....
Surya menggebrak meja disebelahnya karena terlalu geregetan. "Ya kan! Gue bilang apa? Dari awal gue udah nggak suka aja sama tu anak, apalagi waktu dia ngajak makan kalian."
"Ya udahlah biarin aja... Gue lebih suka bungkam mulut mereka pake kenyataan, bukan bualan doang."
"Ya terus sekarang langkah lo apa? Mau ngapain sekarang?"
"Belajar!"
"Belajar?"
"Hm-hm..." Raina hanya mengangguk.
Surya mengelus kepala Raina lembut, "Mandi dulu... Abis itu makan, baru belajar. Boleh belajar tapi jangan sampe lupa makan, nanti sakit..."
Raina tersenyum malu-malu saat ini, tapi jujur Raina suka dengan Surya yang romantis ini.
"Ok..."
"Kemana?"
"Emm... Nggak kemana-mana, mau keluar bentar kok. Mau nitip sesuatu nggak?" tanya Surya beralasan.
"Emm... Martabak manis ya satu! Coklat keju, nggak pake kacang! Susunya dibanyakin, keju yang banyak juga gapapa kok!" pesan Raina.
Surya melihat ke jam tangan ditangannya, "Mana ada martabak jam segini? Setidaknya buka itu sebelum maghrib, ini ashar aja belum nyampe Na..."
"Aaaa... Gamau tau! Pokoknya beliin!"
"Gue beliin bahannya, kita buat sendiri gimana? Jadi lebih enak dan banyak pastinya!" bujuk Surya.
"Gamau! Pokoknya beliin! Beliinn..." Raina merengek sambil menarik-narik baju Surya imut.
Surya salah tingkah karena Raina yang begitu imut saat ini, "Ehm... Iya deh iya, nanti aku cariin! Udah aku pergi dulu!"
"Makasihh..."
"Hm..."
Surya langsung lari turun mencari asisten rumah tangganya, "Bi mau nanya! Jam segini, tukang martabak yang buka itu dimana?"
"Hah? Jam segini mana ada yang buka den? Bukanya nanti kalo udah malem gitu."
"Iya yang kira-kira udah buka dimana?"
"Nggak ada lah den..."
"Duh gimana nih!"
"Saya buatin aja gimana den? Saya bisa kok buatnya."
"Nah itu masalahnya! Raina mintanya dibeliin, bukan dibuatin. Tadi udah kutawarin sih bi, tapi orangnya nggak mau. Maunya dibeliin," jelas Surya yang kebingungan.
"Bikinnya mess bibi di belakang aja, jadi non Raina nggak tau. Nanti den Surya tinggal beli kotaknya aja dari luar, biar kelihatan kalo beli."
"Oh ok, ide bagus! Nanti aku ikut buat ya Bi! Mau nyoba buat aja gitu..."
"Boleh den..."
Surya langsung otw keluar karena sudah sedikit tenang karena pesanan Raina sudah teratasi.
***
Di Rumah Sakit
Surya pergi ke rumah sakit dengan tujuan untuk menanyakan Amel, apakah ia sudah mengingat kejadian saat dia jatuh.
"Lebih cepet aja deh di sininya nanti, biar Raina nggak nunggu martabak lama-lama," pikir Surya.
Langkah Surya langsung terhenti ketika melihat ada Rahma didalam ruangan Amel. "Rahma ngapain disini? Oh iya, dia kan temen deketnya Amel. Tunggu aja deh, jangan ganggu mereka."
Mata Surya terpaku pada Amel yang sedang tertidur di ranjang. Surya heran melihatnya karena Rahma tampak seperti orang yang berbicara.
"Amel kan tidur? Kenapa Rahma ngomong sendiri?"
Kebetulan pintu tidak tertutup rapat, diam-diam dan perlahan Surya masuk untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Rahma.
Surya berdiri dibelakang Rahma diam tanpa suara. Hanya mendengarkan kata tiap kata yang diucapkan Rahma. Dan diam-diam Surya merekam semua ucapan Rahma.
"Hai Mel... Gue disini, gue makin takut Mel. Gue bingung harus apa, sekarang Raina udah berubah 180°. Dia bukan Raina yang dulu, dia udah beda. Dia semakin berani dan kuat, gue takut dia bakal tau kalo gue bohong selama ini."
Surya terkejut dengan kata-kata Rahma, tapi ia mencoba tetap tenang dan diam sembari mendengarkan kata-kata Rahma yang lain.
"Apa gue jujur aja ya, kalo yang bikin semua ini terjadi itu Ara. Tapi gue takut kalo keluarga gue kena masalah, lo tau kan dia anak orang kaya? Dia bisa lakuin apa aja ke keluarga gue, gue juga nggak nyangka kalo dia bisa sekejam ini. Korbanin sepupunya cuma buat jatuhin Raina."
Surya mengepalkan tangannya penuh emosi, ia benar-benar berusaha menahan emosinya saat ini.
"Sebenarnya lo jatuh karena Ara taruh pelicin lantai ditangga itu Mel, gue yang ngepel biar nggak kelihatan ada buktinya. Ini pertama kalinya kan gue ngomong ke lo? Tolong biarin ini jadi rahasia kita ya! Mental gue terlalu lemah buat ngomong saat lo bangun, gue lebih berani kalo lo masih tidur."
Surya tak bisa menahan emosinya lagi, ia mematikan rekamannya lalu menyeret Rahma keluar dengan kasar.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Note: Maaf baru up, soalnya kemarin lagi nggak enak badan🙏 Dan nggak tau kenapa hari ini reviewnya lamaaaa banget😭