
Kenan menepuk jidatnya, ia tak mengira Raina menjadi sekacau ini. Ia benar-benar melupakan semuanya, Kenan menarik Raina menuju kamarnya dan menyisirnya dengan lembut, menyemprotkan parfum sebanyak mungkin.
"Kacau boleh, jangan malu-maluin gue Na... Kasihanilah gue yang selalu estetik ini!" gurau Kenan.
Raina hanya menatap Kenan datar tanpa niat. Kenan selesai menyisir Raina, ia mengambil salah satu tas Raina, memasukkan dompet, ponsel dan uang pada tas Raina.
"Ini di pake, udah rapi kan... Udah sana turun, btw kalian mau kemana? Udah ijin Surya?" tanya Kenan.
Raina merasa malas menjawab pertanyaan Kenan, "Mana kutau... Hp aja sejak kemarin mati kok, lagian gue perlu self time bang. Umur gue masih 17 tahun, belum jadi ibu-ibu 35 tahun yang udah nikah. Dan menurut gue, egois itu penting dalam beberapa situasi. Karena nggak selamanya jujur itu mujur!" jawab Raina.
"Ya tapi ijin kek ke suami..."
Raina memutar bola matanya jengah, "Terserah lo deh bang... Kalo lo mau, lo aja yang ijinin ke dia. Gue males!!! Dah lah, gue pergi!"
Raina berbalik dengan cuek dan pergi bersama Maxime. Ada sedikit penyesalan kenapa ia mau menikah muda, dalam beberapa aspek memang menguntungkan, tapi ia juga kehilangan kebebasannya untuk beberapa waktu.
.
.
.
Maxime membawa Raina menuju ke sebuah tempat yang asing untuk Raina. Ia hanya mengikuti langkah Maxime agar tidak ketinggalan, hingga mereka sampai didepan sebuah pintu.
"Ini ruangan apaan Max? Kok aneh?" tanya Raina penasaran.
Maxime berbalik menghadap Raina, "Daripada tanya... Mending buka aja!"
Raina heran, ia pun membuka pintu itu dan hanya ada ruangan gelap didalamnya. Raina pun menengok pada Maxime, "Ini apa?"
Cklek....
"SURPRIZE!!!"
Arkan, Dika, Faris, Naya dan Dhiva tiba-tiba mengejutkan Raina dengan menyalakan lampu dan melompat ke depan Raina.
"Astagfirullah!!! Bikin kaget aja! Ini apa sih!?"
Arkan menatap Raina datar, "Kaga asik banget sih lo! Kita bikin suprize susah-susah malah responnya gini!"
"Ohh... Surprise, sorry gue baru ngeh!"
"Kita hari ini harus seneng-seneng dan lupain semua masalah ok! Kita harus bener-bener have fun hari ini!" sela Maxime.
"Siap bosque!"
Semua menarik Raina masuk, mereka menyalakan sebuah mic. Saat itu Raina baru paham kalau ini adalah ruang karaoke.
Awalnya Raina hanya duduk saat yang lain bernyanyi, ia memilih menikmati dentuman musik keras dari ruangan itu. Namun Dhiva menarik tangan Raina agar ikut berdiri.
"Ayo ikut nyanyi!" ajak Dhiva.
Raina menggeleng, "Enggak... Kalian aja deh, gue mau duduk santai aja! Dengerin kalian lebih asik..."
"Terus apa gunanya lo kesini kalo cuma diem? Ayo nyanyi, pilih lagu kesukaan lo!"
Dhiva memberikan mic nya ketangan Raina, ia memilih sebuah lagu berjudul Instruction dari Demi Lovato.
"Yuk nyanyi! Liriknya enak bet sumpah!"
"Oh... Gue tau lagu ini, ini sering banget dinyanyiin Bang Kenan dulu!"
"Gas-keun..."
***
Instruction - Demi Lovato ft. Jax Jones
All my ladies
Semua teman-temanku
Wind to the left, sway to the right
Memutar ke kiri, berlenggok ke kanan
Drop it down low and take it back high
Turunkan ke bawah dan naikan tinggi lagi
*****, I don’t need introduction
Aku tak butuh perkenalan
Follow my simple instruction
Ikuti instruksi sederhanaku
You see me I do what I gotta do, oh yeah
Kau lihatlah aku, aku lakukan yang harus kulakukan
On the guest list, no need to queue, oh yeah
Di daftar tamu, tak harus mengantri
Me and my crew, we got the juice, oh yeah
Aku dan temanku, kita dapatkan jusnya
So come here, let me mentor you, well
Jadi kemarilah, biar aku mengajarimu
Some say I’m bossy ’cause I am the boss
Ada yang bilang aku suka meraja, karena aku bosnya
Buy anything, I don’t care what it cost
Beli apapun, aku tak peduli dengan harganya
Stacked like casino, Armani, Moschino
Tertumpuk layaknya kasino
If you’re The Supreme then I’m Diana Ross
Seandainya dirimu The Supreme lantas akulah Diana Ross
All my ladies
Semua teman-temanku
Wind to the left, sway to the right
Memutar ke kiri, berlenggok ke kanan
Drop it down low and take it back high
Turunkan ke bawah dan naikan tinggi lagi
*****, I don’t need introduction
Aku tak butuh perkenalan
Follow my simple instruction
Ikuti instruksi sederhanaku
(Step one)
(Yang pertama)
Report to the dance floor when I say, oh yeah
Datanglah ke lantai dansa saat aku berkata
(Step two)
(Yang kedua)
Tell mom you’ll be out till late, oh yeah
Bilang pada ibumu kau akan keluar hingga larut malam
(Step three)
(Yang ketiga)
Pull up your bumper, cock up your waist, oh yeah
Tarik penuh bumpermu, lenggeokan pinggulmu
(Step four)
(Yang keempat)
Ajak seseorang, kini bertatapan dan katakan
Some say I’m bossy ’cause I am the boss
Ada yang bilang aku suka meraja, karena aku bosnya
Buy anything, I don’t care what it cost
Beli apapun, aku tak peduli dengan harganya
Stacked like casino, Armani, Moschino
Tertumpuk layaknya kasino
If you’re The Supreme then I’m Diana Ross
Seandainya dirimu The Supreme lantas akulah Diana Ross
All my ladies
Semua teman-temanku
Wind to the left, sway to the right
Memutar ke kiri, berlenggok ke kanan
Drop it down low and take it back high
Turunkan ke bawah dan naikan tinggi lagi
*****, I don’t need introduction
Aku tak butuh perkenalan
Follow my simple instruction
Ikuti instruksi sederhanaku
***
Raina menarik napasnya lega setelah menyanyikan lagu ini, sungguh menyenangkan saat ia bisa menikmati tiap alunan musiknya.
Tanpa sadar, Raina lebih enjoy perlahan-lahan. Ia bernyanyi sambil dengan sepenuh hati. Mereka semua menikmati saat-saat ini.
***
Jam Kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, semuanya lelah setelah bernyanyi secara bergantian. Tenggorokan mereka terasa kering.
"Nj*r... Gue haus nih, cari minum yuk!" ajak Faris.
"Gue ikut! Sekalian makan dong, laper nih gue!" sela Dika.
"Gas..."
Semuanya keluar dan pergi ke mall untuk membeli makanan dan minuman. Banyak orang yang memperhatikan teman-teman Raina. Bukan karena kagum, hanya saja Raina tampak seperti gembel diantara anak-anak hits.
"Na... Lo diliat banyak orang tuh!" bisik Naya
Raina melirik untuk melihat situasi sekitar, "Iya nih... Kenapa ya? Apa ada yang salah sama gue?"
Dhiva ikut nimbrung, "Ya jelas! Lihat penampilan lo! Kek gembel tau nggak, diantara kita, cuma lo yang keliatan paling lusuh! Perasaan baju bagus lo banyak deh... Kenapa gue curiga lo belum mandi ya..."
"Enak aja! Gue udah mandi, tapi nggak nemu-nemu yang cocok! Makanya pake seadanya..."
"Ya udah kalo gitu..."
***
Di Food Court
Mereka semua makan semeja, dan seketika menjadi pusat perhatian karena penampilan mereka yang modis dengan visual yang juga menarik. Tak sekali, orang-orang datang meminta nomor mereka.
"Eh abis makan tunggu kita dulu ya! Mau nyari baju buat Raina dulu, kasihan... Kelihatan kayak anak tiri yang dirundung..." ujar Dhiva.
Faris mencium jaket jeans-nya, "Eh gue ikut dong! Bau jaket gue jadi aneh nih... Mau beli lagi aja!"
Teman-teman yang lain hanya melongo dan menatap datar Faris. Arkan menatap datar Faris, "Inilah definisi rich boy..."
"Hehe... Ntar gue cek saldo dulu!"
Faris mengeluarkan ponselnya dan mengecek saldo ATM-nya lewat mobile banking. Dika penasaran dengan ponsel Faris.
"HP lo andro?"
"Iya napa?"
Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Lo kan kaya... Kenapa HP-nya masih android? Biasanya, orang-orang itu HP-nya Iph*ne gitu... Dan kalo yang kaya itu kameranya 3...."
Faris memutar bola matanya jengah, ia merogoh sling bag-nya dan mengeluarkan ponsel yang lain. Semuanya semakin melongo dibuatnya.
"Ape nih? Gue kaga ngarti..."
Faris mengangkat ponsel Iph*ne-nya yang berkamera 3 dengan santai. "Maksud lo ini?" Dika mengangguk melihatnya.
"HP gue emang ada 2, kalo buat komunikasi sehari-hari pake Android... Kalo Iph*ne gue pake cuma waktu pengen selfie atau bikin video tik-tok gitu..."
"Tuhan... Kuatkan hatiku..." celetuk Dika.
Arkan menatap Faris datar, "Cukup Ris! Jangan buat ginjalku bergetar! Masukin balik gih..."
Maxime keheranan melihatnya, "Lo nggak risih kemana-mana bawa hp 2?"
"Ya kalo gabut bawa 2, kalo enggak ya bawa yang Android aja..." Faris menepuk pundak Dika, "Kawan... Jangan bangga-banggakan hp hasil pemberian orang tuamu! Sebagus apapun hpmu, tetap tidak bisa dipakai video call dineraka... Jangan remehkan android bro, HP android juga ada yang mahalnya setara sama 2 bola mata lo. Orang mampu itu nggak wajib pake iph*ne, kita pakai apapun itu sesuai kenyamanan kita masing-masing... Bukan buat pamer harga."
"Hahahaha...."
"Bengek woyy..."
Dika miris melihatnya, dia ingin sekali memegang ponsel yang ada ditangan Faris. Sayangnya keinginan untuk makannya lebih besar daripada itu.
"Jangan kayak gitu lah... Kalo pengen main hp gue, main ke rumah gue. Lo pake aja hp gue sementara, kalo pengen main game, gue ada komputer di rumah, pengen nonton bioskop, di rumah ada LCD sama 3D proyektor... Kalo pengen main mobil-mobilan, ada 3D simulator car arcade di rumah..." Faris menepuk pundak Dika.
Arkan geleng-geleng kepala mendengar ajakan temannya yang terkesan menggoda ini, "Definisi sultan yang diakui, bukan mengakui..."
Raina memutar bola matanya jengah, "Andai aja si Surya bolehin kayak gitu... Pasti bahagia hidup gue, tapi apaan? Kamar isinya bukuuuuuu semua, ada TV aja jarang banget boleh dihidupin!" kesal Raina.
Maxime mengangkat salah satu alisnya, "Apa hubungannya sama Surya? Kan dia cuma pacar lo doang..."
Raina membelalak, "Oh enggak gitu... Maksudnya, dia pasti bilang ke Bang Kenan trus gue dimarahin gitu..." jawab Raina asal.
"Oh..."
***
Apartemen Maxime
Maxime mengajak semua teman-temannya menuju apartemennya pribadi yang jarang ia kunjungi. Ia ingin membuat Raina lupa masalah sejenak.
"Ini apartemen gue... Santai aja, anggep rumah sendiri. Ini pribadi punya gue, nggak ada yang bisa masuk tanpa ijin gue kok..." ujar Maxime.
Semua hanya ber-woah melihat desain apartemen Maxime yang terlihat minimalis namun berkelas.
"Kenapa ngajak kita ke sini?" tanya Raina.
"Kalian bisa santai dan ngelakuin apapun yang kalian pengen, bebas... Asal jangan yang aneh-aneh! Oh iya, gue mau pergi bentar ketemuan sama manager gue. Kalian di sini aja ya..."
"Ok Max, gue boleh pake ni alat-alat musik?"
"Boleh..."
Semuanya bersenang-senang, Maxime keluar dan Raina lupa ingin menanyakan sesuatu. Ia berniat keluar untuk menyusul Maxime.
"Maxime..."
Langkah Raina terhenti begitu melihat Ara yang muncul didepan pintu, "Lo ngapain di sini?" tanya Raina ketus.
"Serah gue, lo juga ngapain disini?" tanya Ara.
"Justru gue yang harus nanya ke lo! Gue emang temen deket Maxime, wajah kalo di sini sama yang lain. Lo sendiri, siapanya Maxime! Ngapain ke sini?" tanya Raina balik.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Mas Faris, ijinkan aku menikahimu... Maka aku tak mengenal apa itu boros 😭