
Raina sedikit tersenyum melihat tingkah Surya yang manis, menurutnya. Surya sibuk menyajikan bubur, Kenan masih keluar membelikan semua buah yang Raina mau.
"Perhatian..." gumam Raina sambil sedikit tersenyum
Semenjak bangun dari tidurnya, Raina merasa sedikit lebih tenang. Kesedihan di hatinya tiba-tiba tidak separah kemarin.
"Huh... Na ini buahnya? Kamu mau makan yang mana dulu? Pisang? Apel? Jeruk? Salak? Pir? Pepaya? Mangga? Atau yang mana?" tanya Kenan antusias setelah kembali dari toko buah
"Salak..."
"Ya udah bentar tunggu!"
Kemana semangat 45 menyiapkan semua buah yang baru ia beli. Sedangkan Surya sibuk menyiapkan makanan untuk Raina.
"Na... Ini makanannya, aku suapi ya... Sini-sini!" ujar Surya antusias
Raina menggeleng dan memakan buburnya sendiri tanpa bantuan siapapun meski kepalanya pusing.
"Sini aku suapi aja," pinta Surya
"Nggak."
Raina menolak, Surya maupun Kenan hanya bisa meng-iyakan permintaan Raina.
"Aku pengen sendiri," ujar Raina
"Tapi Na..." risau Surya
"Pengen sendiri!" tegas Raina
"Ok, Ya... Yuk keluar dulu!" ajak Kenan
"Iya kak," jawab Surya
Surya dan Raina pergi meninggalkan Raina untuk sendirian. Raina memakan buburnya hingga habis, lalu membuka laci mamanya untuk menyimpan kembali bingkai foto semalam.
"Mama.... Maaf, Raina belum bisa lepas mama sepenuhnya..." gumam Raina
Raina membuka laci mejanya lalu melihat ada 2 amplop putih di dalam laci, ia pun mengambil amplop itu.
"Ini apa?" gumam Raina
Raina pun membaca tulisan kecil di amplop itu.
Untuk Raina
Untuk Kenan
"Ini surat yang mama tulis kah?" kaget Raina
Raina membuka amplop yang bertuliskan 'Untuk Raina'. Ia membaca pesan terakhir dari mamanya yang tersembunyi.
\=\=\=\=\=
Untuk Raina...
Nana... Maaf ya mama pergi lebih dulu, bukan kehendak mama buat begini. Tapi semua sudah ada jalannya.
Alasan mama menikahkan kamu sama Surya adalah agar setelah mama pergi, ada yang jaga kamu. Jadi setelah mama pergi, kamu baik-baik ya sama Surya. Mama tau kalau Surya bakal jadi suami yang baik buat kamu.
Mama juga lebih suka Nana yang dulu. Yang jahil, usil, suka belajar, sering senyum dan taat peraturan. Nana jangan berubah jadi yang lebih buruk dari ini ya!
Nanti juga jangan salahin Surya atau siapapun atas kepergian mama. Maaf mama nggak ngasih tau kamu dan Kenan kalo mama sakit. Mama nggak mau kalian khawatir, anggep aja mama lagi kasih waktu buat kalian jadi mandiri.
Mama selalu tunggu kalian kamu, Kenan dan Surya buat sukses. Jangan menyerah Nana... Kalau ada masalah, percaya sama Surya. Dia pasti bisa dan mau bantu kamu. Jangan sampai lupa sholatnya, boleh lupa sama belajar tapi jangan lupa sholat!!!
Mama cinta Nana... ❤️
\=\=\=\=\=
Air mata Raina jatuh kembali, kedua kalinya ia mendapat surat seperti ini. Dan kenapa, dua-duanya dari orang tuanya sesudah meninggal. Bolehkah Raina menangis dan menjerit lagi.
"Mama.... Mama kenapa kayak gini sih ma? Hiks... Papa udah tinggalin Nana tiba-tiba, sekarang gantian Mama... Kenapa kalian berdua giniin Raina sih? Raina salah apa? Hiks..." tangis Raina
Raina memuaskan tangisannya, setelah berhenti ia kembali bertanya pada hatinya. Apa yang terjadi dengan hatinya. Apa yang sedang ia rasakan kini.
"Na... Kamu di rumah dulu ya, aku mau berangkat sekolah. Nanti aku pasti pulang awal," pesan Surya yang tiba-tiba membuka pintu
Surya terkejut melihat mata Raina yang begitu merah.
"Na... Lo kenapa? Habis nangis?" tanya Surya
"Ay...."
"Ya, Na kenapa?"
"Boleh nggak... Hari ini kamu temenin aku di rumah aja," pinta Raina dengan mata yang masih merah
"Kenapa? Kamu kenapa lagi? Sakit ya? Perlu ke rumah sakit?" tanya Surya
Surya meletakkan tasnya, ia duduk di samping Raina. Melepaskan almamaternya dan memandang Raina dalam.
"Kenapa? Kamu kenapa? Cerita aja..." ujar Surya
Ma... Apakah bener aku bisa percaya Surya? Surya bisa dan mau bantu aku? - Batin Raina
Raina memeluk erat Surya, Surya terkejut dengan tingkah Raina yang tiba-tiba ini.
"Kamu kenapa? Ada apa? Cerita coba..." pinta Surya
"Gini aja dulu..." pinta Raina
Surya mengangguk dan membalas pelukan Raina. Raina hanya diam, tapi air matanya terus mengalir. Surya menyadarinya karena semua air mata Raina jatuh ke pundak Surya. Surya hanya diam dan mengusap punggung Raina.
Ma... Inikah rasanya di peluk dan ditenangkan sama orang terdekat kita? Dan kenapa gue nyaman sama Surya? - Batin Raina
Tolong cerita Na... Kita bisa berbagi cerita dan menanggungnya bersama. Ayo kita berjuang bersama - Batin Surya
"Kenapa mama pergi nggak bilang-bilang Ay? Kenapa mama nggak ngomong kalo dia sakit? Mama sebenarnya sakit apa Ay? Sejak kapan dia sakit? Kenapa aku nggak di kasih tau?" tanya Raina beruntun
"Kamu mau dengerin semua penjelasan aku?" tanya Surya
Raina membalasnya dengan sebuah anggukan, lalu Surya menjelaskan semuanya. Mulai dari pertama kalinya dia mengetahui kalau Mama Raina sakit, hingga tiba-tiba saja ia mendengar kabar kalau mama Raina drop.
"Maafin aku Na... Aku yang telat nyadari semuanya, andai aja aku bisa nyadar lebih cepat. Mungkin situasi akan berbeda," ucap Surya menyesal
"Nggak perlu Ay... Semua sudah ada jalannya sendiri. Kita kan sudah usaha, yang lainnya... Pasrahkan saja sama yang di atas," jawab Raina dengan tersenyum kaku
Surya tak tega melihat keadaan Raina, ia memeluknya kembali dengan penuh kehangatan.
"Mulai sekarang... Aku bakal selalu ada di sisi kamu apapun yang terjadi. Jadi jangan pernah kamu merasa sendiri..." ucap Surya
"Janji?"
"Janji!"
Raina memeluk Surya, hatinya perlahan mulai terbuka. Ketulusannya mendampingi Raina saat ini membuat hati Raina yang keras pun melunak.
***
Sore Hari
Raina di ajak ke ruang tamu oleh Surya untuk makan bersama sambil berbincang-bincang.
"Kamu mau makan ini?" tanya Surya sambil menunjukkan apel, namun Raina menggeleng.
"Ini?" tanya Surya menunjukkan mangga, Raina kembali menggeleng.
"Lalu yang mana? Atau mau daging badak?" tanya Surya
Raina sedikit tertawa karena gurauan Surya, Surya pun ikut senang melihatnya.
"Jadi makan apa nih? Daging landak apa daging semut?" tanya Surya
"Makan aja sendiri!" jawab Raina
"Makan sendiri itu nggak enak! Enaknya barengan," jawab Surya
Raina hanya tersenyum kecut, terkadang Raina juga ingin tertawa saat mendengar gombalan Surya yang kuno dan terdengar aneh.
"Kamu tau nggak?" tanya Surya
"Nggak tau,"
"Jangan di jawab dulu!"
"Oh gitu..."
"Kamu tau nggak?"
"....."
"Tanya 'Apa' gitu loh!"
"Katanya nggak boleh jawab,"
"Aelah... Jawab aja 'apa' nanti, ok!"
"Iyaaaaaaa....."
"Kamu tau nggak?"
"Apa?"
"Bumi yang berputar pada porosnya membuat terjadinya siang dan malam. Jika digabungkan, siang dan malam itu menjadi 1 hari. Dalam satu hari di bumi itu ada 23 Jam 56 menit 4 detik. Dan aku butuh lebih dari itu untuk sekedar puas melihat tawa kamu," ujar Surya
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏