
"Ngapain lo di sini? Gangguin Raina lagi?" tanya Surya dengan nada yang tak bersahabat.
Maxime menatap Surya tak suka, "Lo sendiri ngapain ikut campur urusan orang lain? Ini urusan gue sama Raina ya!" tegas Maxime.
"Urusan Raina, urusan gue juga. Karena gue suami sah Raina, mau apa lo?" tanya Surya dengan nada mengejek.
Maxime terkekeh sinis, "Heh... Lo nggak usah halu ketinggian deh! Mana mungkin Raina itu istri lo, kalian itu masih SMA. Udah mending lo pergi, ini urusan gue sama Raina dan lo gak usah ikut campur!"
Maxime dan Surya saling melempar tatapan sinis serta tajam. Raina benar-benar bingung dan kikuk dengan situasi ini.
Tangan kanannya dicengkeram oleh Surya, sementara tangan kirinya dicengkeram oleh Maxime.
Raina sedikit menghempaskan kirinya hingga cengkraman Maxime terlepas, "Max lepasin! Kalo mau ngomong di luar aja, gue mau bayar ini dulu. Lo pikir ni toko punya kakek lo apa?!"
Raina berjalan dengan langkah kasar menuju kasir dan membayar beberapa barang yang ia beli. Sedangkan Surya dan Maxime menunggu diluar dengan suasana yang mencengkram dan selalu bersitegang.
Raina menatap Maxime serius, "Max tolong... Gue udah anggep lo temen dengan tulus, gue juga nggak ngira lo bisa khianatin gue. Tapi untuk pengkhianat, itu bener-bener hal yang nggak bisa gue toleransi. Jadi tolong lo gak usah ganggu gue lagi, kita jalan masing-masing mulai sekarang!" tegas Raina.
"T-tapi Na, gue punya alasan... Perasaan gue ke lo itu nyata, bukan mainan! Na tolong kasih gue kesempatan!" Maxime kembali hendak memegang tangan Raina.
Dengan lebih dulu Raina menepis tangan Maxime, "Sorry tapi gue udah ada hak paten. Gue udah ada yang punya, sah secara agama dan hukum. Lo nggak bisa lakuin apapun lagi, gue emang bukan jodoh lu Max. Gue istri sah Surya, jadi lo jangan ganggu gue lagi please! Gue pergi dulu Max, Ay ayo pergi!" Raina menarik tangan Surya lalu pergi meninggalkan Maxime.
Maxime langsung terduduk lemas mendengar kebenaran dari mulut Raina. Ia tak mengira kalau ia benar-benar sudah tak punya kesempatannya itu. Maxime mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal, ia tak perduli lagi dengan sekitarnya.
***
Alun-alun
Raina mengajak Surya kembali ke Alun-alun untuk meneruskan makan es krim. Mereka berdua kembali duduk dan saling menatap canggung.
"L-lo..."
Kata itu terucap secara bersamaan dari mulut Surya dan Raina. Kini suasana diantara mereka semakin canggung.
"Lo duluan aja..."
"Hah? Enggak, lo dulu aja..."
Mereka kembali saling terdiam, Raina kesal sendiri dengan timing ini, ia pun membuka pembicaraan. "Lo kok bisa di sana tadi? Bukannya lo nunggu di sini?" tanya Raina.
"Awalnya gue duduk di sini liatin lo dari jauh, tapi tiba-tiba gue liat Maxime yang juga masuk ke sana. Gue khawatir dan nyusul aja, ternyata bener, dia ganggu lo." Surya menjelaskan.
"Oh..."
"Trus lo tadi kenapa mau ngakuin hubungan kita? Katanya nunggu lulus SMA dulu baru publikasi?" tanya Surya penasaran.
Raina gelagapan dengan pertanyaan Surya, "Em... Ng-nggak papa kok, cuma udah bosen aja diganggu Max terus. Makanya gue kasih alasan biar dia menjauh selamanya. Lagian yang pertama kan lo yang bilang, gue cuma terusin aja."
"Oh..." Mereka kembali sama-sama terdiam. Surya lama-lama kesal dengan suasana ini, "Ah elah... Kenapa timingnya jadi kayak gini sih? Udah ayo ngobrol kayak biasanya, atau makan ni es krim. Udah mulai leleh noh," ujar Surya yang jengkel.
"I-iya deh..."
Mereka berdua kembali memakan es krim itu sampai habis lalu berjalan-jalan disekitar alun-alun untuk menikmati suasana malam.
"Enak banget ya suasananya... Nggak terlalu dingin, tapi juga nggak panas," celetuk Raina.
"Ih apaan sih..."
Raina malu-malu mendengar gurauan dari Surya. Baru saja sejenak mereka menikmati suasana itu, mereka tak sengaja bertemu Ara disana.
Suasana hati Raina terlihat sedikit memburuk saat melihat ada Ara disana. Surya menyadari perubahan ekspresi wajah Raina.
"Kenapa? Pengen pulang?" tanya Surya.
"Nggak... Udah ayo lanjut, jalan lagi..."
Awalnya Raina membiarkan adanya Ara, tapi Ara mendatangi Raina dan Surya dengan wajah penuh emosi.
"Bisa-bisanya kalian berdua jalan santai setelah rusak kehidupan gue ya? Dasar manusia nggak tau malu!" bentak Ara.
"Ra lo jangan kelewatan, hanya karena lo cewek bukan berarti gue nggak bisa apa-apa ya!" tegas Surya, Surya menggandeng tangan Raina erat. "Ayo Na pergi, nggak usah ladenin dia!"
"Dasar samp*h! Kalian manusia paling jahat, kalian jahat, kalian jahat!" Ara berteriak dengan nada tinggi yang sedikit menyorot perhatian orang lain.
Raina pun menghentikan langkahnya dan berbalik, "Atas dasar apa lo ngomong kayak gitu hah? Atas dasar apa?!" tanya Raina dengan nada meninggi.
"Kalau aja kalian berdua nggak pernah muncul dalam hidup gue, hidup gue pasti sempurna! Kalian berdua jahat! Kalian berdua udah hancurin hidup gue tau nggak, kalian berdua rampas semua kebahagiaan gue!" Ara membela dirinya seolah-olah ia korbannya.
Surya berusaha menahan amarah Raina agar tak terjadi pertengkaran di sini. Raina menghela nafas panjang dan berusaha mengontrol emosinya.
"Ra gini ya, hancur atau enggaknya hidup lo itu tanggung jawab lo sendiri. Lo nggak bisa salahin orang lain atas hidup lo, semakin tinggi ekspektasi lo untuk hidup, maka semakin besar pula rasa sakitnya saat lo jatuh! Jadi nggak usah sok jadi korban di sini!" tegas Raina.
"Na udah Na... Biarin aja Na, kita pulang sekarang ya. Ayo pulang!" ajak Surya untuk mengalihkan perhatian Raina.
"Hancurnya hidup lo itu gara-gara ulah lo sendiri. Gue diem karena masih ada sisi manusiawi dalam diri gue, gue kasihan sama lo karena gue pernah ada di posisi lo. Tapi lama-lama lo nyolot ya, gak tau dikasihani."
Ara tertampar dengan kata-kata Raina, orang lain yang melihat kejadian ini langsung melontarkan pendapat masing-masing.
"Lo tau nggak, kalo gue udah bener-bener kesel sama tingkah lo yang sok itu, gue juga bisa sinis. Gue emang gak savage Ra, tapi sekalinya benci sama orang, jatuhin mental orang pake kata-kata itu gampang buat gue."
Ara terdiam seribu bahasa tak bisa melawan. Sedangkan Raina semakin kesal saat melihat wajah Ara, "Lo tau apa yang selalu dipikiran jahat gue? Semoga lo jatuh, semoga lo mati, semoga sakit, semoga hidup lo lebih hancur dari gue, dan semoga lo jadi orang paling menderita di dunia ini. Tapi kapan gue pernah ngomongin kata-kata itu secara langsung ke lo? Nggak kan? Lo nggak tau apa-apa tentang gue, jadi tutup mulut m*rahan lo itu!"
Surya berusaha menengahi semuanya agar tak semakin parah, "Ra lo itu dari keluarga baik-baik. Jaga attitude lo, percuma good looking tapi attitude blasteran neraka!"
"Satu lagi! Gak usah sok bermuka dua, bingung gue mau nampar muka yang mana dulu. Lagian skincare lo nggak boros ya ngerawat 2 muka? Lu muka jelek aja jual omongan, lo cantik jual apa? Jual diri? Gak usah sok cantik, kita cuma beda merek skincare! Ay, yuk pulang... Males gue disini!" ketus Raina.
Ara seolah-olah mati langkah. Tak tau harus apa, harga dirinya benar-benar hancur didepan khalayak ramai.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Hai All, buat yang mau masuk GC ku... Bisa tulis kodenya biar lebih cepet keterima masuk GC ya :)
Kode GC : RAINASURYA11
Buat yang mau masuk GC Wa-ku, bisa chat admin GC noveltoon atau DM aku di Instagram yaa...
Ig: @diagaa11