
Raina tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, "Maaf gue baperan ya? Gue cuma terharu aja, papa gue juga pernah ngomong hal yang sama..."
"Its okay, itu artinya lo masih punya hati kan? Ya udah masuk yuk, udah malem nih..."
Raina mengangguk dan masuk ke dalam. Ia langsung menuju ke kasur yang begitu empuk, merebahkan diri seolah tak ada beban.
"Ya Allah... Rebahan adalah nikmat yang indah..."
Tak perlu waktu lama, Raina pun terlelap dalam mimpi indahnya.
***
Pagi Hari
Udara sejuk khas puncak menyapa Raina yang masih menikmati indahnya rebahan. Matanya terbuka namun seolah nyawa belum terkumpul.
"Aku dimana? Aku siapa... Ini jam berapa Ya Allah, kok udah siang aja!"
Raina masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air yang dingin. Niatnya untuk mandi pun diurungkan.
"Mandi ntar aja deh... Nggak tega nyakitin air dingin pake badan hot gue. Ntar airnya terpesona sama gue bisa-bisa."
Raina turun dengan rambut yang dikuncir asal-asalan dengan anak rambut yang berantakan, hanya memakai kaos oversize putih besar dan legging hitam panjang.
"Udah bangun aja lo... Temen-temen suruh turun semua, ni ada nasi goreng," ujar Kenan yang masih berkutat dengan celemeknya di dapur.
"Sapa yang masak bang?"
"Gue lah! Masa presiden Amerika?"
"Terserah lo aja deh bang... Temen lo mana? Kok nggak kelihatan?"
Kenan menjawab Raina tanpa berhadapan langsung, "Ada urusan dulu, makanya pergi bentar. Napa, kangen lo? Jaga hati sayang, di tampol Surya tau rasa lo!"
"Dih kaga! Cuma tiba-tiba inget Rio temen gue aja gitu, udah lama nggak denger kabarnya. Terakhir chat katanya dia pindah ke Ausy..."
"Hah? Masa? Bisa bahasa Inggris tu anak?" kaget Kenan
"Aelah bang... Kalo mau belajar bisa aja kali, lagian Australia kan salah satu negara yang mempelajari bahasa Indonesia. Banyak yang bisa bahasa Indonesia juga say..."
"Masa? Tau dari mana lo?"
"Dari utusan Donald Trump yang pergi bersama utusan Kim Jong Un waktu setelah makan siang bareng Barack Obama, trus ketemuan sama Bapak Jokowi, sebelum bertemu dengan sekolompok orang yang mencuri SDA Laut Indonesia yang akhirnya di tenggelamkan oleh Ibu Susi. Lalu makan bareng Katty Perry, Ariana Grande, dan ngerapp sama Nicki Minaj. Tapi pergi jalan-jalan sama Bright Vachirawit, Kim Taehyung, trus papasan sama Nakajima Kento. Akhirnya kita sekelompok sama Lalisa Manoban, Choi Tyuzu, Irene Red Velvet buat tour ke Segitiga Bermuda..."
"Waw... Lain kali kita tour ke Segitiga Bermuda bareng ya, jangan lupa bawa tongis!" kompor Kenan
Raina semakin menjadi-jadi, "Oke... Kalo mau ke Venus bilang ya, nanti barengan sama Kimia Farma. Kalo mau ke bulan, gue ada orang dalem di NASA, bisa nebeng naik rocket, kita... Tapi kalo masuk neraka, beli tiket sendiri, berangkat sendiri, nggak usah ajak-ajak ok!"
"Semakin banyak ajak teman untuk maksiat, semakin besar kemungkinan mendapatkan kartu akses Gold VVIP menuju Neraka. Di jamin, siksaannya maknyus!" ucap Kenan sambil mengacungkan jempolnya.
"Wah aku suka, aku suka! Terutama kalau manusia-manusia setengah setan yang dapat akses itu!"
"Makan-makan!" teriak Dika dan Faris yang turun dan semangat untuk makan.
"Bangun lo kesiangan... Makanannya udah habis," gurau Kenan untuk mengerjai kedua biang kerok ini.
"Tidaaakkkk....." teriak Dika histeris
"Ya Allah, selamatkan hambamu ini dari kelaparan Ya Allah! Hamba pasti segera taubat Ya Allah, akan mengurangi durasi maksiat Ya Allah!" kata Faris yang sudah berdoa pada Sang Kuasa.
Raina menatap kedua temannya yang sikap rusuhnya Overload. "Udah jangan teriak-teriak! Nanti polisi tidur pada bangun!"
Faris langsung bertingkah, "Eh ada polisi tidur... Bangunin ahh..."
"Jangan sentuh aku! Aku jyjyq!" ucap Dika dengan gayanya yang sedikit cucok meong.
"Selamatkan hambamu dari kegilaan ini Ya Allah..." gumam Raina
"Gue makan di kamar aja deh ya..." ujar Kenan
.
.
.
Selesai sarapan, semua berkeliling masing-masing menikmati pemandangan hijau yang ada di depan mata.
"Na... Mau ikut ya!" ujar Arkan tiba-tiba.
"Dih, napa lu? Tumben bener deh..."
"Pokok gue ikut lo, koma!"
"Nah itu..."
Raina memilih pergi untuk memandang pemandangan dari ketinggian agar bisa melihat semuanya. Raina duduk di atas rumput dengan kaki bersila. Arkan yang mengekor pun ikut duduk di samping Raina.
"Mau ngomong apa? Nggak usah di tahan-tahan kayak kentut! Sad Boy nggak usah sok-sokan jadi F*ck Boy!" kata Raina to the point.
"Jadi gini... Gue suka sama orang, orangnya cantik, of course gue tembak lah..."
"Trus-trus?"
"Gue di tolak... Gue malah di tanya balik, gue punya apa? Dia ngerendahin gue banget, jatuhin harga diri gue banget. Pengen gue pukul, tapi dia cewek. Dan gue ngejar dia udah bertahun-tahun..." jelas Arkan dengan sedih.
Raina menengok, ia menatap Arkan serius. "Tunggu-tunggu! Lo nembak cewek, trus di tolak?" tanya Raina yang dibalas anggukan Arkan.
"Bwahahahaha.... Lo di tolak, hahahaha... Sungguh keg*blokan yang unfaedah hahahaha..." tawa Raina yang tak kunjung berhenti.
Awalnya Arkan hampir ikut tertawa karena suara tawa Raina, namun mengingat keadaannya, Arkan mencoba tak menertawakan dirinya sendiri.
"Na... Temen laknat ya lo? Ada temen susah malah di ketawain!" kesal Arkan
"Hahaha.... Nggak papa, hahahaha. Ehm, ya gue pasti tau yang lo tembak Ara kan? Dan endingnya lo di tolak kan? Makanya jadi cowok jangan belagu, mentang-mentang naksir cewek, sampe berani main tangan sama sahabat sendiri. Udah kayak gini, mau hidup sama siapa lo nggak ada sahabat?" ceramah Raina yang semakin kesal mengingat kelakuan Arkan pada Diva sebelumnya.
"Ya sorry, gue kan kebawa emosi aja gitu. Lagian, Diva punya mulut pedes bener kayak gula!"
"Cabe sayang... Cabe..."
"Iya itu! Trus sekarang gue harus gimana? Hampir 1½ tahun gue deketin dia, tapi Zonk! Gue malah di permaluin gitu aja!"
Raina berpikir sejenak, "Lo tenang aja! Cowok nggak bisa pukul cewek, tapi cewek bisa mukul dia yang kelakuannya kek setan! Nolak mah nolak aja, gak perlu segitunya! Sampe bawa-bawa harga diri, 100% gue yakin dia blasteran setan!"
Arkan sedikit lega setelah menceritakan semuanya pada Raina, setidaknya ada yang mendukungnya. Mau cerita ke siapa pun Arkan bingung, hanya Raina yang paling dekat dengannya sejak kecil.
"Lo emang bestie gue ter best lah pokoknya! Makasih Na, gue bingung mau cerita ke siapa! Udah gini lega gue."
"Gak perlu terlalu mikirin masa lalu. Daripada lo fokus ke cewek nggak tau diri kayak dia, mending lo fokus ke sekitar lo! Sadar atau nggak, ada hati yang nunggu lo! Dan ingat ya, orang nggak bisa menunggu terus-menerus hanya untuk satu orang! Jadi, raih sekarang atau dia akan hilang selamanya!"
"Maksudnya?"
"Pokoknya gitu! Ga mau terima kasih atau apa gitu buat gue?"
Arkan memeluk pinggang Raina seperti anak TK yang memeluk kakaknya. "Lo emang mama kedua gue, asli!"
.
.
.
Surya yang sudah berangkat sejak subuh pun tiba di Bogor. Rio pergi menjemputnya agar Surya tidak kesasar, sesampainya di Villa, Surya terkejut karena melihat Kenan juga di sana.
"Bang Kenan? Ngapain di sini?" tanya Surya heran.
"Gue liburan, lo sendiri ngapain ke sini?" tanya Kenan
Rio hanya diam tidak mengerti, "Kalian saling kenal?"
"Dia ini tunangan adik gue! Dan juga, lo ngapain ke sini pagi-pagi Ya?" tanya Kenan keheranan.
"Gak penting! Berarti Raina di sini juga kan bang?"
"Ada nih di belakang vila, lagi liatin pemandangan!"
Tanpa aba-aba, Surya langsung berlari mencari keberadaan Raina. Namun matanya membelalak melihat Arkan yang memeluk Raina seperti anak kecil, dan Raina mengusap kepala Arkan seperti ibunya.
"Raina!!! Arkan!!! Kalian ngapain?" teriak Surya
Kedua anak itu pun menengok dan tak percaya melihat ada Surya di sini. Surya langsung pergi menghampiri Arkan dengan emosi yang tidak jelas.
Surya mengapit kepala Arkan di pinggangnya dengan lengan kekarnya, "Lo apain bini orang hah? Lo apain barusan! Bilang!" bentak Surya.
"Ampun-ampun! Lo salah lihat, gue nggak ngapa-ngapain Raina! Na bantu jelasin lah!" kesal Arkan
"Jelasin apa?" tanya Raina dengan wajah seolah tak terlibat apapun.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Yang kangen Bang Aya, absen di kolom komentar coba😂