My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Perasaan Kacau



Surya hanya memotret katak dan tidak terlalu memperhatikan Ara, "Ini aja dulu, hewan lain di pikir sambil nanti lihat-lihat kan bisa! Ini juga Study Tour, jadi harus dinikmati juga lah," jawab Surya cuek.


Ara seperti mat kutu karena sejak tadi Surya terus mengabaikannya, "Ehm... Ya udah deh, ngikut aja deh." ujar Ara yang sudah kehabisan cara.


***


Di Bus 4


Setelah selesai di Kebun binatang dan Keraton, anak-anak pergi menuju Pantai Parangtritis.


Raina menghela nafas melihat cuaca, "Hah... Cuacanya panas banget dah. Gimana mau main air? Pasti terasa kebakar di kulit..."


Diva yang duduk di belakang Raina pun langsung muncul dan ikut bersuara, "Ingin kulit tetap cerah dan tidak terbakar meski bermain panas-panasan? Cobain Sunscreen ini, di jamin anti sama kulit belang!" ujar Diva sambil menirukan suara orang promosi.


Raina menatapnya datar, "Promosi lo?"


"Kemarin gue tuh di endorse ini, eh bagus banget dong ternyata. Nih mau? Gue kasih satu deh..."


"Kalo gratis siniin dah..."


.


.


.


.


.


Sesampainya di pantai, banyak anak-anak yang langsung bermain air. Sedangkan Raina masih celingukan mencari Surya.


"Di mana sih tu anak? Kok nggak muncul-muncul!" kesal Raina karena tak kunjung menemukan Surya.


Diva mengibas-ngibaskan tangannya karena cuaca yang sedang terik, "Udah tinggal main aja dulu, nanti juga muncul sendiri orangnya."


Raina pun mengikuti saran Diva, ia mulai bermain-main pasir dengan yang lain. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada seorang anak yang tampak berlari membawa Es Kelapa Muda di tangannya sambil menemui Amel. Raina yang penasaran pun mengikutinya.


Amel mengambil Es dari tangan anak itu, "Oke... Lo beliin gue beberapa camilan dong, pake duit lo ya! Abis itu jagain tas gue sama yang lain di sana!" perintah Amel sambil menunjuk ke suatu arah.


"Iya Mel..." jawab anak itu patuh.


Raina yang melihatnya pun tak bisa menahan emosinya, ia langsung datang dan menarik tangan anak itu agar tidak pergi.


"Gue kira setelah kejadian waktu itu, lo udah berubah. Ternyata enggak ya, emang kalo titisan setan susah di bilangin ya." ejek Raina santai.


Amel tersulut emosi mendengar kata-kata Raina, "Apa kata lo! Jaga mulut lo, pergi sana! Ini bukan urusan lo ya! Suka banget ikut campur urusan orang!"


Anak yang di bully oleh Amel pun berniat menghentikan Raina, "Na udah biarin, gue nggak papa kok."


"Gak usah takut, gue di sini! Lo kalo masih berani gangguin dia lagi, urusan lo sama gue setan! Nggak bisa gue bilangin, gue ruqyah lo lama-lama!" kesal Raina sambil mencengkram kerah baju Amel lalu menghempaskan Amel.


Amel yang merasa terancam hanya bisa pergi dengan dendam di hatinya, ia tak mau berurusan lagi dengan Raina. Namun ingin membalaskan dendamnya pada Raina.


Raina melihat ana yang tadi di bully, "Siapa nama lo?"


"Alyn."


"Kenapa lo diem aja sih waktu di gituin? Udah tau Amel orangnya kaya gitu, harusnya lo lawan!" kesal Raina.


"Gue nggak berani, gue bisa sekolah aja udah untung. Keluarga gue pas-pasan, dan sekolah ngandelin beasiswa, gue nggak mau kecewain orang tua karena di keluarin. Dan gue tau kalo keluarga Amel itu punya kekuasaan."


Raina menghela nafas panjang, "Hah.... Sebesar apapun kekuasaannya, kalo salah ya tetep salah. Gini deh, selagi lo berani lawan Amel, gue jamin lo nggak bakal di keluarin! Gue jamin 100%, kalo masih ragu, sering-sering aja deketin gue ya!"


"Iya Na, makasih ya..."


Raina kembali bersama teman-temannya untuk bermain Air. Selama ada Surya, Maxime tidak terlalu berani mendekati Raina.



Surya dan Raina sedang duduk di salah satu tebing menyaksikan indahnya pemandangan Sun Set.


Raina yang sedang bersandar di pundak Surya pun memanggil kekasih halalnya itu, "Ay...."


"Apa?"


"Seumpama nih, suatu saat gue buat kesalahan yang akibatnya parah, lo bakal ngapain? Belain gue atau buat kebohongan demi nyelametin gue?" tanya Raina tiba-tiba.


Surya hanya menjawabnya dengan santai, "Maka mulai sekarang gue bakal terus berdoa semoga nggak bakal terjadi apa-apa sama lo, dan situasi yang lo maksud nggak akan pernah terjadi."


Raina tersenyum hangat mendengarnya, seolah ia benar-benar ingin memberikan seluruh hatinya pada Surya. Tapi rasa kehilangan membuat Raina sedikit takut, ia tak ingin terlalu mencintai manusia


Raina berkata dalam hatinya, "Andai gue bisa kasih seluruh hati gue buat lo, gue kasih deh... Tapi kehilangan berkali-kali mengajarkan sesuatu buat gue. Gue nggak boleh terlalu mencintai manusia, karena ada pertemuan pasti ada perpisahan."


Maxime yang sedang lewat tak sengaja melihat pemandangan itu, ia langsung berhenti sejenak dan terdiam. Ada sebuah rasa yang tak bisa di jelaskan.


Maxime membatin, "Kenapa perasaan gue kacau gini sih! Padahal bukan ini tujuan gue sebenarnya. Tapi gue bener-bener nggak rela rasanya lihat mereka berdua saling suka. Apa jangan-jangan, gue suka sama Raina?"


Ting...


+62xxxxxx


Kerjaan lo ngapain aja sih! Nggak becus ya! Gue suruh lo apa?


Sebuah pesan masuk, pesan itu memaki-maki Maxime. Tentu saja Maxime kesal dengan isi pesan itu.


Maxime


Hanya karena lo lebih tua dari gue, bukan berarti gue nggak berani ya! Ketikan di jaga!


+62xxxxx


Nggak usah sombong! Lo masih di bawah gue!


Ingin rasanya Maxime membanting ponselnya karena kesal. Bisa-bisanya ada orang lain yang merendahkannya begitu saja.


Maxime


Ya, lo yang tertinggi! Lo yang paling agung dan lo yang paling pinter! Tapi, JANGAN GANGGU ACARA STUDY TOUR GUE SIALAN!!!


Maxime langsung memasukkan kembali ponselnya karena kesal, ia pergi ke tempat lain untuk mencari suasana lain.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Mba bobrok kita, Nana....




Mba-mba fashionista, Diva....




Ade polos dan kalem, Naya....