My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Luka



Surya langsung memeluk istrinya gemas karena kata-kata Raina yang begitu bijak, "Mmm nggak salah ayah bunda milihin istri, pen cium boleh?" tanya Surya dengan nada manja.


Cupp...


Ciuman singkat mendarat di pipi Surya, "Udah yuk ke sana!" ajak Raina sambil tersenyum manis.


"Astagfirullah, jantung nggak aman! Ayo balik ke poli jantung!" gurau Surya.


Raina memukul pelan pundak Surya, "Ih serius napa Ay! Ayo kesana dulu, kalo bercanda mulu, gue antar ayo!" ajak Raina.


"Ayo!"


"Ke kamar mayat!"


"L-lah, jangan! Udah ayo kesana ya sayang, jangan ngambek. Udah yaaa..." bujuk Surya yang sedikit merinding ketika mendengar kata kamar mayat.


Raina memutar bola matanya jengah, "Udah ayo kesana buruan! Jan main-main aja!" kesal Raina. Raina menarik tangan Surya untuk menghampirinya Ara.


"Selamat sore pak, permisi kalau boleh tau, ini ada apa ya?" tanya Surya dengan sopan.


"Selamat sore mas, jadi mbak ini melanggar peraturan lalu lintas untuk mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dijalan raya, juga beberapa kali menerobos lampu lalu lintas." Polisi itu menjelaskan, Ara tampil pucat pasi karenanya.


Mata Raina fokus pada darah yang menetes dari tangan Ara. Raina sedikit mendekat pada Surya dan berbisik, "Kamu bisa urus polisi ini? Ara biar aku yang tanganin!"


"Tapi kan..."


Raina mengode Surya dengan beberapa tatapan hingga akhirnya Surya mengalah. Surya mengajak rundingan para polisi itu, sementara Raina menatap Ara dari atas sampai bawah.


"Lo ngapain kesini? Dan kenapa penampilan lo kacau kayak gini?" tanya Raina yang masih menatap Ara dari atas sampai bawah.


"Bukan urusan lo!" bentak Ara. Ara hendak berbalik dan pergi, namun tangan Raina menahannya dan mengenai luka di telapak tangannya, "Aw..." Ara meringis menahan sakit.


"Oh sorry, kenapa? Kok bisa luka sih?" tanya Raina khawatir.


Ara menyembunyikan tangannya, "Ng-nggak papa, bukan urusan lo! Pergi sana!" Ara tetap kekeuh menyuruh Raina pergi.


Raina memutar bola matanya jengah, "Lo jangan kepala batu kenapa sih! Gue ini niat mau bantuin lo!" tegas Raina karena semakin kesal.


Selesai berunding, Surya menghampiri Raina dan Ara. Dengan tiba-tiba Surya menarik tangan Ara dan melihat luka di tangan Ara.


"Ra, lo terluka? Ini kenapa?" tanya Surya.


Ara spontan menarik tangannya dari tangan Surya. Raina sudah melihat luka itu, "Ra, mending lo obatin dulu gih lukanya. Jangan lo biarin aja, lo masih manusia, gue yakin kalo itu sakit!" pinta Raina.


"Gak usah sok khawatir deh sama gue! Gak usah ngurusin hidup orang!" bantah Ara.


"Ra! Kita bener-bener peduli sama lo! Lo jangan kayak gini lah!" Surya tak kalah tegas memperingatkan Ara.


Raina langsung menarik Ara pergi ke kantin rumah sakit, Surya mengikuti dari belakang. Ara meringis ketika Raina menarik tangannya yang luka, sedangkan Raina sengaja menarik tangan yang luka agar Ara menurut.


***


Di Kantin Rumah Sakit


"Lo duduk di sini! Diem atau gue tampol lo lama-lama kalo gue kesel!" geram Raina. "Ay, beliin minuman dong! Gue sekalian ya!" pinta Raina.


"Siap ibu negara!" jawab Surya antusias.


"Mmm, tapi gue kan bukan ibu presiden Ay..."


"Itu cuma panggilan Na! Nggak harus berarti lo itu ibu presiden. Kalo masih protes aja, pemilu tahun depan gue nyalon jadi presiden aja lah!" geram Surya yang gemas.


"Lah jangan, katanya mau jadi dokter? Eh udah-udah, buruan! Jangan tunda-tunda lagi!"


"Lo sebenarnya yang buat semua ketunda sayang..."


"Ish bodo lah! Gue pergi dulu!"


Raina pergi menuju ke apotek untuk membeli beberapa obat-obatan P3K. Raina kembali dengan sedikit berlari, ia langsung memberikan obat-obatan itu ke Surya. "Nih, buruan obatin tangan Ara!" pinta Raina.


"Lah iya, gak kepikiran!"


"Jangan!" sela Ara, "Gue nggak suka dirawat dokter! Lo aja yang obatin, gue takut kalo disuntik!" bantah Ara.


"Ra, lo kena luka luar, luka di tangan, bukan demam. Tapi bisa jadi disuntik sih kalo ini luka gara-gara besi," ujar Surya yang semakin membuat Ara takut.


"Nggak! Jangan! Gue bener-bener takut sama jarum suntik, udah lo obatin aja! Ini cuma kena pecahan porselen mangkuk doang! Udah lo obatin aja!" pinta Ara dengan sungguh-sungguh.


Surya akhirnya menurut, ia mengeluarkan obat-obatan itu dari kantung plastik dan mulai membuka alkohol lebih dahulu untuk membersihkan luka ditangan Ara, spontan Ara menutup hidungnya karena ia benar-benar benci dengan bau obat-obatan rumah sakit.


Raina merangkul Ara dan mengarahkan wajah Ara ke badannya agar Ara tak bisa melihat Surya yang membersihkan lukanya.


"Hati-hati Ay! Pelan-pelan!" pinta Raina khawatir.


"Iya sayang..."


"Awas itu pelan-pelan! Sakit itu! Itu luka gede ya!"


Surya menatap Raina, "Iya sayang, udah ya diem. Biar Mas Surya obatin dulu lukanya ya!" pinta Surya dengan halus.


Raina ngilu sendiri melihat Surya membersihkan luka Ara, "Awas... Pelan-pelan heh! Itu sakit!"


"Iya tau! Ini udah pelan-pelan! Lo diem tolong, gue butuh konsentrasi tinggi ini!" keluh Surya yang mulai jengkel.


"Iya-iya...” jawab Raina. Surya kembali mulai membersihkan luka Ara, Ara mer*mas baju Raina karena menahan sakit dan perih. "Heh pelan-pelan! Ini anak orang!"


Surya sudah jengkel, "Iya ini gue udah hati-hati, udah pelan-pelan juga Ya Allah! Tolong diem!"


"Ya gue kan ngingetin doang, kok lo nge-gas sih!"


"Ya karena lo bawel banget!"


"Lah, kok ngatain gue bawel sih? Gue cuma kasih tau biar pelan-pelan! Itu luka nggak kecil, hati-hati dong!"


"Iya gue tau, makanya gue perlu konsentrasi tinggi Na! Lu malah ngomel aja dari tadi!"


"Ya kan gue kasih tau, ini anak orang bisa ngerasain sakit ya! Kalo kesenggol lukanya gimana? Kalo infeksi gimana? Kalo mati gimana?!" tanya Raina yang kian khawatir.


"Asalkan gue tanganin dengan hati-hati ga bakal mati neng! Udah diem ya!"


"Iya-iya, gitu doang ngambek, yee..."


Surya menaruh kembali kapas dan alkohol ditangannya, "Ya udah lo aja deh yang bersihin! Udah males gue!" kesal Surya.


"Gue anak IPS pengen jadi Hakim, kenapa malah tanganin luka orang? Mana bisa? Lo pikir, luka bisa sembuh kalo gue bacain undang-undang?" tanya Raina yang ikut kesal.


"Ya abis lo bawel banget sih! Udah biarin gue yang bekerja napa sih!"


"Ya iyalah lo yang kerjain, masa gue? Katanya pengen jadi dokter. Belajar ini!"


"Ya gue udah belajar, lu ngoceh mulu sih!"


"Hais! Diam!" bentak Ara yang ikut kesal karena perselisihan Raina dan Surya. "Lo berdua kenapa malah ribut sih? Kalo pada nggak mau, sini alkoholnya! Gue bersihin sendiri, gue pake cuci tangan sekalian alkoholnya! Ribet banget sih!" kesal Ara.


"JANGAN!" ucap Raina dan Surya secara bersamaan.


"Udah sekarang mau diobatin apa nggak? Kalo nggak, gue mau pergi!" ujar Ara.


"Iya di obatin, Ay cepetan!" celetuk Raina.


"Iya, diem ye lo! Jangan bawel dulu, gue sumpel pake perban mau lo?" ancam Surya yang kesal.


"Ye jangan! Ntar nyium lo gimana?"


"Lah iya, ah dahlah! Gue mo obatin dulu!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏