My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Balas Dendam



Mamanya pun membalas pelukan putri tunggalnya itu, "Papa Ra... Papa..." ucap Mama Ara disela tangisnya.


"Papa kenapa ma? Papa kenapa?"


"Hiks... Papa kamu khianatin kita semua! Hiks..." ucap mamanya yang tersengal-sengal karena masih menangis.


"Berkhianat? M-maksud mama?"


"Papa kamu selingkuh Ra! Papa kamu selingkuh, hiks..."


Mama Ara sudah menangis dan hampir tak sanggup menjawab pertanyaan putrinya itu. Ara terdiam tak berani bersuara, ia serasa tersambar petir di siang hari.


"M-mana mungkin papa selingkuh ma... Mama pasti salah dengar atau salah informasi, itu nggak mungkin!" Ara tetap membantah tak percaya dengan apa yang dikatakan.


"Hiks... I-itu bener Ra, mama lihat sendiri hiks, tadi di ponsel papa kamu. Hiks..." Mama Ara tidak berhenti menangis.


Ara membantu mamanya berdiri dan duduk diatas kasur, Ara membaringkan mamanya pelan-pelan dan menyelimutinya.


"Ma... Mama udah diem aja di sini, tenangin diri dulu ya! Ara ambilin air dulu!" pinta Ara dengan lembut.


Ara bergegas turun untuk mengambilkan mamanya air minum, di dapur dia bertemu dengan asisten rumah tangganya.


"Non, nyonya nggak papa kan? Dari pagi nyonya nggak keluar kamar, dan belum makan apa-apa non. Saya ketuk-ketuk pintu kamarnya tetep nggak ada respon," jelas salah satu asisten rumah tangga Ara.


Ara terkejut mendengarnya, "Ya sudah tunggu apa lagi? Buatin bubur bi, agak cepet ya! Apa beli aja, yang penting cepet!" pinta Ara.


"Siap non..."


Ara naik keatas dengan nampan berisi air dan beberapa buah-buahan. Ia menyuapi mamanya beberapa buah, setelah itu ia kembali turun untuk mengambil bubur yang sudah disiapkan.


"Ini non buburnya..."


"Iya makasih bi..."


Cklek...


Pintu rumah terbuka saat Ara hendak kembali ke kamar mamanya dengan semangkuk bubur ditangannya.


"Ara, mana mama kamu? Saya perlu bicara!" tegas seorang wanita dengan dress longgar yang memperlihatkan perutnya yang sedikit buncit itu.


"T-tante Citra? Ada perlu apa tan? Papa kan di kantor, m-mau bahas masalah apa sama mama? Mama lagi nggak enak badan tan..." jawab Ara yang sedikit gugup.


Wanita cantik dengan tubuh putih mulus itu bernama Citra, wanita berusia 27 tahun yang masih single dan menjadi sekretaris pribadi Ayah Ara di kantor.


Citra tersenyum manis menanggapi kata-kata Ara, "Ara... Kamu harus ikut seneng ya, soalnya mau punya saudara tiri."


Pikiran Ara mulai kemana-mana, tapi Ara masih berusaha positif thinking. "M-maksud Tante apa ya? Ara nggak paham."


"Kamu lihat dong... Di perut Tante Citra yang cantik ini, ada calon adek kamu. Ini anak papa kamu loh..." ujar Citra tanpa rasa malu ataupun ragu.


Ctaarrr....


Seketika, bubur ditangan Ara langsung jatuh hingga mangkuknya pecah. Perihnya serpihan mangkuk yang mengenai kaki Ara tak lagi terasa, hatinya lebih sakit mendengar kata-kata Citra. Ara terdiam tak percaya dengan kata-kata Citra.


"Tanta jangan aneh-aneh deh... Nggak mungkin, itu bukan anak papa aku! Tante bohong, papa itu pria yang baik, nggak mungkin hamilin Tante! Pasti Tante cewek yang nggak baik, hamil diluar tapi ngaku sama papa aku! Iya kan!" bentak Ara dengan emosi yang mulai kacau.


Plakkk....


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Ara. Sakit dan panas, itu yang terasa di pipi Ara. Tapi sayangnya, rasa sakit hatinya lebih dari apapun.


Tak... Tak... Tak...


Mama Ara pelan-pelan turun berjalan menghampiri Citra dengan anggun dan mencoba tetap tegar.


Plakkk...


Mama Ara membalas tamparan Citra atas putrinya, "Atas dasar apa kamu berani menampar saya? Seburuk-buruknya putri saya, dia tidak mur*han dan tidak merebut suami orang seperti kamu! Lantas kenapa kamu tampar putri saya?!" bentak Mama Ara yang berdiri didepan Ara untuk melindungi Ara.


"Ahh..." keluh Citra sambil memegangi pipinya yang tertampar. "Bukan saya yang mur*han, tapi suami kamu yang memaksa saya!" bantah Citra.


"Wanita dilahirkan dengan otak! Meski pria memaksa, wanita bisa menolak atau justru pergi! Dan kamu malah memilih menerimanya, kamu bodoh! Dasar perebutan suami orang!" ucap Mama Ara dengan nada yang kian meninggi.


Mama Ara tak lagi bisa menahan kesabarannya, ia menjambak rambut Citra kuat-kuat kebelakang. "Dasar kamu wanita matre! Wanita m*rahan! Dasar wanita nggak punya harga diri! Kamu j*lang, mati saja kamu!"


Citra memegangi kepalanya yang sakit karena terjambak, Ara yang panik langsung memanggil satpam.


"Pak! Tolong pak! Ma udah ma, biarin!" Ara berusaha menengahi pertengkaran ini, namun ia malah terpental kebelakang dan tangannya mengenai pecahan mangkuk. "Aw..." Ara meringis menahan sakit dan perih.


Sesegera mungkin satpam datang dan melerai Mama Ara dengan Citra. Satpam langsung menyeret Citra keluar secara paksa.


"Dasar! Tunggu saja! Kamu bakal kehilangan suami kamu, karena calon anak kami sudah berusia 7 bulan, dan kamu nggak bisa hentikan pernikahan kami! Lihat saja!" teriak Citra yang berusaha memberontak.


Satpam terus menyeret keluar Citra, di luar, Citra langsung berjalan dengan kasar pergi meninggalkan rumah mewah itu. Sementara Mama Ara langsung lemas begitu mendengar kata-kata '7 Bulan'.


"7 bulan? Serapi itu papa nyembunyiin semuanya? J-jadi..."


Bruk...


Mama Ara langsung jatuh pingsan diatas lantai. Ara langsung panik melihat mamanya tergeletak lemas seperti itu.


"Pak! Pak satpam! Tolong cepat bantu saya! Bawa mama ke mobil saya cepat!" teriak Ara spontan.


Para sopir menawarkan untuk mengantar ke rumah sakit, Ara menolak dan memilih menyetir sendiri mobil sportnya agar lebih cepat.


"Ma... Mama tolong bertahan ma, jangan kenapa-kenapa! Ara nggak sanggup hidup lagi kalo mama kenapa-napa!" gumam Ara sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Mobil polisi tampak mengikuti Ara karena cara menyetir Ara yang dianggap ugal-ugalan. Ara tak perduli dan terus melaju menuju rumah sakit.


***


Di Rumah Sakit


Begitu Ara turun dari mobil, beberapa polisi menghampirinya. "Selamat siang mbak, mbak tau nggak apa kesalahannya?" tanya seorang polisi.


"Diam pak! Daripada banyak omong, bantu mama saya pak tolong! Mama saya lagi sakit!" bantah Ara.


Beberapa polisi pun langsung membantu membawa Mama Ara ke IGD agar segera ditangani, begitu selesai, polisi masih menanyakan kartu identitas Ara.


"Mohon maaf mbak, walau tadi adalah situasi genting, tapi mengebut di jalan raya adalah tindakan yang salah. Boleh saya melihat kartu identitas dan SIM mbaknya?"


Tangan Ara terasa perih karena terluka, ia merogoh sakunya dan lupa tak membawa dompet apalagi uang karena buru-buru.


"Maaf pak saya nggak bawa, ketinggalan di rumah. Hp aja saya nggak bawa pak! Mohon maaf ya pak, ya..." bujuk Ara yang sedikit panik karena tak bawa apapun.


Ara berusaha berdiskusi dengan para polisi, di sisi lain ada Raina dan Surya yang sedang berjalan santai keluar dari dalam rumah sakit.


"Lah, itu si Ara kan? Kenapa dia? Kok ada polisi juga?" tanya Raina sambil menunjuk ke arah Ara.


Surya pun mengikuti arah tunjukkan Raina, "Hah? Udahlah biarin, males gue sama dia. Biarin aja, tiap orang punya urusan masing-masing."


"Coba kita samperin, siapa tau dia ada masalah kan?" tanya Raina.


"Na, Na... Dia itu udah jahat banget sama lo, kenapa sih lo masih baik banget jadi orang?!" tanya Surya yang heran.


"Sebagai manusia gue cuma bisa belajar dari kesalahan dan maafin kesalahan orang, tapi gue nggak ngelupain rasa kekecewaan gue buat Ara. Apa salahnya kita bantuin kalo emang ada masalah? Balas dendam terbaik itu, kita buktiin kalo kita lebih baik dari dia Ay..." jawab Raina dengan santai.


Surya langsung memeluk istrinya gemas karena kata-kata Raina yang begitu bijak, "Mmm nggak salah ayah bunda milihin istri, pen cium boleh?" tanya Surya dengan nada manja.


Cupp...


Ciuman singkat mendarat di pipi Surya, "Udah yuk ke sana!" ajak Raina sambil tersenyum manis.


"Astagfirullah, jantung nggak aman! Ayo balik ke poli jantung!" gurau Surya.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Jangan lupa follow Ig ku ya!


@diagaa11