My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Maksudnya?



"Ara, apa benar kamu mencelakai Amel dengan menaruh pelicin lantai secara sengaja agar Amel jatuh?" tanya Bu Arum.


Ara membelalakkan matanya terkejut mendengar pertanyaan Bu Arum. Tiba-tiba saja ia sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan itu.


"Ara jawab!"


Ara gugup dan mulutnya seolah kelu, ia bingung harus apa saat ini. "M-maksud ibu apa ya? Saya nggak ngerti, saya kan saksi bu..."


"Tapi ada orang lain yang kasih kesaksian kalo kamu pelakunya, kamu juga dituduh memindahkan Rahma secara sengaja karena Amel adalah satu-satunya saksi yang sebenarnya saat itu."


Ara semakin gugup, ia tak mengira rencananya bisa berantakan seperti ini. "Bu, ibu pasti salah paham. Buat apa sih saya lakukan itu semua? Ibu tau sendiri kan saya ini seperti apa di sekolah?"


"Ya masalahnya, gak semua orang memiliki sifat yang sama Ara... Ada juga manusia yang beda tempat beda sifat, makanya ibu tanya sama kamu."


"T-tapi saya nggak mungkin ngelakuin itu bu... Itu pasti fitnah, saya nggak ngelakuin hal itu bu!" Ara tetap bersikeras membantah untuk menutupi kesalahannya.


"Ara lebih baik kamu jujur, di sini disaksikan banyak orang dan bukti, saksi juga korban ada. Hal yang diucapkan para saksi dan korban sama Ra, kalo kamu jujur mungkin hukumannya nggak akan terlalu berat Ra..." Bu Arum tetap gigih membujuk Ara untuk jujur.


Ayah Ara bolak-balik menutupi wajahnya dengan kedua tangannya seolah-olah malu dengan kejadian ini.


"Ara... Kamu jujur aja, jangan buat masalah ini semakin rumit. Semua bukti sudah mendukung nak," Bu Arum masih berharap kalau Ara akan mengaku dengan sendirinya.


Ara semakin bingung dan terpojok, ia semakin tertekan saat melihat orang-orang menatapnya sambil diam-diam membicarakannya.


"Terserah ibu mau gimana. pokoknya saya nggak mau ngaku sama masalah ini! Saya nggak salah, itu semua kecelakaan bukan sengaja!" bentak Ara yang semakin terpojok.


Bu Arum terkejut dengan jawaban Ara, "Apa maksudnya kecelakaan? Awal pertama masalah ini, kamu bilang kalo semua ini sengaja dan dilakukan Raina. Kenapa sekarang berubah?"


"M-maksud saya nggak gitu bu, s-saya bisa jelasin semuanya. Saya nggak buat semua kecelakaan ini bu!"


Ara tak henti-hentinya membantah ucapan Bu Arum. Namun Bu Arum justru semakin yakin kalau pelakunya adalah Ara.


"Baik Ara kamu bisa kembali ke kelas dulu, kita lakukan pertemuan lagi minggu depan ya!"


Bu Arum mengantarkan Ara keluar dengan baik-baik. Setelah itu Bu Arum kembali melanjutkan pertemuan tadi.


Ara berjalan dengan pandangan kosong dan seperti orang lemas tak berdaya. Sesekali ia menabrak anak lain karena tak fokus.


"Gimana nih, kalo sampe ketahuan bahaya. Reputasi gue bakal hancur, dan mama papa pasti malu. Gue pasti jadi hinaan 1 sekolah, apa yang harus gue lakuin sekarang!" pikir Ara yang masih bingung.


Tanpa sadar ia berjalan menuju parkiran mobil, ia berjalan tak fokus karena otaknya tengah berpikir keras. "Siapa sih yang sebenarnya laporin gue? Rahma kan udah gue singkirin juga, siapa yang berani ngelakuin itu semua?"


"Gue!"


Mendengar sahutan seseorang, Ara menengok dan mencari sumber suara tersebut. Amel melihat Ara dengan sinis sambil bersandar dimobil.


Ara terkejut dan langsung menghampiri Amel dengan akting terbaiknya, "Amel, lo kok ke sini? Ngapain? Emangnya udah sembuh ya? Ayo aku anter kedalam mobil, baru aja nanti sore gue mau jenguk lo."


Amel spontan menepis tangan Ara yang hendak meraihnya, "Jangan sentuh gue! Gue alergi sama pengkhianat!" kata Amel dengan sinis.


"Hah? M-maksud lo apaan sih, gue gak paham sama kata-kata lo."


"Gue gak suka sama pengkhianat! Jelas?!" tanya Amel dengan nada yang sangat ia tekankan.


"Pengkhianat apaan sih Mel! Aneh banget lo hari ini? Oh efek sakit kali ya, ya udah masuk dulu dan segera balik ke rumah sakit dulu biar segera pulih."


"M-maksudnya?"


"Udah deh gak usah berlagak ****, gue tau semuanya kok Ra. Termasuk kalo lo sengaja taruh pelicin lantai di tangga kan? Awalnya mungkin sasaran lo bukan gue, tapi kenapa lo malah manfaatin buat jatuhin orang lain. Lo itu payah tau nggak?" tanya Amel to the point.


"Maksud lo apaan sih!" nada Ara yang semakin meninggi karena kesal.


"Lo payah, nyingkirin saksi tapi nggak nyingkirin gue. Awalnya gue selalu anggep lo kayak kakak gue sendiri, tapi gue sadar kalo kakak gak bakal sakitin adiknya sendiri!" Amel berkata sinis pada Ara.


"Mel... Gue gak maksud, itu salah Rahma... Dia jalan dan gak sengaja tumpahin pelicin lantai, bukan gue yang ngelakuin itu semua!"


Amel memutar bola matanya jengah dan tersenyum sinis, "Jangan sok suci! Gue pengen banget nampar lo, tapi gue sadar kalo manusia gak boleh jahat sama binatang."


Ara mengepalkan tangannya erat, "Jaga mulut lo!" Ara mengangkat tangannya hendak menampar Amel, namun ia menahannya.


"Kenapa? Mau tampar? Tampar aja gak papa, kayaknya nanti ayah gue gak bakal kesulitan buat jadi penuntut lo di pengadilan. Sekuat-kuatnya pengaruh ayah lo, hukum negara ini masih lebih kuat! Pak ayo pergi sekarang, saya bingung mau lihat muka dia yang mana. Balik ke rumah sakit pak!" ujar Amel kesal.


Amel pergi begitu saja, sedangkan Ara mengepalkan tangannya. Ia benar-benar ingin marah dan memukuli seseorang saat ini.


Ara berjalan pergi dengan kepala yang penuh pikiran dan emosi yang tak stabil. Tak sengaja ia bertemu Raina di koridor.


"Eh ada Ara..." sapa Raina dengan nada meledek.


Ara yang masih marah pun terpancing, ia berhenti dan berdiri menghadap Raina secara langsung. "Ini semua gara-gara lo tau nggak! Gara-gara lo, hidup gue berantakan!"


"Jangan jadikan kesalahan lo sendiri buat pembenaran atas apa yang udah lo lakuin! Lagian kalo lo nggak mulai, mana mungkin kayak gini?" tanya Raina santai.


"Atas dasar apa s*mpah kayak lo hancurin hidup gue, bahkan bikin gue kacau. Gue bakal buat lo nyesel atas semuanya!" ancam Ara dengan amarah yang berkobar.


Raina menunjukkan smirk-nya, "Sedetail apa lo tau tentang hidup gue hingga lo berani ngomong gitu?" tanya Raina santai. Raina mundur selangkah dari depan Ara.


Raina menunjuk ke sebuah arah, "Eh liat!" spontan Ara melihat apa yang ditunjuk Raina. "Anj*ng pintar, gue pergi dulu bye..."


Raina melenggang dengan anggun meninggalkan Ara yang marah dan memaki-maki Raina. Raina hanya menanggapinya dengan senyuman manis.


"Ish... Kayaknya kiamat udah deket deh, sekarang hewan bisa ngomong, segera tobat aja deh gue" pikir Raina.


***


Di Rumah Ara


Ara pulang lebih telat untuk menghindari pertemuan dengan ayahnya. Ia celingukan melihat situasi sebelum masuk kedalam rumah.


"Ngapain di situ? Masuk!"


Suara itu membuat bulu kuduk Ara berdiri. Dengan terpaksa Ara memberanikan diri masuk kedalam rumahnya.


"H-hai ayah..." sapa Ara gugup.


Plakkk....


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE πŸ™


Maaf sekarang jarang up, aing ujian ganπŸ™ Mohon toleransinya man-teman πŸ™